
Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober bukan hanya sekadar hari untuk merayakan keindahan kain batik, tetapi juga menjadi momen bagi masyarakat untuk mengingat dan menghargai warisan budaya yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda sejak tahun 2009. Di lingkungan Pesantren Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja, perayaan ini memiliki makna yang lebih dalam.
Batik, sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, memiliki makna yang dalam. Proses pembuatannya yang rumit dan penuh makna menjadikan batik lebih dari sekadar kain. Setiap coraknya memiliki simbolisme tersendiri yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan, kepercayaan, dan budaya kearifan lokal. Dalam konteks pesantren cabang Tebuireng 17, batik tidak hanya menjadi pembelajaran entrepreneur, tetapi juga sarana untuk menyampaikan pesan moral dan spiritual yang terkandung dalam setiap lekuk, garis serta makna di kain batik yang dijadikan sebagai prinsip dasar di lingkungan pesantren.
Baca Juga: SMP Persada Insan Nusantara Tebuireng 17 Sokaraja Sukses Panen Sayur Organik Ketiga
Perayaan batik di Pesantren Abdul Djamil Tebuireng 17 memiliki makna yang lebih dalam, terutama ketika dikaitkan dengan nilai-nilai yang diajarkan di pesantren. Pendiri pesantren cabang Tebuireng 17, Bapak H. Imam Purwanto yang merupakan pengusaha batik terkenal di Banyumas (Batik Anto Djamil) tidak hanya ingin melestarikan seni batik santri dengan membawa muatan mata pelajaran tentang batik santri, tetapi juga ingin menanamkan sikap atau nilai-nilai yang terkandung di dalam batik sebagai bentuk pelestarian budaya dan adab santri.
Proses pembuatan batik yang memerlukan ketekunan dan kesabaran yang diselaraskan dengan ajaran di pesantren tentang pentingnya disiplin dan kerja keras. Kepala bidang pendidikan formal Pesantren cabang Tebuireng 17 Sokaraja, KH. M. Husain, S.Pd., M.Si. kemudian mengimplementasiakan dengan membuat slogan prinsip dari singkatan BATIK: Bersih, Aman, Tertib, Indah dan Kerjasama.


Bersih: Menjaga Kebersihan
Baca Juga: Festival Pagelaran Seni dan Peringatan Maulid Nabi di Tebuireng 17
Kebersihan merupakan aspek mendasar dalam kehidupan sehari-hari, baik dari segi fisik, spiritual, maupun sosial. Di Pesantren cabang Tebuireng 17 santri diajarkan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Dengan menjaga kebersihan, santri diajarkan untuk menjaga kesehatan dan perawatan lingkungan. Rasulullah SAW bersabda, “At-thahuru syathrul iman” (kebersihan adalah sebagian dari iman). Hadis ini menjadi dasar penting yang menghubungkan kebersihan dan iman dalam kehidupan seorang santri.
Aman: Menciptakan Lingkungan Aman
Aman berarti menciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya dan ancaman, baik fisik maupun emosional. Di pesantren, keamanan fisik dan psikologis santri desangat penting agar mereka dapat fokus belajar dan berkembang.
Tertib: Menjalankan aktivitas dengan teratur dan disiplin

Prinsip ketertiban menjadi aspek penting dalam santri, merupakan perilaku yang harus dikerjakan oleh setiap santri dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa ketertiban maka kehidupan kita akan kacau. Misalnya, santri melakukan ketertiban dalam menjalankan rutinitas harian, seperti waktu belajar, ibadah, dan kegiatan sosial, sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan dan spiritual.
Indah: Menghargai Keindahan Budaya
Indah melambangkan keindahan lingkungan dan adab santri. Lingkungan yang indah tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga menciptakan suasana hati yang baik. Di pesantren, keindahan dapat tercermin dalam cara santri berinteraksi satu sama lain dan dalam menjaga lingkungan. Nabi Muhammad SAW berkata, “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim)
Kerjasama: Sinergi dalam Berkarya
Kerjasama adalah kunci untuk mencapai tujuan bersama. Di pesantren, santri dan pengasuh perlu bekerja sama dalam menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan. Kerjasama juga menciptakan rasa persaudaraan dan solidaritas di antara sesama. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa.” (Al-Ma’idah: 2). Kerjasama dalam menjaga lingkungan dan menanamkan prisip pesantren merupakan wujud dari nilai-nilai ini.
Penulis: M. Choiril, Humas Publikasi Yayasan PP Abdul Djamil Tebuireng 17
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

