
Kapal Madleen diberi nama untuk menghormati Madleen Kulab, perempuan nelayan pertama di Gaza memulai pelayarannya dari Catania, Sisilia, pada 1 Juni 2025. Diprakarsai oleh Freedom Flotilla Coalition (FFC), kapal ini membawa 12 relawan dari berbagai negara: atlet lingkungan Greta Thunberg, anggota Parlemen Eropa Rima Hassan, serta aktivis dan jurnalis dari Eropa, Amerika, dan Asia.
Mereka mengangkut bantuan kemanusiaan baby formula, 100 kg tepung, 250 kg beras, popok, alat medis, bahkan prostetik anak-anak dengan tujuan simbolis: membobol blokade laut Israel untuk Gaza. Misi ini dirancang sebagai aksi perlawanan damai dan upaya memperlihatkan penderitaan penduduk Gaza akibat blokade laut yang berlangsung sejak Maret 2025 dan didukung data UNRWA bahwa lebih dari 90 % penduduk menghadapi kelangkaan pangan akut.
Baca Juga: Kisah Karomah Gus Dur Saat Haji di Arafah
Pelayaran Madleen disertai pengawasan drone Hellenic Coast Guard dan pelacak satelit publik, menunjukkan kapal berada sekitar 600 km dari Sisilia pada 4 Juni 2025. Namun pada dini hari 9 Juni, kapal ini dicegat kapal perang Israel sekitar 185 km dari Gaza, di perairan internasional. Pasukan komandonya menurunkan drone yang menyemprot zat putih di geladak dan memaksa relawan menaikkan tangan sebelum kapal ditarik ke pelabuhan Ashdod.
Amnesty International menegaskan tindakan ini melanggar hukum internasional dan menuntut pembebasan segera awak kapal. Intersepsi kapal ini memicu kecaman global, termasuk dari parlemen Eropa dan Dewan HAM PBB, karena dianggap menciderai akses kemanusiaan dan meneruskan blokade kolektif terhadap warga sipil Gaza.

Ketika kapal Madleen meninggalkan pelabuhan Sicilia pada awal Juni 2025, tak ada jaminan ia akan sampai ke tujuannya: Gaza, yang saat itu berada dalam kepungan militer dan krisis kemanusiaan paling parah dalam sejarah abad ini.
Di atas geladaknya, para relawan berdiri dan datang dari berbagai negara. Mereka bukan pembawa senjata, tapi pengangkut bantuan medis, susu bayi, air bersih, serta seruan untuk berhenti membunuh. Mereka tahu kapal ini bisa diserbu, dicegat, bahkan dibajak. Tapi mereka tetap berlayar. Di sinilah, kata-kata Gus Dur menemukan tubuh dan peristiwanya: “Konflik Israel–Palestina bukanlah konflik agama, tapi konflik kemanusiaan.”
Pertanyaannya sederhana namun menghantam: apa yang mendorong seseorang tanpa latar belakang militer, tanpa kepentingan politis, tanpa hubungan darah dengan warga Gaza, rela berlayar ke zona perang?
Barangkali jawabannya terletak pada kesadaran paling mendasar sebagai manusia. Bahwa penderitaan seseorang, sekecil apa pun, adalah tanggung jawab bersama. Bahwa rasa sakit seorang anak yang menangis karena kehausan di Gaza bisa mengetuk nurani seseorang ribuan kilometer jauhnya. Bahwa rasa iba bisa lebih kuat dari rasa takut. Para relawan di kapal Madleen, seperti Greta Thunberg, Zohra Kravitz, hingga Rima Hassan, tak membawa simbol agama apa pun dalam misinya.
Baca Juga: Begini Cara Membela Sesama Muslim Palestina dan Iran
Mereka tidak datang untuk memperjuangkan agama, apalagi membela kelompok bersenjata. Mereka datang karena satu alasan yang tak bisa dibantah siapa pun: membantu sesama manusia yang kelaparan, yang kehilangan tempat tinggal, yang anak-anaknya meninggal bukan karena peluru, tapi karena ketiadaan antibiotik dan air bersih.
Menurut laporan terbaru dari UNRWA (2025), lebih dari 80% penduduk Gaza mengalami kelangkaan pangan ekstrem. WHO juga menyatakan bahwa rumah sakit di Gaza kini bekerja dengan pasokan listrik terbatas, bahkan banyak yang tak lagi mampu mensterilkan peralatan medis. Akibat blokade total sejak akhir 2023, lebih dari 10.000 anak mengalami gizi buruk akut. Fakta-fakta ini bukan sekadar statistik. Ini adalah penderitaan nyata yang dirasakan setiap hari.
Namun, dunia hari ini sering kali lumpuh oleh diplomasi dan kepentingan. Para pemimpin negara sibuk berunding, dan organisasi internasional terjebak dalam bahasa lunak, dan keberanian justru datang dari mereka yang tak punya kekuasaan. Para relawan ini menunjukkan bahwa keberpihakan terhadap hidup manusia tak butuh izin politik.
Gus Dur, dalam banyak forum internasional, selalu menolak cara pandang yang menyederhanakan konflik Israel–Palestina sebagai pertarungan antar agama. Dalam buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita, Gus Dur menulis, “Agama hanya menjadi dalih ketika kemanusiaan telah dikhianati.” Baginya, agama adalah fondasi welas asih. Ketika konflik ini dikurung dalam narasi sektarian, Gus Dur mencoba membuka jalan keluar: bahwa akar dari semuanya adalah penindasan, ketidakadilan, dan pelanggaran hak hidup paling dasar.
Itulah yang diperjuangkan oleh para relawan di kapal Madleen. Mereka berdiri sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan yang terlalu sering dikalahkan oleh politik, senjata, dan propaganda. Mereka memilih untuk berdiri, bukan karena mereka pasti benar, tapi karena terlalu banyak yang memilih untuk duduk diam.
Namun ketika kapal Madleen memasuki perairan yang dikuasai Israel, militer Israel mencegat mereka. Kapal dibawa ke pelabuhan Ashdod, para relawan ditahan, diinterogasi, dan sebagian dideportasi. Dalam pernyataan resminya, otoritas Israel menyebut kapal ini melanggar zona keamanan dan membawa bantuan tanpa koordinasi formal. Namun, laporan investigatif dari The Guardian dan Al Jazeera menunjukkan bahwa semua dokumen administratif dari Madleen telah dikirim ke PBB dan badan pengawas internasional beberapa hari sebelum pelayaran dimulai.
Israel berdalih bahwa blokade terhadap Gaza bersifat legal untuk menjaga keamanan nasional. Tapi laporan United Nations Human Rights Council (UNHRC, 2024) secara jelas menyatakan bahwa blokade total seperti ini merupakan bentuk “hukuman kolektif terhadap populasi sipil,” dan dapat dikategorikan sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Bahkan International Court of Justice pada Januari 2024 lalu menyebut tindakan tersebut berpotensi mengarah pada genosida, terutama jika akses terhadap air, makanan, dan obat-obatan terus ditutup.
Baca Juga: Pemikiran Visioner Wahid Hasyim: Warisan bagi NU dan Dunia Islam
Di tengah situasi ini, kontras menjadi begitu terang. Pemerintah dunia banyak yang memilih sikap ambigu. Beberapa negara justru meningkatkan kerjasama militer atau perdagangan dengan Israel, dan hanya mengeluarkan “pernyataan prihatin” yang tak punya daya. Di sisi lain, orang-orang biasa seperti para relawan kapal Madleen mengambil risiko nyata.
Peristiwa ini mengguncang hati banyak orang. Solidaritas ternyata tidak datang dari podium atau panggung-panggung kekuasaan. Ia datang dari suara sunyi, dari tindakan diam-diam namun berdampak nyata. Dari wajah-wajah tak dikenal yang berdiri di bawah panas matahari, di atas kapal yang mungkin tidak akan pernah kembali.
Apa yang mereka lakukan adalah wujud hidup dari gagasan Gus Dur. Ia tak sedang berbicara dalam ruang diskusi tertutup. Kalimatnya menjadi semacam cahaya jalan bagi mereka yang tak ingin tinggal diam melihat kekejaman. Gus Dur pernah berkata, “Kita tidak akan bisa membangun perdamaian, kalau kita tidak mampu menangis bersama mereka yang disakiti.”
Ketika para relawan itu memutuskan untuk menghadapi risiko demi satu misi sederhana, yakni menyampaikan bantuan kepada mereka yang tertutup aksesnya dari dunia, mereka sedang membawa pesan penting: bahwa menjadi manusia adalah keberanian untuk peduli. Dan dalam tindakan itu, sesungguhnya mereka sedang memahami nilai tertinggi dari iman dan cinta kasih.
Kita tidak harus berada di atas kapal Madleen untuk menunjukkan solidaritas. Tapi kita bisa menyumbangkan keberanian dengan cara kita sendiri. Kita bisa menulis, berbicara, menyumbang, atau sekadar tidak ikut menyebarkan kebencian. Dalam situasi dunia yang penuh propaganda, menjaga empati pun sudah menjadi bentuk perlawanan.
Karena ketika dunia memilih diam, orang-orang seperti mereka sedang menjaga nurani umat manusia agar tetap menyala. Dan sejarah, seperti yang ditulis dalam banyak kisah perjuangan, selalu mencatat keberanian kecil yang mengubah arah dunia.
Bila Gus Dur masih hidup, mungkin ia tak akan naik kapal Madleen. Tapi bisa jadi, ia akan berdiri di dermaga, melepas mereka dengan senyum, dan doa yang dalam: semoga Tuhan menjaga siapa saja yang berani memilih menjadi “manusia” di saat dunia mulai melupakannya.
Baca Juga: Kecam Israel di Medsos Tak Cukup! Bagaimana Umat Muslim Bisa Berjuang Lebih untuk Palestina?
Dan mari kita ingat pula kalimatnya yang terdokumentasi dalam Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid oleh Greg Barton: “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Dalam kata-kata itu, kita tahu bahwa keberpihakan Gus Dur tak pernah pada kelompok tertentu. Tapi selalu kepada yang paling lemah, yang paling dilukai, dan yang paling dibungkam.
Semoga kita tak sekadar menjadi saksi diam dari tragedi yang terjadi hari ini. Semoga kita punya keberanian, sekecil apa pun, untuk menjadi bagian dari mereka yang menolak tunduk pada ketidakadilan.
Penulis: Achmad ‘Adzimil Burhan Al-Hanif
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

