
Nama KH. Muhammad Yusuf Hasyim atau yang akrab disapa “Pak Ud” adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah modern Indonesia yang kiprahnya tidak bisa dilepaskan dari perjuangan kemerdekaan, pembaharuan pendidikan pesantren, dan penguatan ideologi kebangsaan. Sebagai putra bungsu dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus pendiri Pesantren Tebuireng, KH. Hasyim Asy’ari, serta adik kandung dari KH. Wahid Hasyim dan paman dari Presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Yusuf Hasyim tumbuh dalam lingkungan ulama yang sangat kental dengan tradisi keilmuan, perjuangan, dan nasionalisme. Kiai Yusuf Hasyim mewarisi semangat juang dan keilmuan ayahnya, namun dengan pendekatan yang unik dan inovatif.
KH. Yusuf Hasyim lahir pada 10 April 1929 di lingkungan Pesantren Tebuireng, Jombang. Sebagai putra dari KH. Hasyim Asy’ari, ia mendapatkan pendidikan agama langsung dari para ulama besar, termasuk ayahnya sendiri, serta kakaknya KH. Wahid Hasyim. Sejak muda, Yusuf Hasyim dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berwawasan luas.
Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di lingkungan pesantren, ia melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Yusuf Hasyim sempat belajar di India dan Mekkah, memperdalam ilmu keislaman dan pemikiran dunia Islam kontemporer. Pendidikan internasional ini memperkaya pemikirannya dan memperluas jejaring keulamaan internasional.
Contents
Kiai Militer dan Penggerak
Kiprah Kiai Yusuf Hasyim sebagai pejuang sudah dimulai sejak usianya 16 tahun. Pada tahun 1945, di tengah gejolak revolusi, ia bergabung dengan Laskar Hizbullah di Jawa Timur. Sebagai seorang komandan, ia terlibat langsung dalam pertempuran-pertempuran sengit melawan penjajah, termasuk dalam peristiwa heroik Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Markasnya berada di Gunungsari, yang kini menjadi kompleks Kodam V/Brawijaya.
Salah satu jasa monumentalnya adalah perannya dalam menyelamatkan Madiun dari potensi menjadi negara bagian yang dikendalikan oleh penjajah. Ia juga turut berjuang dalam mempertahankan wilayah Indonesia pasca-kemerdekaan melalui garis Van Mook. Kiprahnya sebagai “kiai militer” ini menunjukkan komitmennya yang tak tergoyahkan dalam membela tanah air. Bahkan, ia pernah tertembak dalam kontak senjata di Desa Nglaban, Cukir, yang untungnya tidak sampai menembus dadanya. Atas perjuangannya ini, ia dianugerahi sejumlah bintang penghargaan, termasuk Bintang Gerilya dan Satya Lencana.

KH. Yusuf Hasyim juga aktif dalam konsolidasi militer santri setelah Proklamasi 1945. Ia berperan dalam penyatuan pasukan-pasukan Islam di bawah satu komando yang mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Semangat bela negara yang ditanamkannya menjadi semacam doktrin jihad konstitusional bagi para santri dan kiai.
Kembali Ke Pesantren
Setelah masa perjuangan fisik mereda, Yusuf Hasyim tidak berdiam diri. Ia melanjutkan perjuangan melalui jalur pendidikan. Salah satu warisan terbesarnya adalah pembenahan dan pengembangan Pesantren Tebuireng. Ia menjadikan Tebuireng tidak hanya sebagai pusat keilmuan agama, tetapi juga sebagai lembaga pendidikan formal yang mencetak kader-kader pemimpin bangsa. Pada saat itu, sekolah umum masih dianggap asing di lingkungan pesantren. Namun, Kiai Yusuf Hasyim berani mendobrak tradisi dengan mendirikan sekolah tingkat SMP dan SMA di lingkungan Tebuireng.
Gagasannya yang visioner ini sempat menimbulkan kekhawatiran dan kritik dari sebagian kalangan, tetapi Kiai Yusuf Hasyim tetap teguh pada pendiriannya. Ia meyakini bahwa pesantren harus menghasilkan santri yang menguasai ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum secara seimbang. Puncaknya, pada tahun 1965, ia mendirikan Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY), sebuah perguruan tinggi di lingkungan pesantren yang menjadi bukti nyata komitmennya terhadap modernisasi pendidikan Islam.
Kiprahnya dalam dunia pendidikan membuktikan visinya sebagai ulama yang sangat modern dan berpikiran jauh ke depan. Ia menekankan pentingnya ijtihad, berpikir kritis, dan keterlibatan santri dalam ranah sosial-politik nasional.
Politik dan Penguatan Ideologi Kebangsaan
Kiai Yusuf Hasyim juga dikenal sebagai tokoh yang aktif dalam kancah politik dan pergerakan sosial. Ia juga merupakan salah satu tokoh sentral dalam mengembalikan NU ke Khittah 1926 pada tahun 1984, sebuah langkah bersejarah yang mengembalikan NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang fokus pada dakwah dan pendidikan.
Di era Orde Baru, Yusuf Hasyim menjadi jembatan antara NU dan pemerintah. Ia dikenal sebagai sosok yang diplomatis namun tetap kritis terhadap kebijakan negara yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Sepanjang hidupnya, Kiai Yusuf Hasyim selalu berpegang teguh pada ideologi kebangsaan dan Islam yang moderat. Ia sering mengutip pendapat Imam Ghazali, “negara dan agama adalah saudara kandung yang lahir dalam rahim seorang ibu yang sama.” Baginya, Indonesia adalah sajadah, darah, dan ruh kita. Ketika Indonesia terluka, Islam juga terluka, dan sebaliknya.
Sebagai ulama besar, KH. Yusuf Hasyim dikenal sebagai tokoh moderasi Islam. Ia memperjuangkan Islam yang ramah, toleran, dan menghargai kebhinekaan. Dalam banyak pidato dan tulisan, ia menegaskan pentingnya cinta tanah air sebagai bagian dari iman. Hal ini sejalan dengan doktrin hubbul wathan minal iman yang dipegang teguh oleh NU. Ia juga aktif dalam dialog antaragama dan menjadi tokoh penting dalam membendung ekstremisme di kalangan umat Islam. Pandangannya tentang Islam Nusantara menjadi inspirasi bagi generasi ulama sesudahnya.
Kiai Yusuf Hasyim adalah sosok santri, tentara, ulama, dan politisi yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan bangsa. KH. Yusuf Hasyim wafat pada 2006 dalam usia 77 tahun dan dimakamkan di kompleks Pesantren Tebuireng. Ribuan pelayat dari berbagai daerah hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Hingga kini, pemikirannya terus diwariskan melalui lembaga-lembaga pendidikan dan murid-muridnya yang tersebar di seluruh Indonesia.
KH. Yusuf Hasyim adalah figur penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Ia adalah ulama, pejuang, pendidik, dan negarawan. Keteladanan, pengorbanan, dan kontribusinya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa menjadikan dirinya akan selalu dikenang oleh santri-santrinya. Sebagaimana dawuhnya yang terkenal: “Santri itu bukan hanya bisa mengaji, tapi juga harus bisa memimpin negeri.” Ungkapan ini bukan sekadar kata-kata, melainkan semangat hidup yang ia wariskan bagi bangsa Indonesia. Terima kasih Kiai, kami santrimu mengenangmu dengan segala kemuliaan dan rasa hormat kami.
Baca Juga: Gus Irfan Ceritakan Sosok Ayahnya, KH. Yusuf Hasyim
Penulis: Muhammad Arief Albani, Penasehat PW IKAPETE Papua
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

