
Di kota-kota besar, kita menyaksikan tren yang makin kuat: bangun pagi sebelum subuh, kerja hingga larut malam, lalu besoknya diulang lagi. Ungkapan seperti “kerja keras selagi muda” atau “tidur untuk orang lemah” menjadi semboyan populer. Fenomena ini dikenal dengan istilah hustle culture, yaitu budaya kerja tanpa henti demi mengejar prestasi, uang, dan status sosial. Di balik pencitraan glamor, sebenarnya banyak cerita tentang kelelahan mental, tubuh yang rusak, hingga hubungan keluarga yang berantakan.
Dalam perspektif Islam, fenomena ini perlu kita kritisi. Islam tidak pernah menolak kerja keras—justru memotivasi umatnya untuk produktif. Akan tetapi, Islam menekankan keseimbangan antara usaha duniawi dan persiapan ukhrawi. Bekerja bukan sekadar mengejar harta, melainkan juga bagian dari ibadah yang harus dijalankan sesuai porsi dan aturan.
Hustle culture melahirkan anggapan bahwa nilai diri manusia diukur dari seberapa sibuk ia bekerja. Istirahat dipandang sebagai kelemahan, bahkan ibadah seringkali tergeser oleh target pekerjaan. Banyak orang merasa bangga mengatakan dirinya hanya tidur 3 jam demi proyek kantor. Padahal, tubuh manusia punya hak, begitu juga jiwa dan keluarga. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ
Artinya: “Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak akan haknya.” (H.R. al-Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa hidup manusia tidak boleh timpang. Mengabaikan hak tubuh dengan kurang tidur, menelantarkan keluarga karena sibuk kerja, atau melupakan Allah karena dikejar target, semua itu bentuk ketidakadilan pada diri sendiri. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar manusia menyeimbangkan urusan dunia dengan akhirat. Allah berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…” (Q.S. al-Qashash: 77)
Ayat ini menunjukkan prinsip keseimbangan. Bekerja keras untuk meraih rezeki halal adalah bagian dari ibadah, tetapi jangan sampai ambisi dunia menghapus orientasi akhirat. Orang yang sibuk mengejar karier tapi melalaikan shalat, pada hakikatnya ia kehilangan tujuan utama hidup.
Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi dalam koridor proporsional. Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan pekerja keras: beliau berdagang sejak muda, memimpin masyarakat, bahkan ikut langsung dalam perang. Namun, beliau tetap membagi waktu untuk ibadah, keluarga, dan umat. Hal ini sejalan dengan sabda beliau:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (H.R. Ahmad)
Produktif dalam Islam berarti memberi manfaat nyata, bukan sekadar sibuk. Artinya, kualitas kerja lebih diutamakan daripada kuantitas jam kerja. Orang yang bekerja cerdas, terukur, dan memberi manfaat akan lebih mulia dibanding orang yang sekadar sibuk tanpa arah.
Banyak dari kita yang terjebak pada pemikiran bahwa makin banyak harta, makin tinggi derajat. Padahal, Islam menilai kemuliaan bukan dari materi, melainkan dari ketakwaan. Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (Q.S. al-Hujurat: 13)
Ayat ini seakan membalik paradigma hustle culture. Ambisi boleh, tapi ukurannya bukan status duniawi, melainkan kualitas takwa. Seorang Muslim bekerja bukan sekadar mencari gaji besar, melainkan agar bisa memberi nafkah halal, berzakat, membantu sesama, dan beribadah dengan lebih lapang.
Hustle culture mungkin tampak keren, tetapi dalam jangka panjang bisa merusak. Islam mengajarkan keseimbangan hidup: bekerja dengan sungguh-sungguh, beristirahat dengan cukup, beribadah dengan khusyuk, dan menjaga keluarga. Hidup bukan sekadar mengejar target dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal akhirat.
Di tengah tekanan zaman modern, ajaran Islam menjadi kompas yang menuntun kita agar tidak terjebak dalam ekstrim materialisme. Dengan menata niat, menjaga proporsi, dan mengingat Allah dalam setiap usaha, kita bisa produktif tanpa kehilangan ruh kehidupan. Sehingga, ketika orang lain sibuk mengejar dunia hingga lupa segalanya, seorang Muslim tetap tenang melangkah: bekerja untuk dunia, tetapi hati tertuju pada akhirat.
Baca Juga: Work Life Balance Itu Mustahil, Benarkah?
Penulis: M. Syukron Ni’am
Editor: Muh. Sutan
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

