
Khutbah oleh: Dr. KH. Musta’in Syafii
Contents
اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا
اتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (الاحقاف:15).
أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ نَتَقَبَّلُ عَنۡهُمۡ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَنَتَجَاوَزُ عَن سَیِّـَٔاتِهِمۡ فِیۤ أَصۡحَـٰبِ ٱلۡجَنَّةِۖ وَعۡدَ ٱلصِّدۡقِ ٱلَّذِی كَانُوا۟ یُوعَدُونَ
Melanjutkan konsep Al-Qur’an tentang panduannya bagi orang yang sudah berusia 40 tahun. Dan bahasan kutbah kali ini seri ke-54. Ada enam panduan untuk bagi mereka yang telah berusia 40 tahun. Dalam hal ini kita akan membahas panduan yang ketiga, yakni وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ (semoga amal saya diridai Allah). Yaitu sebuah cara untuk mendowndload situs langit agar amal kita diridhai oleh Allah. Ayat ini menunjukkan amal salih diridhai Allah. Sehingga amal salih dibagi menjadi; diridhai dan tidak diridhai.
Melihat data yang disampaikan oleh badan kependudukan dunia (Word Population Review), bahwa tahun 2025 jumlah penduduk bumi adalah 8,16 miliar. Sekaligus pertumbuhan umat Islam sudah mencapai 2 miliar. Capaian jumlah umat Islam di Indonesia saat kemerdekaan sekitar 95%. Sementara saat tahun 1965 turun menjadi 90%. Penurunan terjadi lagi pada zaman orde baru yang menjadi 87%. Akhir-akhir sudah naik menjadi 87,1%.
Data itu bisa menjadi sumber pertanyaan mengapa kuantitas umat Islam mengalami penurunan? Apa mungkin karena peran ulama’ kini tidak memiliki jiwa patriotik sebagaimana ulama’ zaman dahulu? Berdasar analisa pribadi, bahwa komitmen ulama’ pada zaman ini terhadap keislaman masih rendah. Komitmennya dibangun untuk hal-hal yang bersifat toleran, serba mengalah. Akan tetapi kurang menjaga prinsip.
Coba lihat pergerakan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Beliau tidak memandang siapa pun dalam bidang sosial, padangannya adalah kemanusiaan. Buktinnya, satu-satunya kiai yang mewakafkan tanah untuk pasar—bukan untuk masjid, pesantren, atau lembaga yang lain—adalah beliau. Akan tetapi kalau soal teologi dan prinsip beliau memegang teguh. Mengapa dulu kalangan pesantren diharamkan memakai celana? Alasannya bahwa pemakaian celana itu tasyabbuh (menyerupai) orang kafir.
Hal itu semata-mata bukan soal keharaman celana saja, melainkan berguna untuk menumbuhkan sikap patriotisme. Sehingga kemudian pada saat putranya sendiri KH. Wahid Hasyim mendirikan nizamiyyah pada 1935, hingga diangkat menjadi menteri agama, dan berpakaian dengan celana, jas, dan dasi, Kiai Hasyim diam tanpa komentar. Sebab beliau tahu itu merupakan sebuah perkembangan.
Saya ingin memutar ulang sejarah pendirian negara ini. Bahwa pendirian bangsa ini tersusun dari komposisi kerja sama bagus antara pejuang yang di masyarakat melalui agama yang diwakili oleh hadratussyaikh bersama ulama’ lain, kemudian di kalangan nasionalis ada Soekarno, ditambah kalangan konglomerat Arab bernama Syaikh Farodj ibn Said ibn Awadh ibn Martak. Saya tidak ingin membicarakan keturunan Nabi, genetik, tes DNA dan lain-lain. Orang Arab itulah pemilik rumah Pegangsaan Timur di Jakarta yang diwakafkan untuk proklamasi kemerdekaan negeri ini.
Maka dapat dipahami bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia tidak hanya diperjuangkan oleh pribumi saja. Mereka non-pribumi yang sudah berdarah daging dengan negeri ini juga ikut berkontribusi. Ada seorang keturunan Arab bernama, Sayyid Hussein Al-Mutohhar. Beliau adalah penggubah lagu syukur, hari merdeka, termasuk hymne Pramuka, beliau juga penyusun acara pengibaran bendera (paskibraka). Semoga amal mereka diterima di sisi Allah, tanpa membeda-bedakan ras mereka.
Di sisi lain, ketika Soekarno ditahan oleh para pemuda di hari Rabu dan mendesaknya untuk segera memproklamirkan kemerdekaan, sebab berita internasional menginformasikan kemerdekaan Korea. Tetapi, Soekarno masih minta pendapat kepada Hadratussyaikh. Dan Kiai Hasyim memilih lusa, hari Jum’at. Itulah kehebatan seorang santri. Setiap langkahnya tidak hanya didasari tindakan rasional, melainkan sekaligus tidakan suprarasional. Saya ingat ketika mondok di Tebuireng tahun 70-an. Pengajian-pengajian di pondok ini selalu dibuka di hari Rabu atau Ahad. Karena hal ini mengikuti kurikulum Nabi. Sebab Nabi kebanyakan memulai majelis di hari Rabu. Model yang seperti ini terkadang tidak mudah dicerna secara rasional.
Coba kita lihat sekarang presiden dunia yang hafidz al-qur’an berapa? Pertama di Mesir ada seorang presiden bernama Muhammad Mursi, kedua Turki Tayyep Erdogan, Maladewa ada presiden bernama Ibrahim Shalih. Karena itu khutbah ini untuk menggugah kembali militansi seorang muslim. Apa komitmen kemerdekaan santri di momen kemerdekaan ini? apakah loyo-loyo? Apa umat Islam masih terus membiarkan atau menoleransi banyak hal?
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ,
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Ditranskip oleh: Yuniar Indra Yahya
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

