Strategi Jenius Khalid bin Walid di Perang Dzatus Salasil

Strategi Jenius Khalid bin Walid di Perang Dzatus Salasil


ilustrasi sahabat nabi

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, sebagian kabilah Arab berpaling dari Islam. Mereka menolak kewajiban zakat dan kembali pada keyakinan lama. Melihat hal ini, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara salat dan zakat. Maka, beliau memutuskan untuk memerangi seluruh kabilah yang murtad. Peperangan besar ini dikenal sebagai Perang Riddah, yang menjadi awal dari perjuangan panjang umat Islam menegakkan keimanan dan persatuan.

Kemenangan dalam Perang Riddah membuka jalan bagi umat Islam untuk menghadapi dua kekaisaran besar yang mengelilingi Jazirah Arab, yaitu Persia di timur dan Romawi di barat. Setelah memastikan stabilitas di dalam negeri, Abu Bakar Ash-Shiddiq mulai mengirim pasukan untuk menyebarkan risalah Islam ke luar jazirah Arab.

Pada awalnya, Abu Bakar berencana memulai ekspedisi ke wilayah Romawi. Namun, setelah bermusyawarah dengan para sahabat, ia memutuskan untuk memfokuskan serangan ke Persia terlebih dahulu. Hal ini karena bangsa Persia dianggap lebih kuat dan kekufurannya lebih nyata, sebab mereka menyembah api, sedangkan Romawi adalah Ahlul Kitab yang masih mengakui sebagian ajaran para nabi.

Panglima muslim, Al-Mutsanna bin Haritsah, menjadi tokoh penting dalam peperangan di wilayah Persia. Ia melaporkan kepada Khalifah Abu Bakar bahwa kekaisaran Persia sedang berada dalam keadaan lemah. Mendengar kabar ini, Abu Bakar pun mengirim bala bantuan yang dipimpin oleh sang panglima besar, Khalid bin Walid, untuk memimpin pasukan Islam ke Irak dan menaklukkan wilayah kekuasaan Persia.

Khalid bin Walid, yang dikenal sebagai Saifullah al-Maslul (Pedang Allah yang Terhunus), segera menyusun pasukan dengan disiplin tinggi. Ia tidak memaksa siapa pun untuk bergabung agar pasukan yang ikut benar-benar ikhlas berjuang. Dalam perjalanan, ia menghimpun kekuatan hingga mencapai 10.000 prajurit.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Khalid membagi pasukannya menjadi tiga kelompok yang berjarak satu hari perjalanan antara satu sama lain. Strategi ini memungkinkan pasukan bergerak leluasa dan tidak mudah terdeteksi oleh musuh. Tujuannya jelas menyerang titik-titik penting kekaisaran Persia, salah satunya adalah Ubullah, pelabuhan utama mereka di Teluk Persia.

Pemimpin Persia di Ubullah, seorang pangeran keras bernama Hurmuz, menolak ajakan Khalid untuk masuk Islam. Dalam suratnya, Khalid menulis dengan tegas: “Masuklah ke dalam Islam maka engkau akan selamat. Jika tidak, bayarlah jizyah dan tunduklah pada pemerintahan Islam. Jika engkau menolak, maka jangan salahkan siapa pun selain dirimu, karena aku datang kepada kalian dengan pasukan yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”

Hurmuz murka dan segera mengerahkan 20.000 prajuritnya. Ia bahkan memerintahkan agar kaki dan tangan pasukannya diikat dengan rantai besi agar tak ada yang melarikan diri dari medan perang. Karena itulah pertempuran besar ini dikenal sebagai Perang Dzatus Salasil, yang berarti “perang rantai”.

Namun, di sinilah kejeniusan Khalid bin Walid tampak jelas. Mengetahui bahwa pasukan Persia sulit bergerak karena terikat rantai dan mengenakan baju zirah berat, Khalid tidak langsung menyerang. Ia memutar taktik dengan mengalihkan pasukannya ke wilayah Hafir, membuat musuh kebingungan. Ketika pasukan Persia, yang sudah kelelahan, tiba di Hafir, Khalid justru memerintahkan pasukannya kembali ke Kazimah untuk menyerang dari arah berlawanan.

Gerak cepat pasukan muslim yang ringan dan lincah membuat mereka unggul dalam pertempuran. Sementara pasukan Persia yang berat dan terbelenggu rantai kesulitan mengatur formasi. Bahkan, mereka membelakangi sungai agar tidak mundur, yang justru mempersempit ruang gerak mereka sendiri.

Di tengah pertempuran, Hurmuz menantang Khalid untuk berduel. Namun, dengan tipu muslihat, ia memerintahkan pasukannya menyerang Khalid dari belakang. Melihat itu, sahabat Khalid, Al-Qa’qa’ bin Amr, segera maju membantu. Hurmuz akhirnya tewas di tangan Khalid bin Walid.

Kematian Hurmuz menjadi titik balik dalam pertempuran. Semangat pasukan Persia runtuh, sedangkan pasukan muslim menyerang dengan takbir membahana. Pasukan yang terikat rantai tak mampu melarikan diri. Dalam waktu singkat, ribuan prajurit Persia tewas, dan sisanya melarikan diri ke Ubullah.

Kemenangan ini menjadi awal kejayaan Islam dalam menaklukkan kekaisaran Persia. Dengan strategi brilian, keberanian luar biasa, dan keimanan yang teguh, Khalid bin Walid membuktikan bahwa kemenangan bukan hanya ditentukan oleh jumlah dan kekuatan, tetapi oleh kecerdasan, kesabaran, dan ketundukan kepada Allah SWT.

Perang Dzatus Salasil menjadi bukti bahwa Khalid bin Walid bukan sekadar panglima perang, tetapi juga seorang pemimpin visioner dan inspiratif. Ia mengajarkan bahwa dalam setiap perjuangan, strategi dan keikhlasan adalah kunci kemenangan. Dari tangannya yang kokoh dan hatinya yang tunduk kepada Allah, lahirlah sejarah emas yang menggetarkan dunia


Referensi:

Junaidi Ahmad, Khalid bin Walid panglima perang yang tak terkalahkan, (Yogyakarta: Araska, 2019).

M.Taufik. Sejarah Islam dari Masa Kenabian, Daulah Mamluk. (Jakarta timur: Pustaka Al-Kautsar, 2013).

Dr. Musthafa Murad, Kisah Hidup Abu Bakar As-shiddiq. (Jakart: al-fajr, 2009).


Penulis: Kurniawati Musoffa

Editor: Muh. Sutan



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *