
Berapa lama seseorang bisa bertahan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan? Kalau Rifad, jawabannya lima tahun. Namanya Fairuz Salsabila. Tapi Rifad Aji Al Barak senang memanggil dengan panggilan terakhir dari nama perempuan itu, Bila. Bila merupakan adik tingkat Rifad di Madrasah Aliyah Mojokerto dulu, dan di Fakultas Komunikasi Penyiaran Islam sekarang. Bila memang cukup terkenal di program pendidikannya karena akan maju sebagai calon kandidat ketua BEM di periode ini, mewakili KPI.
Selain karena parasnya yang cantik, Bila memang dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas dan berwawasan luas. Sebab itulah semua kelebihan yang berasal dari kepala manusia memang selalu mengagumkan, seperti yang Rifad rasakan sekarang terhadap Bila.
Selama lima tahun pula, Rifad menyimpan rasa itu diam-diam. Meski pertemuan selalu mempertemukan mereka, namun entah mengapa keduanya tak pernah saling bicara seperti saat dengan teman-teman lainnya.
“MasyaAllah cantik, pinter sisan,” puji Rifad ketika melihat gambar perempuan itu di Instagram kampus.
“Tapi sayangnya bukan punyaku ya Allah,” imbuhnya dalam batin.

Ya, seperti itulah kehidupan. Terkadang kita hanyalah seseorang penonton yang hanya suka, bukan memiliki sepenuhnya. Namun untuk saat ini, keadaan yang dirasakan membuat Rifad bersyukur dan merasa cukup senang, karena masih diberi kesempatan untuk bisa memperhatikan perempuan itu dari jauh.
“Tau enggak, Fad, kutipan dari Imam Syafi’i,” kata Jamal sembari menepuk pundak Rifad.
“Opo’o emang e?”
“Di antara musibah terbesar dalam hidup adalah ketika kamu jatuh cinta, tapi orang itu tidak mencintaimu,” ucap Jamal setelah melirik temannya yang terus menggulir layar handphone menatap foto kekasih yang sampai saat ini hanya bisa dikagumi.
“Bukan tidak cinta, tapi belum, Mal. Toh memang selalu butuh waktu kan untuk mendapatkan sesuatu yang indah, seperti puncak yang selalu kita taklukkan biasanya,” jawab Rifad. Jamal pun mengangguk memahami maksud sahabatnya.
“Tapi bagaimana jika selama kamu mengejar dia, tapi ternyata dia bukan takdirmu, Fad?” tanya Wahyu.
“Nah, berarti yang harus dipahami di bumi ini, bahwa di bumi yang luas ini, akan selalu ada seseorang yang memang hanya bisa dikagumi, tidak berlanjut untuk dimiliki,” jawab Rifad sambil menyunggingkan senyum pasrah.
***
Hari demi hari berlalu, pesan yang tersampaikan tak kunjung terbalaskan. Seperti disengaja memberi jeda, agar terlihat bagaimana Rifad berusaha dalam mendapatkan hati Fairuz Salsabila. Hingga suatu hari saat pesan masuk, notifikasi yang terpampang adalah nama favorit dari sekian nama yang ada di kontak handphonenya.
“Fairuz Salsabila.”
“Mas Rifad, terima kasih logistiknya. Kata Mas Jamal itu dari Mas Rifad ya.”
Melihat itu, Rifad langsung memperbaiki posisi duduknya. Senyumnya seketika mekar, seolah tak peduli dengan salah tingkahnya yang begitu alay untuk usianya yang hampir menginjak kepala tiga. Jantungnya berdetak begitu kencang. Malam itu, untuk pertama kalinya seorang Fairuz Salsabila menyapanya dalam kesunyian.
“Eh, Bila. Sama-sama, Bil. Semoga senang dan kenyang ya, sehat dan selamat di sana,” balasnya.
***
Sejak saat itu, komunikasi antara keduanya makin erat. Selain satu fakultas dan program pendidikan, ternyata keduanya juga memiliki kesamaan hobi dan tergabung dalam UKM yang sama yakni BIMAPALA.
Kedekatan keduanya pun makin tersorot mata siapa pun yang melihat. Termasuk grup pertemanan Rifad, “Grup Penghuni Surga.”
“Jangan lupa traktiran, Brodi,” ucap Jamal.
“Yuhuuuu, pajak jadian dong, Kaks,” tambah Wahyu.
“Besok, tak traktir di kantin Gedung B,” balas Wahyu di grup WhatsApp.
Keesokan harinya, grup Penghuni Surga sudah memenuhi kantin dan membawa berbagai macam makanan ke tengah meja bundar tongkrongan mereka. Saat mereka sedang tertawa dengan pembahasan yang riuh, melihat Bila masuk ke kantin, Wahyu langsung memukul pundak Rifad sembari menoleh ke arah yang dimaksud. Melihat itu, Rifad hanya tersenyum sembari merapal doa.
“Semoga kamu bukanlah manusia yang salah yang sedang aku doakan dengan keseriusan panjang.”
“Tapi meskipun nanti ternyata kamu orang yang salah, aku tetap bersyukur jika memiliki rasa seperti ini untukmu.”
Setelah Bila menyapa kala itu, hari-hari Rifad selalu ditemani oleh perempuan tersebut, dan bagi Rifad, hari-hari yang biasanya sendu menjadi haru dan istimewa sekali rasanya. Keduanya pun sering mengelilingi Jombang dan mengitari kota itu dengan keindahannya bersama Si Merah motor KLX milik Rifad Al Mubarok. Senang rasanya, Si Merah pada akhirnya berhasil menemani Rifad berkelana mengenal Fairuz Salsabila lebih lama.
Hingga suatu hari, saat mereka sedang berada di salah satu wisata yang ada di Mojokerto, sembari menikmati pemandangan indah, Rifad pun memberanikan diri untuk mengutarakan isi hati yang sebenarnya kepada sang pujaan hatinya.
“Bila, sebenarnya aku suka kamu sudah dari lima tahun lalu.”
Kemudian Rifad pun membisu, peluh bercucuran menemani detak jantung yang bergetar tak karuan. Ia bingung, menatap Bila yang tertunduk lesu tak bersuara.
Semenit, dua menit, hening dan sunyi. Tak kunjung terdengar jawaban, hanya suara air dan penjual yang sibuk melarisi dagangan.
“Emm, enggak semua harus dijawab sekarang kok, Bil. Maaf ya, mengganggu pikiranmu tiba-tiba begini.”
Masih hening, keduanya pun saling berpaling memandangi apa saja yang bisa dipandang.
“Kenapa suka selama itu, Kak?” tanya Bila.
“Sebab Tuhan tidak akan membawa aku sejauh ini kalau bukan kamu orangnya. Dan kalaupun perasaan itu salah, pasti Allah akan menghapusnya sejak lama,” ucap Rifad sendu.
“Tapi aku perempuan biasa dengan banyak kekurangannya, Kak.”
Rifad hanya tersenyum menatap Fairuz Salsabila.
“Bagaimanapun itu, kamu sesempurnanya makhluk ciptaan Tuhan tanpa kurangnya.”
Kepada yang dicintai, terkadang semua terlihat sempurna meski terpampang jelas kekurangannya. Keduanya pun terdiam, senja mulai menyapa dan membuat mereka pergi meninggalkan sisa rasa yang belum terbalaskan.
Dua hari sudah berlalu, tidak ada kabar dari gadis yang dikaguminya itu membuat Rifad gelisah. Hingga pada akhirnya satu pesan masuk dari kontak favorit bertuliskan: “Mas Rifad, aku pengen ngobrol di tempat biasanya ya.”
Di hari setelahnya, keduanya pun bertemu di tempat sesuai perjanjian.
Hening pun kembali menyapa keduanya. Kembali dengan orang yang mencintai setiap tahunnya, apakah kurang istimewa?
“Mas Rifad, terima kasih untuk rasanya, hatinya, dan keberaniannya. Terima kasih juga untuk segala hal dan kesetiaan di tiap tahunnya,” ucap Bila sembari menatap Rifad lebih lama.
“Jujur, sepahit ini kah menerima sesuatu yang terlambat diungkapkan dan aku miliki. Bukan tak ingin membalas, tapi nyatanya ada yang lebih dulu meminta dan bertemu orang tua serta memperoleh restu mereka, Mas.”
Mendengar itu, Rifad seperti dihantam batu besar. Dadanya seketika begitu sesak. Pikirannya berhamburan begitu hancurnya, matanya memanas, tubuhnya melemas.
“Maaf jika rasa yang lama itu tidak bertuan dan tidak terbalaskan pada akhirnya. Harapanku semoga akan ada sosok pengganti yang menitipkan rasaku sedalam-dalamnya pada hati yang tak tertakdirkan saat ini.”
Fairuz Salsabila pun melangkah pergi meninggalkan Rifad Aji Al Barak seorang diri.
Ternyata semesta memberi cerita pahit yang membuat sakit. Mengapa begitu tega pada dirinya yang sungguh-sungguh dalam mencinta? Waktu terus berjalan hingga tanpa sadar, tempat yang ramai kini sunyi dan sepi tak berpenghuni, menyisakan Rifad seorang diri. Dengan langkah juntai, ia melangkah pergi.
Pikirannya berputar pada lima tahun dengan hal dan manusia yang berharga serta istimewa selama ia menjalani hidup di dunia. Meski pada akhirnya hanya menjadi sosok pengagum tiada henti, ia sangat bersyukur sekali. Rifad pun teringat dengan kalimat sakral pada novel yang minggu lalu baru selesai ia baca: “Jika diberi berarti baik, jika tidak diberi berarti ada yang lebih baik.”
Baginya, tak ada yang sia-sia. Semua rasa ini memang murni untuk Fairuz Salsabila. Bersama atau tidak, Rifad Al Barak akan tetap menyukainya. Sebagai pengagum, ia bersyukur pernah diberi kesempatan untuk sekadar tegur sapa, bercanda, dan tertawa dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Kini Rifad tahu, bahwa bagaimanapun perjuangan, jika bukan takdir, ia hanya mampir.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

