Menanti 15 Tahun Roda Berputar

Menanti 15 Tahun Roda Berputar


Sebuah ilustrasi oleh Times-Indonesia

“Roda Itu Berputar Nak,…”

Kata orang tuaku roda itu berputar, dulu saat aku masih kecil, aku menganggap kecepatan kehidupan itu sama seperti roda di sepeda, ternyata itu hanya kata kiasan… hahaha tawaku kecil saat aku membayangkan anggapanku dulu. Oo hai aku kenalin aku Bintang, orang tuaku memberi nama itu supaya aku bisa menjadi orang yang berpangkat dulunya, orang yang selalu di atas, agar tidak merasakan masa getir saat aku kecil.

Sekarang aku sudah umur 21, dan ya Alhamdulillah aku sudah memiliki pekerjaan, meski bukan sebagai PNS atau orang berseragam tapi aku sudah sangat senang, sekarang aku sudah bisa membeli barang yang aku pengen beli dari kecilku dulu memakai uang hasil kerjaku. bahagia nggk? Tanya lirih hati kecilku pada aku sendiri, “Ouhh gini ya bisa beli coklat batang, ouhh gini rasanya es krim contong” gumamku sekilas menjawab pertanyaan yang muncul dari hati kecil.

Setiap aku berangkat kerja, aku selalu memikirkan masalalu yang sekarang sudah tidak pernah aku rasakan, sebenarnya tidak boleh tenggelam begitu lama kedalam kisah pilu masalalu, tapi mau dibuat apa? Pikiran tersebut melintas saat aku bertemu orang-orang di jalan. Sampai saat ini setiap aku pulang bekerja, orang tua selalu bertanya “gimana hari ini”, pertanyaan yang selalu diucapkan dari aku kecil, tak berubah ditelan waktu.

Hari itu aku memang lagi keluar kota untuk liburan saja, saat mau pulang tidak sengaja aku melihat pasutri yang juga menggendong anaknya tengah berboncengan dengan sepeda ontel dari pusat kota ke arah berlawanan, mungkin ke arah pulang. Di situ aku langsung termenung, dibilang baper bisa atau sensitif juga bisa, tak lama dari aku termenung butiran air kecil keluar dari ujung kanan mataku dan disusul ujung kiri mataku. Aku Dejavu, aku sadar aku pernah dalam situasi saat itu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sekitar 16/17 tahun silam di desa yang tak begitu terpencil yang masih terdengar suara riuh kendaraan, ada pasar malam yang digelar di lapangan desa sebelah, aku sangat ingin kesana, paling hanya berjarak 2 KM dari rumah, saat itu rumah ku masih proses jadi atau kalau nggak salah baru ditempati tapi seadanya. Pulang bekerja, bapak ku semangat ingin mengajak ku ke pasar malam.

“Ayok pak ke pasar malam, pengen naik tas-tasan (bianglala),” ajakku pagi itu.

“Iya bentar bapak tak kerja sek, nanti bapak gajian tak ajak sama ibu,” jawab bapak ku sambil menata alat kerjanya.

Ibuku dulu ibu rumah tangga biasa, tapi kadang juga jualan jamu, jadi karyawan toko jajan yang bungkusin balon, kadang juga jualan donat. Aku lahir dikeluarga yang serba memulai dari 0, sebelum bisa memiliki rumah juga aku dan ibuku tinggal di rumah nenek dari bapak ku, dan bapak ku kerja keluar negeri, tapi jangan dibayangkan yang kayak di tv-tv, bapakku tukang bangunan, yang berusaha menyejahterakan keluarga kecilnya.

Oke kita balik ke paragraf yang sebelumnya, pagi bapak berangkat kerja, sore bapak pulang bawa gajiannya, dan habis Maghrib bapakku ngajak aku, juga ibuku untuk pergi ke pasar malam, kita belum punya sepeda motor saat itu, tapi kita punya saudara, banyak saudara lebih tepatnya, dan tau apa yang terjadi saat bapakku minjem sepeda motor ke mereka??? Selayaknya saudara harusnya mau tolong menolong, tapi apa?? Ada aja alasan untuk menolak, ada yang bilang sepedanya mau dibuat keluar, ada yang nggak punya bensin, padahal kalau bensin 1 liter saat itu hanya berapa sih, dan itungannya hanya dipakai 2km bolak balik.

Bapakku pulang ke rumah dengan wajah masamnya, mungkin beliau sedih belum bisa membahagiakan kita, tapi tidak sampai situ, keluarga kita hanya punya 1 sepeda ontel dulu, dan yap kita ber-3 berangkat ke pasar malam naik sepeda ontel itu, persis kan kayak yang aku temui tadi, dan itu yang bikin air mataku tambah deras sepanjang jalan pulang.

Setelah 1 luka terbuka, tak terasa pikiran liar ini menjalar ke jahitan luka lama, teringat aku dibully oleh saudari dari ibuku, hanya karna bapakku seorang tukang bangunan, mungkin saat itu aku sudah lebih dewasa dari mereka, aku diam, aku diam tak berkata, bahkan sampai tak menceritakan itu ke ibuku, yang juga saudari kandung mereka. Dalam benakku sekarang, aku cuma mikir emang sehina itu kah pekerjaan bapakku?

Orang tuaku dari dulu selalu berpesan padaku supaya jangan sampai menjadi pekerja seperti ini, dan yaaa…sekarang aku tidak jadi seperti itu, semua berkat doa dan harapan kedua orang tuaku. Tapi memang perjalananku sampai sekarang tidak bisa dibilang mulus, ada aja cobaannya, bahkan banyak yang dari saudara sendiri…

Sebenarnya peran saudara itu buat apasih dalam kehidupan?? Aku sampai bertanya seperti itu kepada Allah setiap kali ada permasalahan, memiliki saudara yang toxic itu sangat amat lelah, tapi sekarang aku baru sadar dan melihat semua ucapan dari ibuku perlahan menjadi nyata, “nggak papa nduk kalo kamu dihina, berlian kalau dikubur dalam kotoran tetap akan terpancar kok”, “nggak papa nduk kalo kamu diperlakukan seperti itu, kelak mereka juga akan mendapatkan perlakuan yang sama”, dan uwwaouu, aku melihatnya sendiri.

Butuh waktu 15 tahun lebih roda kehidupanku berputar? Eh enggak sih mungkin mulai 10 tahun kebelakang deh, atau kapan ya lebih tepatnya, aku juga nggak pasti, yang pasti aku sudah merasakan perputaran kehidupan itu nyata di hidupku, meskipun saat ini belum benar-benar ada diatas, tapi kami sudah sangat bersyukur, satu persatu peralatan rumah tangga bisa kami beli, sepeda motor kami nggak usah susah-susah minjam ke saudara, udah bisa beli keinginan sendiri tanpa harus menunggu dikasih saudara, dan masih banyak yang lainnya, intinya roda berputar itu nyata..



Penulis: Albii

Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *