
Malang, pukul 21.30 WIB.
Udin terbangun dari tidurnya. Tidak ada suara, pun tidak ada bunyi jangkrik atau deru angin yang acapkali berhembus tengah malam. Hanya kesunyian yang terasa menusuk, seperti ada yang menggantung di kepekatan udara. Perlahan, Udin bangkit dari kasurnya. Ia segera menuju pintu kamarnya yang sedikit terbuka sesuatu yang tak biasa. Terasa bagi Udin, di kedalaman hatinya malam ini sungguh berbeda. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang ganjil. Ia menangkap firasat kehadiran sosok tak diundang.
Ketika Udin membuka pintu, dia mendapati seorang pria lanjut usia berdiri mematung di hadapannya. Seorang kakek-kakek. Ia nyeker, tak mengenakan sandal. Seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya tampak lusuh. Wajah pria itu setengah pucat, sorot matanya tajam, seolah menyeret pertanyaan yang lebih besar dari dirinya sendiri. Sejurus kemudian kakek itu melangkahkan kakinya, masuk ke kamar Udin. Tanpa sepatah kata pun, tanpa memberi Udin waktu untuk bertanya.
Dialah Mbah Darmo, seorang sufi pengembara yang kerap singgah di rumah Udin. Sebagian kalangan santri di Mojokerto menganggapnya Jadzab orang yang kesadarannya tertarik kepada Tuhan. Terakhir kali Mbah Darmo datang ke rumah Udin 2 bulan yang lalu tepat di malam pergantian tahun baru. Kedua orang tua Udin mempunyai kearifan yang cukup dalam menyikapi kedatangan Mbah Darmo mereka membiarkan Mbah Darmo masuk kamar Udin tanpa harus meminta izin.
Mbah Darmo selalu datang dengan membawa pesan entah itu ilham, wangsit, ataupun sekadar isyaroh yang ia tangkapnya dari gejala-gejala alam. Mbah Darmo mempunyai nama asli Abdul Hamid Falahudin acapkali dipanggil Gus Hamid. Ia merupakan putra seorang kiai ternama di sebuah desa terpencil di Mojokerto. ‘Konon’ nama Darmo merupakan pemberian guru mursyidnya, usai Gus Hamid menjalankan riyadloh di tengah hutan yang terletak di lereng barat Gunung Welirang. Gus Hamid diperintah mursyidnya untuk uzlah sembari menjalankan berbagai bentuk riyadloh selama 5 tahun. Nama bentuk harapan dan doa dari gurunya agar Gus Hamid selalu ‘berderma’, bermanfaat bagi kemaslahatan alam semesta.

Malang, pukul 21.45 WIB.
Udin mematung. Seakan seluruh kesadarannya tersedot di kedalaman tatapan tajam Mbah Darmo. Setelah kesadarannya pulih, ia mengikuti Langkah-langkah berat Mbah Darmo. Kakek tua itu segera mengambil kursi reyot milik Udin dan meletakkan tubuhnya yang renta di atasnya. Mbah Darmo duduk tenang, seolah rumah Udin sudah lama menjadi bagian dari kehidupannya. Udin masih dalam kebingungan. Perlahan ia merasakan bahwa kehadiran Mbah Darmo membawa sesuatu yang lebih dari sekadar kehadiran fisik.
Malang, pukul 10.23 WIB.
Pintu kamar Udin tiba-tiba kembali dibuka. Sarip datang salah satu sahabat dekat Udin. Sosok satu ini memiliki keanehan seperti Mbah Darmo selalu muncul secara tiba-tiba tanpa harus diundang. Mengejutkan. Sarip, adalah teman satu almamater dengan Udin di Universitas ternama di Jawa Timur. Bedanya, Sarip mengambil jurusan Filsafat sebaliknya Udin mengambil jurusan Teknik Sipil. Sarip merupakan pengikut penghayat kepercayaan, dengan berbagai pandangannya yang acapkali tak terjangkau nalar Udin.
“Kau baik-baik saja, Din?” tanya Sarip sembari menatap Mbah Darmo. Sejurus kemudian ia duduk di sudut ruangan. Tatapannya penuh perenungan. Ketika ia diskusi bersama Udin, Sarip selalu memilki pandangan yang unik. Ia selalu melihat dunia bukan dari yang tampak, tetapi yang tersembunyi di balik segala sesuatu. Baginya, dunia ini adalah ilusi―seperti bayang-bayang di dinding Lorong yang panjang.
“Apa yang terjadi?” tanya Sarip kembali sambil memandangi Mbah Darmo dengan ragu. “Kau mengundangnya, Din?”
“Tidak,” jawab Udin singkat. Pandangannya masih terpaku pada Mbah Darmo, yang sejak awal masuk tak pernah berbicara. Ada sesuatu dalam diam pria itu membuat waktu terasa lambat.
“Mungkin kita semua adalah tamu di dunia ini, Din. Tempat kita hidup, bukan milik kita seperti yang selalu kita kira.” celetuk Sarip.
Udin mengerutkan kening, mencoba memahami maksud tersembunyi dari kata-kata Sarip.
“Apa maksudmu bicara tentang hal-hal yang abstrak, sementara dunia ini nyata, Rip?”
Sarip menatap Udin. “Kau ingat Plato, kan? Filsuf Yunani itu pernah berpendapat bahwa dunia ini tak lebih dari sekadar bayangan dari kebenaran yang lebih tinggi. Kebenaran yang tak terjangkau nalar manusia. Mungkin, kedatangan Mbah Darmo untuk mengingatkan kita akan hal itu. Bahwa yang kita lihat bukanlah kebenaran seutuhnya.”
Udin diam. Kata-kata Sarip memang selalu sulit dicerna namun kali ini ada sesuatu yang bisa jadi benar. Mbah Darmo seperti bayangan dari sesuatu yang lebih besar sesuatu yang tidak bisa disentuh, tapi bisa dirasakan. Mungkin dialah perwujudan dari semua hal yang tak terjawab dalam hidup, pertanyaan tak berujung.
Malang, pukul 12.00 WIB.
Malam semakin larut. Mencapai titiknya yang paling sunyi. Mbah Darmo akhirnya berdiri. Tanpa kata, tanpa isyarat ia melangkah keluar dari kamar. Menyeret tubuhnya yang ringkih untuk perlahan-lahan menjauhi rumah Udin. Meninggalkan Udin dan Sarip yang terdiam dalam kebingungan masing-masing.
“Mungkin,” kata Sarip perlahan, setelah bau tubuh Mbah Darmo mulai hilang. “dia datang untuk mengingatkan kita, bahwa kita hanya singgah sementara di dunia ini.”
Udin menyimak ucapan Sarip sembari mengalihkan pandangannya kepada pintu kamar yang kini telah tertutup.
“Apa seperti pepatah Jawa, urip iki mung sakdermo mampir Ngombe (hidup ini hanya sekadar mampir untuk minum)?”, tanya Udin.
“Persis”
Aura kehadiran Mbah Darmo masih terasa di benak Udin. Mungkin, pikirnya, hidup memang seperti yang dikatakan Sarip bayang-bayang dari kebenaran yang lebih tinggi. Dan tamu itu? Ia bukan sekadar seseorang yang datang tanpa diundang, tapi sebuah tanda, sebuah pengingat bahwa ada dunia lain di luar bayang-bayang yang mereka lihat.
Malang, pukul 00.17 WIB.
Di dalam suasana yang hening, mereka berdua tenggelam dalam perenungan masing-masing. Sementara hembusan angin malam mulai terdengar bertiup dari timur ke barat. Hembusan itu seakan-akan mendengungkan ayat-ayat Qur’an, “Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.”
Penulis: Alfi Saifullah
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

