
Di ujung dusun yang tak pernah masuk siaran cuaca, tinggal seorang nenek renta bernama Suminem warga biasa menyapanya Mak Sum. Rumahnya berdinding papan, beratap seng berkarat, dan di sampingnya berdiri kandang sederhana dari kayu bekas. Di situlah harapan hidup Mak Sum bertengger setiap pagi.
Sepuluh ekor ayam petelur. Itulah satu-satunya harta berharga yang ia punya. Ayam-ayam itu bukan sekadar ternak, tapi sumber makan, penghibur sepi, dan simbol kecil bahwa hidupnya masih berjalan meski terseok. Telur-telur itulah yang saban hari dimasaknya kadang digoreng, kadang dibikin semur, kadang cukup direbus dengan garam dan nasi sisa kemarin.
Dua di antara ayam itu, sudah ia pilih jauh-jauh hari. Paling gemuk, paling sehat. Akan disembelih untuk tumpeng peringatan lima tahun wafatnya suaminya, Pak Karyo. Ia ingin membagikan nasi tumpeng di musholla dekat rumah, sebagai bentuk doa dan kenangan.
“Tak bikin tumpeng seadanya, Bapak… asal niatku sampe,” gumamnya setiap malam sebelum tidur.
Namun malam itu, dusun menjadi liar. Acara ulang tahun anak kepala dusun menghadirkan sound horeg yang mengguncang bumi. Dentuman bass menghajar jantung kampung, suara biduan dangdut menyalip angin, dan lampu disko murahan menari-nari di jalan becek. Tak ada yang mendengar apa pun selain musik.

Dan dalam keramaian itulah, seorang pencuri bekerja dalam senyap. Ia masuk ke pekarangan Mak Sum, membobol kandang ayam, dan dalam waktu singkat habis.
Sepuluh ayam raib, tak bersisa, tak ada bulu, tak ada suara gaduh. Yang tertinggal hanya pintu kandang yang menggantung setengah patah, dan jejak kaki samar di tanah basah.
Pagi hari, Mak Sum berjalan seperti biasa menuju kandangnya, dengan kantong plastik berisi dedak. Tapi langkahnya terhenti. Matanya menatap kosong ke arah kandang yang kini hampa. Sepuluh ekor ayam, hilang. Semua.
Ia tak menjerit. Tak menangis. Hanya lututnya yang tiba-tiba lemas, membuat tubuhnya jatuh perlahan ke tanah.
Ditatapnya kandang itu lama terlalu lama.
“Itu… tumpeng Bapak… itu buat makan besok… buat aku hidup…” Suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Saat itu juga, Niluh gadis desa yang tiap pagi lewat depan rumah Mak Sum untuk belanja ke warung melihat tubuh renta itu terduduk di tanah.
“Mak… kenapa?”
“Semua ilang, nduk… semua… ayamku, sepuluh-sepuluhnya…”
Mak Sum menatap ke arah tanah, matanya kosong.
“Padahal dua mau tak sembelih buat tumpeng almarhum Bapak… sekarang… telur pun udah nggak ada lagi, Le… makan apa aku besok…”
Niluh tercekat.
Ia tahu ayam-ayam itu bukan sekadar hewan. Itu satu-satunya sumber makan Mak Sum, satu-satunya alasan bangun pagi, satu-satunya wujud cinta terakhir pada mendiang suaminya. Dan ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya, gas 3 kilo Mak Sum hilang. Lalu panci. Pernah juga sepeda tuanya. Tapi setiap laporan yang coba disampaikan ke Pak RT Sugeng, hanya berujung pada kalimat yang makin menyesakkan:
“Wes, Bu. Ora usah digede-gede. Maling ayam tok. Ora ono CCTV, ra sah rame.”
Hari itu, Niluh tak jadi ke warung. Ia duduk di samping Mak Sum, menggenggam tangannya yang gemetar dan kotor oleh tanah. Tak ada warga lain yang datang. Tak ada yang peduli. Dalam hati Niluh, ada bara amarah, ketidakadilan yang sudah terlalu sering membungkam suara rakyat kecil.
“Aku bantu, Mak. Nggak bisa gini terus. Kalau suara panjenengan nggak didengerin, biar aku yang bersuara.”
Dan sejak saat itu, langkah kecil untuk melawan ketidakadilan pun dimulai dari seekor ayam, dari seorang nenek tua, dan dari satu suara yang tak mau diam.
Langit siang itu mendung. Udara panas bercampur pengap. Di teras rumah Mak Sum, Niluh masih duduk, menatap kandang kosong yang tinggal puing-puing kayu lapuk. Bau anyir samar masih tersisa. Mak Sum hanya terdiam matanya menerawang jauh seolah jiwanya sudah ikut pergi bersama ayam-ayamnya yang hilang.
“Mak… aku mau lapor ke Pak RT, ya?”
Mak Sum menggeleng pelan.
“Ra usah, Nduk… percuma. Wong kayak aku, mana ada yang peduli. Dulu-dulu juga ilang, ora ono sing ditanggepi.”
“Tapi Mak… ini sepuluh ekor! Nggak bisa didiemin. Ini pencurian, bukan hal kecil.”
Mak Sum menatap Niluh sebentar. “Yowes… kalau kamu masih punya semangat, silakan. Tapi jangan terlalu berharap.”
Niluh bangkit, merapikan jilbabnya yang agak miring karena tergesa. Tanpa banyak pikir, ia berjalan cepat menuju rumah Pak RT Sugeng yang tak terlalu jauh dari situ. Hatinya mendidih. Ia tak peduli ini “Cuma ayam” yang ia tahu, ini ketidakadilan yang makin nyata.
Sesampainya di rumah Pak RT, ia mengetuk pintu pagar.
“Pak Sugeng!” panggil Niluh.
Tak lama, seorang pria paruh baya bersarung dan kaus oblong membuka pintu sambil menguap. Di tangannya masih ada rokok linting setengah terbakar.
“Lho, Niluh? Ada apa, nduk?”
Niluh langsung bicara cepat.
“Pak, tadi malam ayam Mak Sum habis digondol maling. Sepuluh ekor. Semua, Pak. Habis tak bersisa. Tolong, ini harus dilaporkan, harus ditindak. Sudah berulang kali beliau jadi korban.”
Pak RT mengangguk pelan, lalu menunduk. Matanya menatap tanah.
“Yowes, aku ngerti… Tapi piye, Nduk? Ora ono CCTV, ora ono saksine. Nggak enak kalo bikin laporan rame-rame tapi datane kosong.”
Niluh mengerutkan kening.
“Jadi, kita tunggu sampe malingnya ngasih selfie sama ayam curiannya, baru bisa ditindak, Pak?”
Pak RT tertawa kecil, canggung.
“Jangan ngegas, Nduk. Aku paham kamu semangat, tapi ini desa. Lain sama di kota. Kalo Cuma ayam…”
“Cuma ayam? Bagi panjenengan mungkin Cuma ayam. Tapi bagi Mak Sum itu sumber hidup, Pak. Dua dari ayam itu buat tumpeng almarhum suaminya minggu depan!”
Pak RT menarik napas, lalu menyandarkan punggungnya di pintu.
“Ngono yo… Tapi tetep, kalo nggak ada bukti, yo angel gerak. Lha wong sing ilang gas wae kemarin gak ditanggapi sama kelurahan. Aku yo bingung, Nduk.”
Hening. Rasanya amarah Niluh sudah di kerongkongan. Tapi ia tahu, marah sekarang hanya akan sia-sia.
“Yowes, Pak. Maaf ganggu. Makasih waktunya.”
Tanpa menunggu jawaban, Niluh langsung berbalik dan pergi. Langkahnya cepat, matanya panas, dan hatinya makin sesak. Dunia ini, pikirnya, memang hanya bersuara ketika yang dirugikan adalah orang yang punya nama, punya data, atau punya kamera pengawas.
Langit sore menggelap lebih cepat dari biasanya. Di beranda rumah kayu Mak Sum yang berderit diterpa angin, Niluh duduk sendirian. Tangannya masih menggenggam HP, tapi sudah dari tadi ia hanya memandangi layar kosong tanpa keberanian mengetik apa pun.
Pikirannya penuh. Geram, sedih, dan putus asa berbaur jadi satu.
Kejadian pagi tadi terlalu menyayat. Raut wajah Mak Sum tak bisa hilang dari ingatannya renta, lelah, dan sangat kecewa pada dunia yang seolah menertawakannya.
Ia menggigit bibir. Lalu menghembus napas dalam.
“Aku harus lakuin sesuatu,” bisiknya lirih.
Dengan jempol gemetar, ia membuka kontak bernama Denok Kominfo Kota Suka-Suka.
Denok adalah kenalan dari acara pelatihan jurnalistik desa yang ia ikuti beberapa bulan lalu. Usianya lebih tua 5 tahun dari Niluh, bekerja sebagai staf lepas di bagian media dan informasi pemkab. Dan yang paling penting, Denok berani bersuara.
Niluh mengetik:
“Mbak Denok, aku boleh nelpon?”
Pesan dibaca. Beberapa detik kemudian, balasan muncul:
“Boleh, Niluh. Ada apa? Kamu kelihatan panik.”
Segera Niluh menekan tombol panggil.
“Hallo, Mbak…” suaranya sedikit parau. “Aku minta waktumu sebentar. Aku… aku butuh bantuan.”
“Kenapa, Niluh? Santai dulu, tarik napas. Cerita pelan-pelan.”
Niluh mencoba menahan suaranya agar tak pecah. Tapi bayangan Mak Sum terduduk lemas pagi tadi kembali memenuhi kepalanya.
“Di dusunku, tadi malam maling masuk ke rumah Mak Sum. Semua ayamnya diambil, Mbak. Sepuluh ekor. Padahal dua ayam itu mau dia sembelih buat tumpengan almarhum suaminya. Sekarang dia nggak punya apa-apa lagi. Satu pun nggak ada yang tersisa…”
Denok diam sejenak di ujung telepon. “Astaga… trus?”
“Yang bikin aku kesel banget ini bukan pertama kali. Tapi tiap kali dilaporin ke Pak RT, jawabannya Cuma: ‘nggak usah dibesar-besarkan, Cuma ayam, nggak ada CCTV’. Seakan-akan kalo orang miskin kehilangan, itu hal yang wajar.”
Suara Niluh mulai meninggi, terselip isak kecil yang tak bisa ia tahan. “Dia hidup sendiri, Mbak… dan orang-orang malah bilang: ‘Yowis, mungkin bukan rezekinya.’ APA BEGITU CARANYA KITA NERIMA KETIDAKADILAN?”
“Niluh…” suara Denok terdengar lebih pelan. “Aku ngerti. Kamu benar-benar marah ya?”
“Banget, Mbak… Aku kuliah komunikasi, belajar soal keadilan media, soal suara rakyat… tapi di sini, bahkan suara Mak Sum kayak nggak dianggap suara manusia. Padahal Cuma butuh satu orang aja buat percaya, bahwa kehilangan itu nyata.”
Denok terdiam lagi. Lalu ia bertanya lembut, “Kamu mau aku bantu apa?”
“Aku tahu Mbak kenal beberapa wartawan kota. Bisa nggak… tolong ceritain kasus ini? Atau tulis aja dulu. Mungkin dengan berita, suara Mak Sum bisa didengar. Biar orang tahu bahwa keadilan itu bukan Cuma buat yang punya kamera keamanan.”
Denok menghela napas panjang.
“Baik, Niluh. Kirimi aku kronologinya malam ini. Fotoin kandangnya kalau bisa. Kalau kamu siap, aku bantu angkat beritanya. Tapi siap juga ya kalau nanti ada yang nyinyir bilang kamu lebay Cuma karena ayam.”
“Biarlah, Mbak. Kalau suara rakyat kecil dianggap lebay, mungkin dunia ini yang terlalu tuli.”
Di ujung telepon, Denok tersenyum tipis. Ia tahu, Niluh bukan sekadar mahasiswi biasa. Ada darah juang yang menyala di balik matanya yang jernih.
“Besok pagi, kabar ini sampai ke redaksi teman-temanku. Kamu sudah mulai perubahan, Niluh. Kamu sudah jadi suara untuk mereka yang selalu dibungkam.”
Keesokan harinya, satu per satu portal berita lokal mulai mengangkat kabar itu.
“Seorang Nenek Kehilangan 10 Ayam Petelur Akibat Pencurian saat Acara Hiburan Desa.”
“Pencurian di Tengah Riuh Sound Horeg: Potret Ketimpangan Perlindungan Warga Kecil.”
“Tumpeng yang Tak Pernah Sampai: Cerita Nenek Sum dan Ayam yang Raib.”
Wartawan mulai menghubungi Niluh. Ada yang ingin wawancara, ada yang ingin tahu lebih banyak soal sosok Mak Sum. Beberapa portal nasional bahkan menyorot kejanggalan diamnya perangkat desa atas kasus ini. Namun, seperti biasa, pemberitaan hanya ramai sehari. Esoknya tenggelam di antara berita selebritas dan politikus yang berseteru soal kursi.
Dan hari itu pun tiba. Hari peringatan lima tahun wafatnya Pak Karyo. Pagi itu sunyi. Rumah Mak Sum sepi seperti biasanya. Tak ada kiriman bantuan. Tak ada surat dari desa. Tak ada kepala dusun yang datang menengok. Tak ada juga wartawan yang benar-benar peduli setelah berita viral mereka menguap.
Tak satu pun tanda bahwa negara sedang bekerja. Mak Sum duduk termenung di kursi reyotnya. Tangannya menggenggam foto lama suaminya, mengenakan batik lusuh dan kopiah hitam. Foto yang dipigura seadanya, ujungnya mulai mengelupas karena lembab.
Air matanya menetes pelan.
“Maaf, Pak… Mak nggak bisa bikin tumpeng seperti rencana… Ayam kita sudah hilang. Nggak ada lagi yang bisa Mak sembelih… Nggak ada lagi telur buat lauk… Pemerintah diam, warga diam… Mungkin karena kita Cuma orang kecil…”
Tiba-tiba, suara motor terdengar dari kejauhan.
Niluh turun dengan membawa sesuatu dalam dus nasi. Wajahnya sedikit lelah tapi matanya penuh keteguhan. Ia meletakkan dus itu di pangkuan Mak Sum, lalu duduk di hadapannya.
“Mak, ini… Aku udah pesan tumpeng kecil. Nggak besar,… Tapi kita bisa bawa ke musholla, ya?”
Mak Sum memandang bingung. Matanya mulai berkaca.
“Nduk… kamu…”
“Aku tahu ini bukan ayam panjenengan sendiri, bukan dari telur panjenengan sendiri. Tapi setidaknya hari ini tetap ada doa untuk Pak Karyo. Dunia mungkin tak memberi keadilan, tapi kita tetap bisa memberi makna.”
Mak Sum memeluk Niluh. Lama. Isak tangisnya tak bisa lagi ia tahan. Dan untuk pertama kalinya sejak ayam-ayamnya hilang, ia merasa dilihat. Dihargai. Didengar.
Di jalan menuju musholla, Niluh berjalan sambil menggandeng tangan Mak Sum yang gemetar. Di kepalanya, suara amarah dan tekad saling bersahutan.
Ia ingat wajah Pak RT yang sibuk menunduk, wajah perangkat desa yang lebih sibuk mempersiapkan lomba 17-an daripada menyelesaikan keluhan rakyatnya.
“Apakah ini hukuman bagi masyarakat kecil?
Apakah kami tak pantas mendapat perhatian hanya karena rumah kami tak berpagar mewah, tak bercat ulang tiap tahun?”
Ia menatap musholla kecil yang berdiri di tengah sawah. Sepi, tapi bersih. Tak ada dekorasi. Tak ada pengeras suara. Hanya lantunan tahlil lirih dari bibir-bibir yang masih percaya pada doa.
Tumpeng itu diletakkan di pojok ruangan. Beberapa ibu-ibu datang membantu menghidangkan. Tak banyak, tapi cukup.
Di perjalanan pulang, Niluh menatap langit senja. Langit yang sama di mana mungkin ribuan orang seperti Mak Sum sedang menahan lapar, kehilangan, atau merasa tidak dianggap.
“Aku nggak mau Cuma jadi penonton. Suatu hari nanti, aku ingin jadi orang yang bisa menjebol tembok-tembok tuli di atas sana. Jika mereka terlalu sibuk menghitung anggaran, maka aku akan menghitung air mata yang jatuh diam-diam. Jika mereka hanya mau bergerak untuk yang bersuara keras, maka aku akan bantu rakyat kecil bersuara.”
Niluh menatap Mak Sum yang berjalan pelan di sampingnya.
Dalam hati, ia berjanji: “Aku takkan diam lagi.”
Akhir cerita ini bukanlah akhir. Karena setiap Sound Horeg yang memekakkan, Masih menenggelamkan tangisan dari rumah-rumah reyot. Setiap tumpeng yang tak pernah jadi, Adalah simbol kecil bahwa negara masih abai pada warganya yang paling sunyi.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

