
Hari itu mentari baru saja menembus celah pepohonan. Burung-burung berkicau, dan embun yang menempel di daun padi masih enggan mengering. Di beranda rumah kayu sederhana, seorang gadis berkerudung duduk berhadapan dengan ibunya. Namanya Dara, mahasiswa semester lima di sebuah kampus ternama di Jawa Timur.
Ia pulang ke desa bukan untuk berlama-lama, melainkan untuk berpamitan. Hari ini, ia akan kembali ke kota dengan misi yang lebih besar dari sekadar kuliah, ia akan turun ke jalan, memimpin orasi mahasiswa yang memperjuangkan suara rakyat kecil.
“Mak, aku pamit besok balik ke perantauan. Ada aksi besar di depan gedung DPRD,” ucap Dara dengan suara mantap, meski hatinya bergetar.
Ibunya, seorang perempuan paruh baya berhijab sederhana, terdiam sejenak. Tangannya berhenti mengupas jagung. Mata teduhnya menatap anak semata wayang yang sejak kecil digadang-gadang menjadi kebanggaan keluarga.
“Dara… Nak, apa kau yakin? Dunia demo itu keras. Polisi, gas air mata, orang-orang yang marah. Ibu takut kau terluka.”

Dara menggenggam tangan ibunya. “Mak, justru karena itu aku harus berangkat. Aku tidak ingin jadi mahasiswa yang hanya pandai duduk di kelas, membaca buku, lalu lulus tanpa pernah peduli pada nasib rakyat. Aku ingin suaraku menjadi doa sekaligus perjuangan. Bukankah Rasulullah mengajarkan kita untuk menegakkan kebenaran, meski pahit?”
Ibunya menunduk, lalu mengusap air mata yang menetes. “Nak, Ibu paham. Kau ingin memperjuangkan keadilan. Tapi ingatlah, perjuangan sejati bukan hanya dengan teriak di jalan. Doa, sabar, dan akhlak juga bagian dari jihad. Jangan sampai emosimu menutup pintu kasih sayang.”
Dara mencium tangan ibunya. “Aku janji, Mak. Aku akan tetap menjaga akhlak. Aku akan teriak dengan nurani, bukan dengan kebencian.”
Di sudut rumah, ayahnya yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya berat, seperti suara tanah yang lama disiram hujan. “Dara, Ayah hanya pesan satu. Kau boleh lantang menyuarakan rakyat, tapi jangan lupakan shalatmu. Sebab tanpa Allah, perjuangan hanya jadi keributan kosong.”
Dara menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. “In syaa Allah, Yah. Aku akan tetap sujud di sela keramaian, sebab dari sujudlah lahir kekuatan.”
****
Keesokan harinya, Dara berangkat dengan bus menuju Surabaya. Sepanjang perjalanan, ia melihat sawah-sawah yang menguning, para petani yang membungkuk memanen padi. Hatinya terenyuh. Mereka bekerja keras, tapi harga gabah tetap rendah. Mereka memberi makan bangsa, tapi hidup mereka masih tercekik.
“Untuk mereka aku berjuang,” gumamnya.
Sesampainya di kampus, Dara langsung bergabung dengan kawan-kawan organisasinya. Spanduk-spanduk tuntutan sudah dicetak.
“Turunkan harga sembako!”
“Tolak kebijakan yang menindas petani!”
“Keadilan untuk rakyat kecil!”
Seorang teman menepuk bahunya. “Dara, kau yang orasi nanti. Suaramu tegas, dan kau punya data. Kau pemimpin kita.”
Dara menunduk sejenak. Ya Allah, kuatkan lidahku agar ini bukan sekadar teriakan, tapi jadi amal.
****
Kerumunan massa sudah berkumpul di depan gedung DPRD provinsi. Polisi berbaris dengan tameng, menatap tajam mahasiswa yang datang berduyun-duyun. Jalanan panas, terik matahari menambah sesak dada.
Dara naik ke atas mobil komando. Mikrofon digenggam erat. Nafasnya bergetar. Ia teringat wajah ibunya, doa ayahnya, dan wajah para petani di desanya.
“Saudara-saudara! Kita di sini bukan untuk merusak, bukan untuk menebar kebencian! Kita datang dengan hati yang tulus, menyuarakan suara rakyat yang terpinggirkan. Petani kita menangis karena harga gabah jatuh! Nelayan kita tercekik oleh biaya solar! Mahasiswa harus menjadi corong keadilan!”
Massa bertepuk tangan, sorak-sorai menggema.
“Apakah kita rela, orang tua kita hanya jadi kuli di tanah sendiri? Apakah kita rela keadilan hanya jadi wacana di meja para elit?” teriak Dara lantang.
“Tidak…!!!” jawab ribuan suara.
Dara melanjutkan, “Maka hari ini, kita berdiri! Demi Indonesia yang adil, demi masa depan yang tidak hanya milik pejabat, tapi milik rakyat jelata! Takbir!”
“Allahu Akbar!” teriak massa serempak.
****
Namun, situasi memanas. Polisi mulai menembakkan gas air mata. Beberapa mahasiswa berlarian, batuk, menangis. Batu melayang dari arah kerumunan, meski bukan dari kelompok Dara. Suasana kacau.
Dara turun dari mobil komando, membantu seorang mahasiswi yang terjatuh. “Ayo, tenang! Jangan terpancing!” serunya.
Di tengah kepulan asap, Dara mengambil wudhu dengan botol air mineral yang ia bawa. Lalu ia bentangkan sajadah tipis di trotoar. Dengan wajah yang masih basah air mata, ia sujud.
Beberapa mahasiswa menoleh, terkejut. Lalu satu per satu ikut shalat di belakangnya. Suara teriakan berganti lantunan doa. Di sela kekerasan, ada sekelompok anak muda yang menunduk pada Sang Maha Kuasa.
Polisi yang melihat adegan itu pun terdiam. Beberapa menurunkan tameng, seakan tersentuh. Setelah shalat, Dara kembali memegang mikrofon. Suaranya lebih lembut, tapi tajam menusuk hati.
“Kami bukan musuh kalian, Pak Polisi. Kami tahu kalian juga punya anak, punya istri, punya orang tua di kampung. Kami hanya ingin suara rakyat didengar. Kami ingin bangsa ini lebih adil. Jangan lihat kami sebagai lawan, tapi sebagai saudara.”
Keheningan menyelimuti sejenak. Sorak-sorai reda, berganti hening penuh makna. Seorang polisi berpangkat menunduk, lalu memberi isyarat kepada pasukannya untuk mundur setapak. Ia maju dan berkata dengan suara pelan, “Kami akan sampaikan aspirasi kalian ke dewan. Tolong jaga ketertiban.”
Massa pun menyambut dengan takbir, tapi kali ini tanpa amarah, melainkan dengan haru.
****
Malam itu, Dara kembali ke kos dengan tubuh lelah. Di layar ponselnya, ada pesan dari ibunya:
“Nak, Ibu lihat berita. Kau memimpin demo dengan orasi yang menyejukkan. Ibu bangga, bukan karena kau terkenal, tapi karena kau tetap ingat Allah di tengah keramaian. Itu jihadmu, Nak. Semoga kau istiqamah.”
Air mata Dara menetes. Ia sujud syukur.
Beberapa hari kemudian, video Dara berorasi sembari mengajak shalat viral di media sosial. Banyak yang terinspirasi. Ia menulis catatan di akun kampusnya:
“Mahasiswa adalah jembatan antara rakyat dan penguasa. Tugas kita bukan hanya marah, tapi membawa cahaya. Demo bukan sekadar teriak, tapi ibadah bila niatnya benar. Perjuangan harus lahir dari cinta, bukan kebencian. Sebab bangsa ini hanya bisa kokoh bila kita bersatu: mahasiswa, rakyat, aparat, semua dalam bingkai keadilan.”
Dara menutup tulisannya dengan doa: “Ya Allah, jadikan suaraku bukan hanya teriakan, tapi saksi bahwa aku pernah berjuang untuk-Mu dan untuk negeri ini.”
Di desa, ayah dan ibu Dara mendengar kabar itu dengan lega. Mereka tahu anak gadisnya telah menjadi suara dari kampus, suara dari desa, suara dari hati nurani bangsa. Di beranda rumah kayu itu, sang ibu berbisik lirih di bawah langit malam, “Teruslah berjuang, Nak. Asal bersama Allah, kau tak pernah sendiri.”
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
