Definisi & Ragam Nama Al-Qur’an: Menyelami Rahasia Makna Beserta Hikmahnya

Definisi & Ragam Nama Al-Qur’an: Menyelami Rahasia Makna Beserta Hikmahnya


Menurut para ulama dan Ushuliyyin, Al-Qurandidefinisikan sebagai Kalamullah al-Mu’jiz (yang melemahkan), yang diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul  yaitu Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam melalui perantara Malaikat Jibril, yang tertulis di dalam mushaf, yang disampaikan secara mutawattir, yang dijadikan ibadah dengan membacanya, yang diawali dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas. Definisi ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh ‘Ali ash-Shabuni dalam karyanya at-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an. [1]

Contents

Nama-Nama Al-Quran

Syekh ‘Ali menekankan bahwa Al-Quran adalah Kitab Samawi yang paling agung secara mutlak [1]. Keagungannya tidak hanya terletak pada kandungan dan petunjuknya, tetapi juga pada nama-nama yang dimilikinya, yang masing-masing mencerminkan kemuliaan derajat dan ketinggian martabatnya. Di antara nama-nama tersebut ialah: Al-Quran, Al-Furqan, At-Tanzil, Adz-Dzikr, Al-Kitab, dan selainnya [1], yang mana seluruh penamaan tersebut bersumber langsung dari Al-Quran sendiri.

Penjelasan mengenai makna dari nama-nama Al-Quran di atas bisa dilihat dalam kitab al-Madkhal li Dirasat Al-Quranal-Karim [2] karya Syekh Muhammad Abu Syahbah. Di sana tertulis bahwa Al-Quran memiliki banyak nama-nama, 4 diantaranya yang paling terkenal adalah:

  1. Al-Furqan, dinamakan dengan Al-Furqan karena Al-Quran telah membedakan antara yang benar dan yang batil.
  2. Al-Kitab, yang merupakan bentuk mashdar dari kata كتب bermakna pengumpulan dan penggabungan, dinamakan dengan Al-Kitab karena Al-Quran mengumpulkan seluruh ilmu-ilmu, kisah-kisah, dan berita-berita.
  3. At-Tanzil, yang merupakan masdhar, yang dimaksud dengannya adalah المنزل (yang diturunkan), dinamakan dengan At-Tanzil karena Al-Quran diturunkan dari sisi Allah Ta’ala.
  4. Adz-Dzikr, dinamakan dengan Adz-Dzikr karena Al-Quran memuat nasihat-nasihat dan peringatan-peringatan. Sebagian ulama berpendapat bahwa penamaan ini terkait dengan kisah para Nabi dan umat terdahulu yang banyak termuat di dalamnya. Pendapat lain menyatakan bahwa penamaan Al-Quran dengan Adz-Dzikr berasal dari kata الذكر dengan makna الشرف (kemuliaan). [2]

Selain daripada nama-nama Al-Quran yang telah disebutkan sebelumnya, para ulama juga menyinggung adanya beberapa nama lain dari Al-Quran, sehingga dikalangan mereka terjadi perbedaan pendapat mengenai jumlah keseluruhan nama Al-Quran. Imam az-Zarkasyi, misalnya, mengatakan bahwa Imam al-Harrali menyimpulkan nama-nama Al-Quran itu berjumlah lebih dari 90. Namun, Imam Zarkasyi sendiri hanya menyebut 55 nama yang ia kutip dari Abu Ma’ali ‘Azizi Ibn Abdul Malik [3], yang kemudian juga dikutip dan disetujui oleh Imam as-Suyuthi. [2]

Menurut Syekh Muhammad Abu Syahbah, Abu Ma’ali bersikap toleran dalam menghitung beberapa istilah yang sebenarnya bukan nama, tetapi dihitung sebagai nama, sehingga didapati 55 nama bagi Al-Quran[2]. Selanjutnya, beliau juga menjelaskan bahwa sebagian besar istilah yang disebut sebagai nama bagi Al-Quran pada hakikatnya adalah sifat, misalnya kata الكريم (mulia) yang dianggap sebagai nama bagi Al-Quran, karena berlandaskan pada Firman Allah Ta’ala:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

‎اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ

Artinya: “Sesungguhnya ia benar-benar Al-Quranyang mulia.” (QS. Al-Waqi’ah: 77)

Dan kata مبارك (yang diberkahi) yang juga dianggap sebagai nama bagi Al-Qur’an, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

‎وَهَٰذَا ذِكْرٌ مُّبَارَكٌ

Artinya: “Ini (Al-Qur’an) adalah peringatan yang diberkahi.” (QS. Al-Anbiya: 50)

Padahal yang jelas dari kedua lafadz di atas (الكريم & مبارك) bukanlah nama, melainkan sifat bagi Al-Quran. Hal serupa juga terjadi pada istilah yang dianggap nama bagi alquran secara takalluf (dibuat-buat), misalnya kata مناديا (yang menyeru) dianggap sebagai nama bagi Al-Qur’an, karena berasas pada Firman Allah Ta’ala:

‎رَبَّنَآ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُّنَادِيْ لِلْاِيْمَانِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru pada keimanan.” (QS. Ali Imran: 193)

Demikian pula, kata الزبور yang dianggap sebagai nama bagi Al-Quran, berlandaskan pada Firman Allah Ta’ala:

‎وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ

Artinya: “Sungguh, kami telah menuliskan di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Adz-Dzikr (Lauh Mahfudz) bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al-Anbiya: 105)

Sementara yang jelas, dan inilah pendapat yang dianut oleh mayoritas mufassir, bahwa yang dimaksud dengan kata المنادى adalah Rasul, sedangkan yang dimaksud dengan kata الزبور adalah Kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud ‘Alaihissalam. Adapun lafaz الذكر, sebagian mufassir mengatakan itu adalah Taurat. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lafaz الزبور adalah seluruh kitab yang diturunkan, dan lafaz الذكر adalah Lauh Mahfuzh. [2]

Hikmah Berbilangnya nama-nama Al-Qur’an

Setelah mengetahui bahwasanya Al-Quran memiliki nama-nama yang banyak, barangkali muncul pertanyaan: “Apa hikmah dibalik banyaknya nama Al-Quran?” Jawaban dari pertanyaan ini agaknya telah lebih dahulu dikaji oleh para ulama. Salah satu diantaranya adalah Syekh Muhammad ‘Abdullah Darraz, dalam karyanya an-Naba’ al-‘Adzim [3], beliau menjelaskan bahwa di dalam penamaan Al-Quran dengan dua nama yaitu Al-Kitab dan Al-Quran terdapat isyarat bahwa Al-Quran memiliki hak untuk dijaga pada dua tempat: di hati (hafalan) dan di lembaran-lembaran (tulisan), bukan hanya pada salah satunya. Dengan demikian, jika salah satunya hilang, maka yang lain akan menjadi pengingat.

Selanjutnya, Syekh Darraz juga menekankan, bahwa penjagaan atau hafalan seorang penghafal tidak dapat dipercaya kecuali hafalannya itu sesuai dengan tulisan yang disepakati dari para Sahabat dan disampaikan dari generasi ke generasi sebagaimana bentuk awalnya. Begitu pula, catatan seorang penulis baru dipercaya apabila tulisannnya sesuai dengan hafalan para penghafal dengan sanad yang shahih dan mutawattir.

Dengan perhatian ganda yang Allah Ta’ala bangkitkan pada setiap jiwa umat Nabi Muhammad، (yakni perhatian pada hafalan dan tulisan), Al-Quran tetap terjaga dalam benteng yang kokoh sebagai bentuk pelaksanaan janji Allah Ta’ala yang telah menjamin untuk menjaganya, Firman Allah Ta’ala:

‎إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya: “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qurandan pasti kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Karenanya, Al-Quran juga tidak mengalami apa yang menimpat kitab-kitab terdahulu, berupa distorsi, perubahan, serta terputusnya sanad. Hal itu terjadi karena Allah Ta’ala tidak menjamin untuk menjaganya dan bahkan menyerahkan pemeliharaannya kepada hafalan manusia. [4]

Selain itu, berbilangnya nama Al-Quranyang bukan sekadar variasi, menunjukkan kemuliaan dan kesempurnaan المسمى (sesuatu yang dinamai), dalam konteks di sini ialah Al-Quran, seperti yang diutarakan oleh Syekh Fayruzaabadi.

Sebagai perumpamaan, Syekh Fairuz mengungkapkan banyaknya nama أسد (singa) itu mencerminkan kesempurnaan kekuatan yang dimiliki singa [5]. Fenomena ini sejalan dengan pengamatan Imam Ibnu Faris, yang menyatakan bahwa orang-orang di luar Arab hanya mengetahui satu nama untuk singa, yaitu أسد, sedangkan beliau sendiri mampu menghimpun tidak kurang dari 150 nama untuk singa. Bahkan, Abu ‘Abdillah Ibn Khalawaih mengatakan bahwa dirinya telah mengumpulkan hingga 500 nama untuk singa. [6]

Begitu pula, banyaknya nama kiamat menunjukkan kesempurnaan kekhawatiran dan kesulitannya. Banyaknya nama bencana mencerminkan besarnya potensi kehancuran. Banyaknya nama Allah mencerminkan kesempurnaan kemuliaan dan keagungan-Nya. Banyaknya nama Nabi menunjukkan keluhuran kedudukan dan keagungan derajat beliau. Demikian pula, banyaknya nama yang disematkan pada Al-Quranmenunjukkan kemuliaan dan keutamannya. [5] Wallahu’alam


Referensi:

[1]. Muhammad ‘Ali ash-Shabuni, at-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 12 & 14, Mesir: Dar al-‘Alamiyyah, 2016.

[2]. Muhammad Ibn Muhammad Abu Syahbah, al-Madkhal li Dirasat Al-Quranal-Karim, hlm. 22-23, Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyyah, 1997.

[3]. Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 370, Beirut: Dar El-Marefah, 1990.

[4]. Muhammad ‘Abdullah Darraz, an-Naba’ al-‘Adzim Nadzarat Jadidat fi al-Qur’an, hlm. 6, Riyadh: Dar Thaybah, 1997.

[5]. Muhammad Ibn Ya’qub al-Fayruzaabadi, Bashair Dzawi at-Tamyiz fi Lathaif al-Kitab al-‘Aziz, jld. 1, hlm. 88, Kairo: al-Majlis al-‘Ala li Syu’un al-Islamiyyah — Lajnah Ihya at-Turats al-Islami, 1996.

[6]. Ahmad Ibn Faris, ash-Shahabi fi Fiqh al-Lughah al-‘Arabiyyah wa Masailiha wa Sunan al-‘Arab fi Kalamiha, hlm. 22, Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyyah, 1997.


Penulis: Kamil Sami Al Faruq

Editor: Muh. Sutan



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *