
Hidup di dunia tak lepas dari ujian. Begitu kiranya pesan utama yang saya tangkap dari Romo KH. Masykur Hafidz dalam pengajian alumni beberapa waktu lalu. Dalam menghadapi ujian itu, salah satu jalan yang diajarkan para ulama adalah ngaji menundukkan diri di hadapan ilmu.
Belajar ilmu itu penting, namun jangan sampai meninggalkan syariat. Pintarnya sudah, ngajinya sudah, tapi susah sedikit nggak sembahyang. “Ya ‘alim, ya ‘abid,” kata Romo Masykur. Dalam Islam, menuntut ilmu bukan hanya urusan memperkaya intelektualitas, tapi juga langkah menuju kemuliaan abadi di akhirat.
Dalam kajiannya di salah satu bab ilmu dalam Kifāyat al-Atqiyā’ wa Minhāj al-Aṣfiyā’[i] (1971: 134), Romo Masykur mengutip riwayat dari Imam Malik,[ii] bahwa setiap bab ilmu yang dipelajari seorang hamba akan mengangkatnya satu derajat di surga. Bahkan, mereka yang menuntut ilmu disebut sebagai pewaris para nabi. Kelak, orang-orang seperti ini akan dikumpulkan bersama para nabi di akhirat sebab mereka telah menghidupkan warisan tertinggi yakni ilmu.
Baca Juga: Keberanian Nabi Ibrahim Mencari Kebenaran
Namun, menjadi orang berilmu tentu bukan perkara mudah. Imam Syafi’i murid terbaik Imam Malik pernah mengeluhkan kepada gurunya, Imam Waki’, karena merasa hafalannya lemah. Sang guru hanya menyarankan satu hal: tinggalkan maksiat. Nasihat sederhana itu menjadi titik balik dalam hidup Imam Syafi’i, yang kemudian berhasil menghafal al-Muwatta’, karya monumental Imam Malik, pada usia yang sangat muda.

Dari pengalaman itulah lahir nasihatnya yang terkenal: “Siapa yang tidak pernah merasakan pahitnya belajar walau sesaat, maka ia akan menelan pahitnya kebodohan sepanjang hidup.” Dengan kata lain, belajar memang berat, tapi lebih berat lagi jika kita harus hidup dalam kebodohan.
Belajar dari Nabi Ibrahim: Ilmu, Keyakinan, dan Ujian Hidup[iii]
Ilmu tak hanya mengangkat derajat, tapi juga membentuk keteguhan dalam menghadapi cobaan. Kisah Nabi Ibrahim a.s. menunjukkan bagaimana seseorang yang berilmu akan selalu diuji keyakinannya. Sejak muda, beliau sudah menunjukkan kecerdasan dan kejernihan berpikir. Al-Qur’an mencatat bahwa ia telah diberi petunjuk dan hikmah (QS. Al-Anbiya’ [21]: 51; Maryam [19]: 43).
Pencarian Tuhan yang sejati menjadi bab awal perjalanan spiritualnya. Dalam QS. Al-An’am [6]: 75–79, Nabi Ibrahim mengamati bintang, bulan, dan matahari namun semuanya tenggelam. Ia pun menyimpulkan bahwa Tuhan sejati bukanlah ciptaan, melainkan pencipta langit dan bumi. Sejak saat itu, ia memilih jalan hanif, agama yang lurus.
Puncaknya, dalam QS. Al-Baqarah [2]: 260, Ibrahim memohon agar Allah menunjukkan bagaimana Dia menghidupkan orang mati. Allah menjawab permintaan itu dengan perintah untuk memotong empat burung, meletakkannya di atas bukit-bukit, lalu memanggil mereka. Burung-burung itu pun kembali hidup sebuah penguatan spiritual yang luar biasa bagi Ibrahim.
Namun keyakinan itu tidak membuat jalan hidupnya mulus. Beliau justru harus berhadapan dengan ayahnya sendiri, Azar, yang membuat dan menyembah patung. Ibrahim mempertanyakan logika penyembahan itu bagaimana mungkin benda yang tak bisa mendengar, melihat, atau menolong itu dijadikan sesembahan? Namun, sang ayah marah dan mengancam akan merajamnya (QS. Maryam [19]: 41-47).
Ibrahim kemudian berusaha membuka mata kaumnya dengan menghancurkan berhala-berhala dan hanya menyisakan satu patung besar. Saat ditanya siapa pelakunya, ia menjawab, “Tanyakan saja kepada patung besar itu!” Respons kaumnya murka dan membakarnya hidup-hidup. Tapi Allah menjadikan api itu dingin dan menyelamatkannya (QS. Al-Anbiya’ [21]: 69).
Baca Juga: Kisah Nabi Ibrahim yang Mencari Tamu hingga Berkilo-kilo Meter
Ujian terus berlanjut. Ia lama tak dikaruniai anak dari istrinya, Siti Sarah. Atas keikhlasan Sarah, Ibrahim menikahi Siti Hajar dan lahirlah Ismail. Namun kebahagiaan itu diuji kembali ketika ia bermimpi diperintahkan menyembelih Ismail. Ketika diminta pendapat, Ismail pun ikhlas. Al-Qur’an menyebut ini sebagai ujian yang nyata bala’ al-mubin (QS. Al-Shaffat [37]: 100–110).
Ketika Hidup Terasa Menyusahkan: Ngaji sebagai Jalan Pencerahan
Ujian dalam hidup memang tak bisa dihindari. Kadang kita tidak diberi anak misalnya, sebagaimana yang dialami Nabi Ibrahim, itu terasa berat. Ketika sudah punya anak, Ismail, diberi cobaan untuk menyembelihnya. Itu pun juga sangat berat.
Punya tangan bisa jadi beban bisa terluka, sakit, atau digunakan untuk maksiat. Tidak punya tangan juga menyulitkan tak bisa menulis, bekerja, atau memeluk orang terkasih. Hal yang sama berlaku untuk mata, telinga, uang, pasangan, bahkan anak. Punya repot, tidak punya sepi. Serba repot. Serba susah.
Fenomena ini mengingatkan pada ajaran Buddha yang menyebut hidup sebagai duhkha, penuh penderitaan. Filsuf Yunani kuno seperti Hegesias bahkan lebih pesimistis menilai bahwa kebahagiaan sejati mustahil dicapai karena tubuh rentan sakit, usia terbatas, dan keinginan manusia tak pernah tuntas. Albert Camus menulis tentang Sisyphus, tokoh mitologis yang dihukum mendorong batu ke atas bukit tanpa akhir sebuah simbol dari absurditas hidup yang berulang tanpa makna.
Pertanyaannya, apakah kita akan menyerah pada absurditas itu?
Di sinilah ilmu kembali memegang peran penting. Ngaji bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi upaya memaknai kenyataan hidup yang sering terasa absurd. Jika Camus menyerah pada absurditas, Islam justru mengajak menembus absurditas itu melalui ngaji.
Baca Juga: Menolak Memberi Makan Orang Majusi, Nabi Ibrahim Ditegur Allah
Ngaji membantu kita menakar rasa, memilah mana keluhan yang perlu disampaikan, dan mana yang harus dilampaui. Ia mengajarkan bahwa hidup tak melulu tentang senang atau susah, tapi tentang bagaimana kita memandang keduanya.
Maka dari itu, mari kembali pada ilmu. Kembali pada ngaji. Karena dengan ilmu, kita tidak hanya tahu apa yang terjadi, tapi juga mengerti bagaimana menyikapinya. Kabeh iku kudu di-elmoni lewat ngaji semuanya harus dimaknai lewat ilmu.
Wallahu a’lam bi al-shawwab.
Penulis: Achmad Fauzan
Editor: Rara Zarary
[i] Ini adalah kitab syarḥ (penjelas/komentar) dari kitab Hidāyat al-Adzkiyā’ Ṭarīq al-Awliyā’ karya Zayn al-Dīn bin ʿAbd al-Raḥmān al-Malībārī (w. 928 H) yang disusun oleh al-Syaikh al-Imām Abū Jābir Zayn al-Dīn Muḥammad ʿAṭā’ Allāh bin Muḥammad al-Bakrī (w. 1032 H).
[ii] Sumber aslinya penulis temukan dalam kitab Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī karya Ibn Baṭṭāl, jilid. 1, hlm. 134 (cet. 2, tahun 2003 M). Riwayat ini cukup panjang, dan statusnya bukan hadis yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw, melainkan “Khabar Maqṭū‘” atau bisa juga dikategorikan sebagai hikayat atau atsar dari kalangan tabi’in atau ulama setelahnya.
Ceritanya, Imam Malik bin Anas (w. 179 H) menasihati muridnya bernama Yahya bin Yahya al-Laitsi al-Andalusiy (w. 234 H) agar bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Untuk memotivasinya, Imam Malik menceritakan kisah seorang pemuda dari Syam yang datang ke Madinah untuk menuntut ilmu. Ia sangat gigih dalam menuntut ilmu hingga wafat dalam keadaan mulia.
Pemakamannya sangat mengesankan. Para ulama besar Madinah berkumpul dan ikut memakamkannya, di antaranya Rabi’ah, Zaid bin Aslam, Yahya bin Sa’id, dan Ibnu Syihab. Bahkan seorang pemimpin (emir) memberikan penghormatan khusus kepadanya.
Tiga hari setelah pemakamannya, seorang lelaki saleh bermimpi melihat pemuda Syam itu dalam rupa yang bercahaya, mengenakan sorban putih-hijau, menunggang kuda dari langit. Dalam mimpi itu, pemuda tersebut berkata bahwa karena ketekunannya dalam menuntut ilmu, Allah menganugerahinya derajat di surga yang hampir menyamai para ulama besar dan hanya dua tingkat di bawah Rasulullah saw.
Allah berfirman dalam mimpi itu bahwa para penuntut ilmu akan dikumpulkan bersama para nabi, diberi izin masuk surga, memberi syafaat, dan dimuliakan agar semua makhluk mengetahui kedudukan tinggi mereka.
Setelah kisah ini tersebar, banyak orang yang sebelumnya meninggalkan pencarian ilmu menjadi kembali semangat dan akhirnya menjadi ulama. Imam Malik menutup nasihatnya kepada Yahya dengan kata-kata penuh dorongan: “Allah, Allah, Yahya! Bersungguh-sungguhlah dalam hal ini!”
[iii] Terkait literatur ujian yang dialami para Nabi selain Ibrahim bisa merujuk pada Nasrin Rouzati, Trial and Tribulation in the Qur’an: A Mystical Theodicy, 2015.
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

