
Rumah yang Retak, Hati yang Luka
Aku tumbuh di antara dinding yang sangat dingin,
Di ruang tamu yang lebih sering sunyi dari pada riuh gemuruh.
Suara tawa yang tak oernah singgah,
Yang sering hadir hanyalah pertengkaran dan amarah.
Aku ingin sekali punya keluarga cemara,
Tempat aku bisa pulang tanpa takut,
Tempat peluk ibu yang menenangkan,
Dan suara ayah yang meneduhkan.
Namun yang kudapat hanyalah bayangan,
Tangisan ibu di kamar sendirian,
Ayah pergi dengan wajah penuh beban,
Dan aku
Duduk di pojokan, meneteskan air mata yang bergelimangan
Di balik buku yang tak benar-benar kubaca.
Rumahku bukan rumah cemara,
Tapi aku tetap menanam doa:
Semoga suatu hari,
Ada yang memulihkan retakan ini,
Atau aku belajar menjadi sebuah pondasi baru
Untuk keluarga yang patah dan hancur ini.
Anak yang Belajar Diam
Aku memang kecil, tapi hatiku cepat dewasa.
Aku tahu apa itu kecewa,
Rasa itu jauh ada sebelum aku tahu
Arti sebuah bahagia.
Di meja makan,
Kursi penuh tapi hati terasa kosong.
Ayah bicara keras,
Ibu tertunduk,
Aku menelan nasi bercampur air mata.
Aku tidak berani banyak bicara,
Karena setiap kata pasti akan menjadi api.
Aku belajar diam,
Karena hanya itu yang bisa kulakukan
Agar rumah ini tidak semakin hancur lebur.
Namun diamku juga luka,
Diamku adalah jeritan yang tak terdengar.
Aku ingin sekali memeluk keluarga ini,
Tapi siapa yang mau dipeluk
Jika semua memilih mengasingkan diri lalu pergi.
Aku hanyalah anak kecil,
Yang ingin rumah menjadi tempat berpulang,
Bukan sekedar singgah yang tak berkepemilikan.
Doa Anak di Rumah yang Bisu
Di sebuah malam yang panjang,
Menerpa suara keras yang menyayat terlinga.
Kadang aku berdoa,
Agar tuhan membuat mereka tertidur,
Agar pertengkaran berhenti meski hanya sebentar.
Jujur memang iri,
Kepada yang pulang disambut pelukan.
Kepulangan ku?
Terkadang hanya bertemu pada pintu
Dan wajah-wajah letih yang tak lagi sempat tersenyum.
Tapi di balik segala luka ini,
Aku masih berdoa dengan begitu sungguh:
“ya allah,
Jangan biarkan aku membenci rumah ku sendiri,
Jangan pernah biarkan aku mewarisi luka ini,
Ajarkan aku mencintai meski tak pernah di cintai.”
Mungkin rumahku memang tak cemara,
Tapi aku ingin sekali menjadi sebuah pohon
Yang suatu hari bisa tumbuh kuat,
Memberikan teduh,
Dan menanamkan harapan baru
Meski untuk diri ku sendiri
Yang merapal pilu
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary

Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
