
Hujan baru saja reda, menyisakan bau tanah basah yang menempel di udara. Dan di sebuah rumah sederhana itu, ketegangan kerap menggantung di antara dindingnya. Rumah itu dihuni oleh Pak Arif dan Bu Rina, beserta dua anak mereka, yaitu Lila dan Bima.
Lila adalah anak perempuan sulung, selalu menjadi bintang keluarga. Ranking satu di sekolah, segudang piala berjejer di rak ruang tamu, dan senyuman bangga dari kedua orang tuanya selalu mengiringi setiap prestasinya. Sementara Bima, adik laki-laki berusia lima belas tahun, seolah tak pernah mendapat tempat di mata orang tua. Nilainya biasa saja, tak pernah membawa pulang piala, dan setiap kali rapor dibagikan, wajah kecewa ayah dan ibunya terasa lebih menusuk daripada nilai merah itu sendiri.
“Lihat, Lila dapat juara satu lagi!” seru Bu Rina suatu malam sambil menunjukkan rapor Lila pada ayahnya.
Pak Arif tersenyum lebar. “Anak pintar Ayah! Besok kita beli hadiah, ya. Kamu memang kebanggaan keluarga.”
Di sudut meja makan, Bima hanya menunduk. Tangannya memainkan sendok tanpa nafsu. Ia menunggu, berharap ibunya sekadar melirik rapornya, yang meski tanpa ranking, setidaknya ia berusaha keras. Namun tak ada tatapan, tak ada kata. Hanya sunyi yang terasa begitu menghukum.

“Ayah, Ibu… aku juga sudah berusaha,” gumam Bima lirih. Namun kalimat itu tertelan suasana. Tak ada yang mendengar, atau pura-pura tak mau mendengar.
***
Hari-hari berikutnya, jarak antara Bima dan keluarganya makin melebar. Ia mulai sering mengurung diri di kamar, menutup pintu rapat-rapat seakan ingin menghilang dari dunia. Lila beberapa kali mencoba menyapanya, tapi Bima hanya tersenyum hambar. Dalam hatinya, rasa iri dan sakit hati kian menumpuk.
Puncaknya terjadi ketika keluarga itu berkumpul di ruang tamu untuk merayakan keberhasilan Lila memenangkan lomba pidato tingkat kota. Piala baru kembali menghiasi rak.
“Kamu memang luar biasa, Nak,” kata Pak Arif sambil menepuk bahu Lila. “Andai saja adikmu bisa seperti kamu…”
Kalimat itu seperti pisau yang menusuk dada Bima. Ia tak sanggup lagi menahan.
“Kenapa sih Ayah selalu bandingin aku sama Kak Lila?!” teriaknya tiba-tiba. Suaranya pecah, matanya berair.
Suasana ruang tamu mendadak membeku.
“Bima! Jangan kurang ajar!” bentak Bu Rina.
“Aku nggak kurang ajar! Aku cuma capek! Capek jadi anak yang nggak pernah dianggap! Kenapa sih aku harus selalu gagal di mata Ayah sama Ibu? Apa aku bukan anak kalian juga?!”
Bima berlari masuk ke kamar, membanting pintu sekeras mungkin. Di dalam, ia menangis tersedu, tubuhnya gemetar menahan amarah dan kecewa. Malam itu, ia tak makan, tak bicara dengan siapa pun.
***
Hari-hari berikutnya, keadaan semakin buruk. Bima mulai kehilangan semangat. Ia tidak lagi mengerjakan PR, sering bolos sekolah, bahkan tidur sepanjang hari. Matanya kosong, senyumnya hilang.
Lila yang menyadari perubahan adiknya mencoba bicara pada orang tua.
“Bu, Yah… aku rasa Bima butuh perhatian. Dia kelihatan sedih terus.” Namun Bu Rina menanggapi enteng. “Itu karena dia malas belajar. Coba dia usaha keras kayak kamu, pasti bisa.”
Pak Arif menambahkan, “Ayah nggak bisa selalu memanjakan anak yang nggak mau berjuang.”
Mereka tak pernah sadar, anak laki-laki itu sebenarnya sudah berjuang keras. Hanya saja hasilnya tak pernah cukup di mata orang tua.
***
Suatu sore, Bima ditemukan Lila duduk termenung di atap rumah. Tatapannya kosong menembus langit abu-abu.
“Bim, turun yuk… bahaya,” ucap Lila cemas.
Bima menoleh sebentar, lalu kembali menatap langit. “Kak… apa aku salah kalau terlahir bukan anak yang pintar?” suaranya bergetar. “Aku capek. Aku pengen pergi aja dari semua ini. Rasanya nggak ada yang peduli sama aku.”
Air mata Lila jatuh tanpa bisa ditahan. Ia segera memeluk adiknya, menahan tubuh Bima agar tidak melakukan hal nekat. “Kamu nggak salah, Bim. Kamu adikku, dan aku sayang banget sama kamu.”
Malam itu, Lila menceritakan semuanya pada orang tua. Tentang tangisan Bima, tentang luka yang selama ini tersembunyi di balik sikap diamnya. Tentang betapa Bima merasa tidak pernah dianggap anak sendiri.
Orang tuanya terdiam. Rasa bersalah tiba-tiba menghantam hati mereka. Gambar piala-piala yang berjejer di rak kini terasa seperti penghinaan, seolah-olah kebanggaan yang mereka puja telah menyingkirkan satu anak lain yang sama berharganya.
***
Keesokan paginya, pintu kamar Bima diketuk pelan.
“Bima… boleh Ayah sama Ibu masuk?” suara Pak Arif terdengar lirih.
Bima hanya diam. Setelah beberapa saat, pintu itu terbuka.
Di dalam kamar yang gelap, Bima duduk di sudut ranjang. Wajahnya pucat, matanya sembab.
Pak Arif mendekat, lalu berlutut di hadapan anaknya. “Maafkan Ayah, Nak. Ayah salah besar. Ayah terlalu sibuk melihat prestasi, sampai lupa melihat hati kamu.”
Bu Rina menahan tangis. “Ibu juga minta maaf, Bima. Kamu sama berharganya dengan kakakmu. Ibu bodoh kalau sampai bikin kamu merasa nggak dicintai.”
Air mata Bima kembali mengalir. Kali ini bukan karena kecewa, melainkan karena perasaan yang selama ini ia tunggu akhirnya hadir. “Aku cuma pengen Ayah sama Ibu lihat aku… sebagai anak kalian. Bukan sebagai perbandingan.”
Pak Arif memeluk Bima erat. “Kamu anak Ayah, dan Ayah bangga punya kamu. Mulai sekarang, Ayah janji nggak akan lagi bandingin kamu sama siapa pun.”
Suasana kamar itu dipenuhi tangis dan pelukan. Luka yang lama terpendam mulai mendapat obatnya.
Hari-hari setelah itu, perlahan suasana rumah berubah. Orang tua Bima belajar memberi perhatian yang sama, bukan hanya pada prestasi, tapi juga pada usaha dan perasaan. Bima pun mulai membaik. Ia kembali ke sekolah, mulai tersenyum, dan untuk pertama kalinya merasa dirinya berarti.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
