
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (Ar-Rum/30:21)
Rumah bukan sekadar tempat berteduh; ia adalah ruang batin tempat jiwa beristirahat, tempat setiap anggota keluarga menambatkan rasa aman dan kasih. Dalam tradisi Islam, rumah disebut sakan—seakar dengan kata sukūn, yang berarti tenang. Maka, rumah sejatinya adalah tempat ketenangan (litaskunū ilaiha). Namun, sering kali rumah justru menjadi ruang paling gaduh, bukan oleh kebisingan luar, melainkan oleh suara yang datang dari dalam—teriakan, keluhan, atau nada tinggi yang tanpa disadari menciptakan badai kecil di hati anak-anak.
Contents
Ibu sebagai Nahkoda Rumah
وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. (HR Bukhari)
Ungkapan “Ibu nahkoda rumah” merupakan refleksi atas kenyataan psikologis dan spiritual, ibu memiliki daya pengaruh emosional paling kuat terhadap suasana rumah. Ketika ibu tenang, rumah bergetar dalam frekuensi yang sama penuh keteduhan. Namun ketika ibu marah, energi emosional itu menjalar ke seluruh anggota keluarga, terutama anak.

Seorang ibu mungkin berkata dengan nada tinggi kepada ayah: “Gas habis!” Nada itu lahir dari kebutuhan dirinya—ingin cepat diselesaikan—tanpa memikirkan kebutuhan emosional lawan bicaranya. Ia berbicara untuk melepaskan beban, bukan untuk berkomunikasi. Maka, bukan solusi yang datang, tapi tegangan. Dari hal kecil seperti ini, rumah kehilangan sukūn-nya.
Dalam psikologi komunikasi keluarga, tone of voice ibu pada pagi hari menjadi penentu ritme emosional sepanjang hari. Jika pagi diawali dengan teguran lembut dan ucapan syukur, hormon oksitosin dan serotonin meningkat, menciptakan suasana optimis bagi anak dan pasangan. Sebaliknya, ketika pagi dibuka dengan bentakan, tubuh merespons dengan memproduksi kortisol (hormon stres) yang berdampak pada sistem saraf anak.
Ketika Amigdala Anak Naik
Anak merupakan makhluk paling sensitif terhadap atmosfer emosional di rumah. Dalam neuropsikologi, bagian otak yang bernama amigdala berfungsi mengenali ancaman dan mengatur respons emosional. Ketika ibu marah atau berteriak, amigdala anak langsung aktif, tubuhnya siaga, napasnya cepat, dan kortisol (hormon stres) melonjak.
Dalam kondisi seperti itu, anak menghadapi dua pilihan naluriah: fight (melawan) atau flight (menghindar/pergi). Jika ia memilih melawan, kita akan menyebutnya “anak keras kepala”. Jika ia memilih pergi, kita menyebutnya “anak pendiam”. Padahal, keduanya adalah reaksi bertahan hidup atas atmosfer emosional yang tak menenangkan. Ketika keadaan ini terus berulang, anak kehilangan ruang aman (safe space) di rumah. Ia akan mencari ketenangan di luar—pada teman, gawai, atau dunia maya karena rumah tak lagi menjadi tempat istirahat jiwanya.
Setiap keluarga memiliki peta cinta yang unik. Ibu merasa dicintai jika ayah bersikap rapi dan peduli pada detail; ayah merasa dicintai ketika dihargai dan dipercaya. Konflik muncul ketika “bahasa cinta” ini tidak saling terbaca. Seorang ibu perfeksionis bisa gusar hanya karena handuk diletakkan sembarangan. Bagi ayah, itu sepele; bagi ibu, itu simbol ketidakteraturan. Dari hal-hal kecil semacam itu, percikan konflik emosional bisa menjadi bara.
Padahal, sejarah setiap hubungan selalu menyimpan misteri, mengutip perkataan salah satu guru kami, “Begitulah sejarah bekerja, ia selalu meninggalkan sedikit misteri agar kita tetap mau mencarinya.” Hubungan keluarga juga demikian, ia menuntut pencarian terus-menerus terhadap makna saling memahami, bukan saling menuntut.
Kasih Ibu dan Cinta Anak
Kita sering mengulang pepatah lama, “Kasih ibu sepanjang zaman, kasih anak sepanjang galah.” Ungkapan ini seolah menegaskan bahwa kasih anak lebih pendek, terbatas. Padahal, dalam Islam, kasih anak justru berlanjut hingga akhir hayat orang tuanya. Doa anak saleh yang terus mengalir setelah orang tuanya wafat menjadi bukti bahwa cinta anak tidak berhenti di dunia. Rasulullah saw bersabda, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” Cinta anak, dengan demikian, adalah cinta yang melampaui batas ruang dan waktu.
Ada kalanya, kepekaan ibu justru menjadi jebakan. Misalnya ketika seorang anak bertanya polos, “Bunda, ML itu apa?” Ibu yang mudah panik mungkin akan berpikir jauh—khawatir, curiga, bahkan takut anaknya sudah mengenal hal-hal dewasa terlalu dini. Padahal, jika ia bersikap tenang dan bertanya balik dengan lembut, “Kenapa, Nak?”, mungkin jawabannya akan sederhana: “Tadi Bu Guru nyuruh aku besok bawa air putih 250 ML.”
Kisah kecil ini mengajarkan sesuatu yang besar bahwa ketenangan ibu melahirkan kejernihan berpikir. Overthinking hanya memperbesar bayangan masalah yang belum tentu ada. Sementara sikap tenang menumbuhkan ruang dialog, tempat anak merasa aman untuk bertanya dan belajar. Rumah yang tenang bukan berarti tanpa suara. Ia bisa ramai oleh tawa, penuh percakapan, dan sesekali diwarnai tangis. Namun di dalamnya selalu ada keseimbangan antara kata dan rasa, antara marah dan maaf, antara tegas dan lembut.
Seorang ibu yang mampu menjaga ketenangan hatinya sebenarnya sedang membangun benteng kasih bagi seluruh keluarga. Sebab, dari kelembutan ibu, anak belajar mengelola emosi; dari kebijaksanaannya, anak belajar menyelesaikan masalah; dan dari ketenangannya, anak belajar menjadi pemenang bukan dalam arti mengalahkan orang lain, melainkan menguasai dirinya sendiri.
Pada akhirnya, ketenangan rumah bukanlah hasil dari kemewahan atau kesempurnaan, melainkan dari hati yang sabar, bahasa yang lembut, dan cinta yang terus berproses. Sebab, seperti air yang mengalir, ketenangan selalu dimulai dari sumbernya—dan dalam rumah tangga, sumber itu adalah ibu.
Baca Juga: 15 Peran Muslimah dalam Membangun Keluarga Sakinah
Oleh: Hari Prasetia (Alumni S2 UNHASY Tebuireng)
Editor: Muh. Sutan
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

