Guru dalam Kenangan | Tebuireng Online

Guru dalam Kenangan | Tebuireng Online


Ilustrasi guru dan murid dalam sebuah kelas (sumber: kiprispdr)

Hari itu, pagi masih berkabut tipis, namun kabar duka sudah lebih dahulu menyergap. Fatimah duduk terdiam di bangku panjang halaman rumahnya, memandang ponsel yang baru saja menampilkan pesan singkat dari grup alumni sekolah. Tangannya bergetar, matanya berkaca-kaca.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah guru kita tercinta, Bapak Hasan. Semoga Allah menempatkannya di tempat terbaik. Al-Fatihah.”

Mata Fatimah seakan tak mampu menahan air yang menggenang. Air matanya jatuh, membasahi layar ponsel. “Pak Hasan…” lirihnya. Ia merasa dunia seketika runtuh.

Pak Hasan bukan sekadar guru baginya. Beliau adalah sosok yang sabar, penuh kasih, dan selalu menanamkan nilai kehidupan lebih dalam daripada sekadar angka ujian. Bagi Fatimah, beliau adalah orang tua kedua yang menuntun dengan kelembutan kata-kata dan teladan sikap.

Ingatannya kembali ke masa SMP. Pak Hasan selalu masuk kelas dengan senyum ramah. Tubuhnya tinggi, rambut mulai beruban, namun semangatnya tak pernah pudar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Anak-anak, belajar itu bukan untuk menjadi pintar sendiri. Belajar itu agar kalian bisa bermanfaat. Kalau hanya pintar, tapi tidak memberi manfaat, ilmu itu akan layu,” begitu kata-kata yang sering Pak Hasan ulangi.

Fatimah selalu terkesan bagaimana Pak Hasan mampu membuat pelajaran sejarah yang membosankan terasa hidup. Dengan suaranya yang tenang, beliau menceritakan perjuangan bangsa seakan-akan murid-muridnya sedang menonton film. Kadang beliau membawa buku lusuh, kadang hanya papan tulis dan spidol. Tetapi setiap kalimatnya melekat di hati.

Yang paling diingat Fatimah adalah ketika suatu hari ia menangis karena nilai ulangannya jelek. Pak Hasan menghampiri, menepuk bahunya, dan berkata,

“Nilai itu hanya angka, Fatimah. Yang lebih penting adalah kamu tidak menyerah. Orang yang hebat bukan yang selalu mendapat nilai tinggi, tetapi yang mau bangkit setelah jatuh.”

Kata-kata itulah yang selalu menjadi penguat Fatimah hingga ia beranjak dewasa.

****

Kini, orang yang selalu ia kagumi itu telah pergi untuk selamanya. Fatimah menghadiri pemakaman bersama teman-temannya. Ia melihat tubuh Pak Hasan terbujur dalam kafan putih, dikebumikan di bawah tanah yang lembab.

Tangisnya pecah. Ia menggenggam erat tangan sahabatnya, Aisyah. “Aku masih tak percaya, Yah… Rasanya baru kemarin beliau menasihati kita dengan sabar.”

Aisyah pun tak kuasa menahan haru. “Aku juga. Tapi lihatlah, begitu banyak murid yang datang, itu tandanya beliau sangat dicintai.”

Namun di balik keramaian itu, Fatimah memperhatikan sesuatu. Anak lelaki Pak Hasan berdiri sendirian di tepi makam. Wajahnya murung, matanya sembab. Fatimah tahu, istri Pak Hasan telah lebih dulu wafat bertahun-tahun silam. Kini anak itu benar-benar sendiri.

Hati Fatimah tersayat. “Siapa yang akan menemaninya sekarang?” batinnya lirih.

****

Malam harinya, Fatimah tak bisa tidur. Bayangan wajah gurunya terus hadir. Kenangan demi kenangan berputar seperti film panjang. Ia merasa ada sesuatu yang harus ia lakukan.

Ia lalu mengambil buku catatan kecil dan menulis, “Untuk Pak Hasan, terima kasih atas ilmu dan kasih sayangmu. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu. Izinkan aku membalas meski hanya setitik.”

Keesokan harinya, ia menghubungi teman-temannya di grup alumni.

“Teman-teman, aku punya usul. Bagaimana kalau kita mengadakan donasi kecil-kecilan untuk almarhum Pak Hasan? Uang itu bisa kita gunakan untuk membelikan nisan yang layak, dan sisanya kita serahkan untuk anak beliau yang sekarang sendirian.”

Beberapa teman langsung merespons dengan antusias.

“Setuju!”

“Ide bagus, Fatimah.”

“Kita harus lakukan sesuatu untuk guru kita.”

Fatimah merasa hangat. Ternyata banyak hati yang masih peduli.

Hari-hari berikutnya, Fatimah sibuk menghubungi teman-teman, menyusun daftar, dan mencatat donasi yang masuk. Tak jarang ia menyusuri rumah teman yang tak aktif di grup hanya untuk menyampaikan niat baik itu.

Ada rasa lelah, tapi setiap kali ingat senyum Pak Hasan di ruang kelas, semangatnya kembali menyala. Ia merasa seperti sedang menunaikan amanah yang belum sempat ia balas ketika gurunya masih hidup.

Satu minggu berlalu, terkumpullah dana cukup besar. Fatimah bersama beberapa teman mendatangi rumah anak Pak Hasan. Rumah sederhana itu terasa sunyi. Anak lelaki itu, Rafi, menyambut mereka dengan wajah kaget sekaligus haru.

“Kami murid-murid ayahmu,” kata Fatimah sambil menahan tangis. “Kami datang membawa sedikit kenangan untuk guru kami.”

Rafi terdiam, lalu matanya berkaca-kaca. “Terima kasih… Ayah sering bercerita tentang murid-muridnya, katanya kalian semua seperti anak-anaknya sendiri.”

Fatimah menyerahkan amplop berisi donasi. “Ini mungkin tak seberapa, tapi kami ingin nisan ayahmu nanti bisa menjadi tanda bahwa jasanya tak pernah kami lupakan. Dan semoga ini juga bisa membantu kehidupanmu.”

Rafi menggenggam amplop itu erat. Air matanya jatuh tanpa bisa ia bendung. “Kalian benar-benar anak-anak ayah. Terima kasih…”

****

Beberapa hari kemudian, sebuah nisan sederhana namun indah terpasang di pusara Pak Hasan. Di atasnya tertulis: “H. Hasan bin Abdullah – Guru Sejati, Pengukir Jiwa.”

Fatimah berdiri di depan nisan itu bersama teman-temannya. Mereka membaca doa dengan khusyuk, sementara angin sore menyapu lembut daun-daun kamboja.

Air mata Fatimah kembali jatuh, tetapi kali ini bercampur dengan rasa lega. Ia merasa sudah menunaikan sesuatu yang penting.

“Pak Hasan,” bisiknya, “engkau memang telah tiada, tetapi ilmu dan kasih sayangmu akan selalu hidup di hati kami. Doa kami takkan putus, dan amalmu akan terus mengalir.”

Sejak saat itu, Fatimah merasa hidupnya punya makna baru. Ia belajar bahwa guru sejati bukan hanya pengajar di kelas, tetapi penanam benih kehidupan. Dan murid sejati adalah mereka yang tidak melupakan jasa gurunya meski waktu telah memisahkan.

Fatimah pun menuliskan kisah ini di buku hariannya: “Guru yang baik adalah cahaya yang menerangi, meski akhirnya padam, sinarnya tetap membekas. Dan murid yang baik adalah mereka yang menjaga cahaya itu tetap menyala.”

Ia berjanji dalam hati untuk terus menyebarkan kebaikan, sebagaimana yang selalu diajarkan Pak Hasan. Karena baginya, itulah cara terbaik mengenang jasa sang guru.



Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *