Menggali Pemikiran Hadratussyaikh, Mahasantri Sabet Juara 2 MQK Nasional

Menggali Pemikiran Hadratussyaikh, Mahasantri Sabet Juara 2 MQK Nasional


Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, foto bersama penghargaanya di depan gedung UINSA usai menerima juara 2 cabang lomba Musabaqoh Qiraatul Kutub (MQK) tingkat nasional. (dok. istimewa)

Tebuireng.online— Moch. Ali Fahmi, Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, berhasil menyabet prestasi membanggakan di kancah nasional. Lelaki kelahiran 10 Januari 2006 asal Banyuwangi ini meraih juara 2 dalam ajang Musabaqah Qira’atul Kutub (MQK) tingkat nasional yang digelar dalam rangkaian Icon Fest oleh Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Ampel Surabaya.

Kompetisi yang berlangsung secara daring sejak 1 Agustus hingga 10 September itu diikuti peserta dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia. Tidak hanya mahasiswa UIN, namun juga dari beragam kampus lain. Fahmi, begitu ia akrab disapa, menjadi salah satu yang mampu menembus persaingan ketat tersebut.

Baca Juga: Bacakan Puisi Santri dan Kiai, Mahasantri Sabet Juara 3 Tingkat Nasional

Menurut penuturannya, MQK kali ini cukup unik. Peserta tidak hanya dituntut membaca kitab sesuai kaidah nahwu-sharaf, melainkan juga menganalisis pemikiran mushannif dan mengaitkannya dengan teori-teori dalam Bimbingan dan Konseling.

“Kemarin kitab yang saya baca adalah karya Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Panitia menyediakan beberapa pilihan kitab, seperti Washaya al-Abaa’ lil Abnaa’ karya Syaikh Muhammad Syakir, Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari, dan Nashoihul ‘Ibad karya Imam Nawawi Al-Bantani,” jelas Fahmi saat diwawancarai melalui saluran pesan WhatsApp, Rabu (17/9/2025).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Perjalanan Fahmi hingga ke panggung juara berawal dari kegemarannya menulis di komunitas Kupuireng (Kumpulan Penulis Tebuireng). Salah satu tulisannya, berjudul Dilema Seorang Murid, membuatnya semakin tertarik mengkaji pemikiran KH. Hasyim Asy’ari. Ketika mendengar kabar adanya lomba MQK tingkat nasional, ia merasa tertantang untuk ikut serta.

“Lomba ini memberikan kesempatan bagi saya untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai pemikiran KH. Hasyim Asy’ari sekaligus menguji sejauh mana saya bisa menghubungkannya dengan teori-teori bimbingan dan konseling,” ujarnya.

Moh. Ali Fahmi saat menerima penghargaan dari pihak penyelenggara.

Meski sempat mengalami kesulitan dalam mencari referensi pemikiran Barat yang relevan, Fahmi akhirnya menemukan titik temu. Ia mengaitkan gagasan KH. Hasyim Asy’ari dengan Person-Centered Therapy dari Carl Rogers, teori kognitif Jean Piaget, serta pemikiran Conny R. Tentang pendidikan. Dengan begitu, ia berhasil menunjukkan bahwa pemikiran ulama besar Nusantara dapat berdialog dengan teori-teori pendidikan modern.

Baca Juga: Mahasantri Tebuireng Sabet 3 Juara Sekaligus di Lomba Nasional Anti Narkoba

Persiapan lomba ia jalani sekitar sepuluh hari. Dalam kurun itu, ia tidak hanya memperdalam materi kitab, tetapi juga menyiapkan teknis pengambilan video yang digunakan untuk perlombaan. “Awalnya semua berangkat dari komunitas Kupuireng yang dimentori Mas Asna. Dari sana saya banyak mendapat arahan, termasuk masukan teori-teori yang bisa saya hubungkan dengan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari,” tutur Fahmi.

Dalam penilaian, dewan juri menekankan empat aspek utama: ketepatan qira’ah, terjemahan, penjelasan isi teks atau syarah, serta adab. Berkat ketekunannya, Fahmi berhasil membawa pulang juara 2. Penyerahan hadiah dilakukan pada 18 September 2025.

“Sejujurnya, saya tidak menyangka bisa menang. Latar belakang saya seorang santri, sempat terpikir akan kalah bersaing dengan mahasiswa dari universitas yang memang fokus di bidang Konseling Islam. Tapi alhamdulillah hasilnya di luar dugaan. Saya merasa bahagia, karena bisa membuktikan bahwa santri juga mampu berkontribusi dalam ranah pemikiran modern,” tambahnya.

Baca Juga: Menembus Batas, Kisah dan Kontribusi Mahasantri Melalui International Volunteer

Meski belum semua dosen Ma’had Aly mengetahui prestasi ini, Fahmi berharap kejuaraannya dapat membawa kebanggaan. “InsyaAllah setelah penyerahan hadiah nanti baru saya sampaikan secara resmi kepada para dosen. Semoga ini bisa menjadi kebanggaan bersama,” pungkasnya.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *