Bus yang Membawa Ibu Pergi

Bus yang Membawa Ibu Pergi


(ilustrasi: shutterstock)

“Bu, jangan pergi lagi…” suara lirih itu keluar dari bibir mungil Dira, anakku yang masih duduk di bangku kelas dua SD. Matanya yang bulat bening menatapku, penuh harap agar aku tak lagi meninggalkan rumah.

Aku berjongkok, meraih tangannya yang kecil. “Nak, Ibu harus kerja. Kalau Ibu nggak kerja, kamu dan adikmu nggak bisa sekolah, nggak bisa makan.” Suaraku bergetar. Aku mencoba tersenyum, meski di dada ada perih yang mengganjal.

“Kenapa Ibu harus kerja jauh? Kenapa nggak di rumah aja?” Kali ini yang bertanya adalah adiknya, Rafi, yang baru lima tahun dan baru masuk TK. Ia meringis sambil memeluk kakaknya.

Aku terdiam. Bagaimana menjelaskan pada anak-anak sekecil itu bahwa di kampung ini, pekerjaan tetap sulit sekali didapat? Bahwa untuk membayar biaya sekolah, listrik, beras, dan kebutuhan lain, aku harus banting tulang, jadi apa saja, buruh cuci, jualan kue, hingga bekerja di kota tetangga jadi asisten rumah tangga.

Aku mengusap kepala mereka. “Ibu janji, semua ini Ibu lakukan buat kalian. Supaya kalian bisa sekolah tinggi, supaya nanti hidup kalian nggak sesusah Ibu.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dira menunduk, air matanya menetes di punggung tanganku. Hatiku terasa diremas. Rasanya aku ingin membatalkan niat pergi sore itu. Namun, kenyataan tidak memberi pilihan. Aku sudah diterima kerja di sebuah warung makan di kota. Gajinya memang tak besar, tapi cukup untuk membayar tunggakan sekolah dan utang di warung tetangga.

***

Malam itu, setelah anak-anak tertidur, aku membuka buku tulis bekas milik Dira. Aku ingin menuliskan sesuatu. Entah kenapa, ada dorongan kuat dalam hati: aku ingin menulis cerpen tentang perjalanan hidupku, meski hanya aku sendiri yang mungkin membacanya nanti.

Kucatat judul sederhana, “Air Mata yang Kutitipkan.” Kugoreskan pena dengan tangan gemetar.

Aku menulis:

Seorang ibu berdiri di persimpangan jalan kehidupan. Ia memikul beban yang lebih berat dari tubuhnya sendiri. Hidupnya bukan tentang pilihan indah, melainkan tentang bagaimana bertahan.

Setiap pagi, ia menitipkan anak-anaknya kepada tetangga. Anak-anak itu masih kecil, bahkan ada yang belum bisa menyalin huruf dengan rapi. Hatinya selalu bergetar saat meninggalkan rumah: bagaimana kalau anak-anak lapar, bagaimana kalau mereka menangis mencari ibunya? Namun, perut mereka harus diisi, biaya sekolah harus dibayar.

Ia bekerja serabutan: menyapu rumah orang, mencuci pakaian, menjajakan gorengan di pinggir jalan. Tangannya kapalan, punggungnya sering sakit, namun ia tak pernah mengeluh. Hanya pada malam sunyi, ia menangis diam-diam.

Yang paling perih baginya adalah ketika ia tak sempat menyaksikan anak-anaknya tumbuh. Hari pertama sekolah, ia absen. Saat sang anak berhasil membaca lancar, ia tak ada di sana. Bahkan ketika anaknya sakit demam, ia baru tahu setelah pulang kerja larut malam.

Setiap kali pulang, ia mendapati anak-anak tidur memeluk bantal. Ia menatap wajah mereka, lalu membelai rambutnya pelan. “Maafkan Ibu, Nak,” bisiknya. Air matanya jatuh, tapi anak-anaknya tak pernah tahu.

Aku berhenti menulis. Tangisku pecah. Kertas di hadapanku basah oleh air mata. Rasanya cerita itu bukan sekadar tulisan, melainkan cermin dari hidupku sendiri.

Aku menatap wajah anak-anakku yang tidur pulas. Wajah polos itu membuatku ingin menyerah, ingin berhenti bekerja, dan hanya menjadi ibu yang penuh waktu. Namun, dunia ini kejam. Tidak memberi ruang untuk kemewahan seperti itu bagi orang sepertiku.

***

Keesokan paginya, saat matahari baru menyembul, aku bersiap berangkat. Tas kecil sudah kupanggul. Tetangga, Bu Minah, sudah datang untuk menjaga anak-anak.

Dira menghampiriku, memeluk erat pinggangku. “Bu, jangan lama-lama ya…” katanya dengan suara parau.

Aku menunduk, menahan tangis, lalu mencium keningnya. “Ibu janji, akan pulang secepatnya.” Rafi pun ikut memelukku. Ia hanya diam, tapi aku bisa merasakan tubuh kecilnya bergetar.

Aku melangkah pergi dengan langkah berat. Di setiap langkah, aku meninggalkan sepotong hatiku di rumah itu.

Dalam perjalanan di bus menuju kota, aku kembali membuka buku tulis itu. Kualihkan pandangan dari jendela, dan kulanjutkan cerita:

Ibu itu tahu, suatu saat anak-anaknya akan mengerti. Mereka akan paham, bahwa kasih sayang seorang ibu tak selalu hadir dalam bentuk kehadiran fisik. Kadang kasih sayang itu hadir dalam bentuk peluh yang jatuh di lantai rumah orang lain, dalam piring nasi yang terhidang di meja, dalam seragam sekolah yang bersih, dalam buku tulis yang tak pernah habis dibeli.

Ibu itu hanya berharap, ketika anak-anaknya dewasa nanti, mereka tak akan marah, tak akan menyalahkan. Ia berharap, anak-anaknya akan melihat bahwa semua pengorbanan ini adalah wujud cinta yang tak pernah putus.

Dan jika pun suatu saat ia tak lagi kuat, ia hanya ingin anak-anaknya mengingat satu hal: bahwa di balik setiap tetes air mata yang ia titipkan, ada doa yang tak pernah putus untuk kebahagiaan mereka.

Aku menutup buku tulis itu dengan tangan bergetar. Di luar jendela, matahari mulai meninggi, sinarnya menembus kaca bus. Kutatap cahaya itu dengan hati penuh luka, tapi juga dengan harapan.

“Ya Allah,” bisikku lirih, “kuatkan aku, supaya aku bisa terus bertahan. Demi anak-anakku.”

Perjalanan itu pun berlanjut, sebuah perjalanan seorang ibu yang menuliskan hidupnya dengan tinta air mata, tetapi juga dengan cinta yang tak pernah habis.



Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *