
Mushola kecil itu terletak di ujung kampung, jauh dari hiruk-pikuk kota. Dindingnya mulai mengelupas, sajadahnya pun sudah lusuh dimakan usia. Namun, ada satu hal yang tetap tak berubah: sebuah kursi kayu tua di sudut dekat mimbar. Kursi itu selalu ada di sana. Diam, tak pernah tersentuh. Tak satu pun orang pernah duduk di atasnya.
Anak-anak sering bertanya,
“Pak, kenapa kursi itu nggak dibuang saja?”
Pak ustaz hanya tersenyum, lalu menjawab singkat, “Itu kursi saksi.”
Saksi?
Saksi untuk apa? Tak ada yang tahu.
Hingga suatu malam, seorang santri putri bernama Vania memutuskan untuk menunggu jawabannya.
Vania bukanlah gadis yang istimewa menurut pandangan orang kampung. Kulitnya gelap, tubuhnya besar, dan ia jarang berbicara. Namun ada satu hal yang membuatnya berbeda: ia sering menangis diam-diam di mushola. Rasa rindunya pada ibunya yang telah lebih dulu pergi membuatnya betah berlama-lama di sana. Kadang, bukan hanya rindu, tapi juga rasa hampa yang tak bisa ia jelaskan membuatnya ingin tetap tinggal di sudut itu.

Malam itu hujan turun pelan. Mushola sepi, hanya lampu temaram yang menerangi dinding yang lembab. Vania duduk di barisan belakang, memandangi kursi tua itu. Entah mengapa, malam itu ia merasa sangat ingin tahu—kenapa kursi itu tak pernah dipindahkan, atau diduduki?
Tiba-tiba, terdengar suara pintu berderit.
Seorang lelaki tua masuk. Langkahnya pelan, tubuhnya dibalut sarung dan jaket lusuh. Ia berjalan langsung ke arah kursi itu. Perlahan, ia duduk. Punggungnya membungkuk, dan bibirnya bergetar lirih membaca tasbih.
Vania nyaris berdiri, hendak menyapa. Tapi lelaki itu lebih dulu berkata, tanpa menoleh.
“Duduklah, Nak. Aku tahu kamu di sini.”
Dengan langkah ragu, Vania mendekat dan duduk bersila di lantai, menatap lelaki tua itu dengan penuh tanya.
“Apa yang kamu cari di sini malam-malam begini, Nak?” tanya si kakek lembut.
Vania terdiam sejenak. Lalu ia menjawab lirih, “Ketenangan, Pak… dan jawaban.”
“Dari Tuhan?”
Vania mengangguk pelan.
Kakek itu tersenyum. “Dulu, kursi ini adalah tempat duduk ayahku setiap malam Jumat. Ia selalu datang ke sini, membaca Al-Qur’an, dan berdoa sambil menangis.”
Vania menatap kursi tua itu dengan pandangan berbeda.
“Lalu…?” bisiknya.
“Lalu suatu hari, aku marah. Aku memberontak. Aku lelah melihat ayahku terus berdoa setiap malam, tapi hidup kami tak berubah. Kami tetap miskin, tetap sakit-sakitan. Aku katakan pada ayah, ‘Untuk apa kau berdoa terus, kalau hidup kita tetap begini-begini saja?’”
Suara lelaki itu mulai serak.
“Ayah hanya menunduk. Tak menjawab sepatah kata pun. Tapi malam itu, ia tetap kembali ke mushola. Duduk di kursi ini. Dan tetap menangis dalam doa.”
Vania menggigit bibirnya. Ia tahu rasa itu. Kecewa pada doa yang seakan tak pernah dikabulkan.
“Beberapa hari kemudian, ayah meninggal. Tanpa sempat menjelaskan apapun. Dan aku… aku menyesal. Menyesal seumur hidupku.”
Kakek itu memejamkan mata. Air matanya jatuh perlahan, membasahi pipi keriputnya.
“Ketika aku tua, aku duduk di sini. Di kursi yang sama. Kembali kupertanyakan hal yang sama kepada Tuhan, ‘Untuk apa aku berdoa, jika hidup tetap begini?’ Dan malam itu… aku mulai mengerti.”
“Apa yang Bapak pahami?” tanya Vania nyaris berbisik.
“Bahwa doa tak selalu mengubah dunia kita. Tapi doa mengubah hati kita. Menguatkan jiwa, menenangkan luka yang dalam. Mungkin ayahku tak pernah melihat perubahan besar dalam hidupnya. Tapi ia tahu, hatinya tak pernah merasa kalah.”
Vania menunduk. Matanya mulai basah. Seolah Tuhan sedang bicara langsung padanya, lewat lelaki tua yang duduk di depannya.
“Kamu tahu, Nak,” lanjut sang kakek, “Kadang kita tak tahu, untuk siapa doa-doa kita ditujukan. Mungkin bukan untuk kita. Tapi untuk anak kita nanti. Atau untuk seseorang yang bahkan belum lahir ke dunia ini.”
Hening. Hanya suara hujan di luar jendela yang menemani.
“Jangan pernah berhenti berdoa,” ucap lelaki itu pelan, “Karena doa bukan hanya tentang hasilnya. Tapi tentang kesetiaan kita kepada Sang Pendengar.”
*****
Beberapa minggu setelah malam itu, kursi tua itu tak lagi kosong.
Setiap malam, Vania datang. Duduk di sana. Kadang membaca Al-Qur’an. Kadang menangis dalam diam. Ia tak tahu apakah doanya akan mengubah hidupnya, tapi ia yakin, hatinya mulai tenang. Ia merasa lebih kuat, lebih damai.
Karena ternyata, doa bukan tentang meminta sesuatu.
Doa adalah bentuk cinta.
Cinta yang tak menuntut balasan, tapi tetap setia mengetuk langit, setinggi apapun.
Dan memang, doa tak selalu mengubah keadaan. Tapi ia mampu menguatkan hati yang nyaris patah oleh ujian dan cobaan. Dalam ketekunan berdoa, Vania belajar tentang sabar, ikhlas, dan pasrah. Karena yang paling penting bukanlah apa yang kita minta—
melainkan seberapa dalam kita percaya pada Dia yang Maha Mengabulkan.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
