Transformasi di Balik Tembok Pesantren

Transformasi di Balik Tembok Pesantren


Suasana tenang dan hangat di pondok pesantren (ilustrasi: albi)

Dalam beberapa tahun terakhir, persepsi masyarakat terhadap pesantren mengalami guncangan serius. Satu demi satu kasus kekerasan, perundungan, hingga pelecehan seksual muncul ke permukaan dan ramai diberitakan. Tidak sedikit masyarakat kemudian memandang pesantren sebagai tempat berbahaya, tempat “tertutup” yang rawan penyimpangan. Sebagian bahkan menyimpulkan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang tertinggal dan tidak mampu memberikan jaminan keamanan maupun mutu pendidikan.

Pandangan seperti ini muncul bukan tanpa sebab. Ada sejumlah kasus yang benar-benar terjadi dan mengguncang kepercayaan publik. Namun, jika kita berhenti hanya pada berita-berita buruk itu, kita akan kehilangan pandangan yang lebih utuh: bahwa pesantren, selain menghadapi tantangan berat, juga sedang melakukan perubahan besar-besaran dari dalam.

Baca Juga: Transformasi Literasi 125 Tahun Pesantren Tebuireng

Kasus-kasus yang mengguncang persepsi publik beberapa tahun terakhir, berbagai media memberitakan kejadian-kejadian yang memperkuat stigma negatif terhadap pesantren. Di antaranya adalah kasus perundungan dan kekerasan antar santri yang menyebabkan kematian. Tebuireng Online pernah merilis artikel berjudul “Pesantren Tidak Dapat Diidentikkan dengan Aksi Bullying”, yang menyoroti reaksi publik setelah munculnya kasus kekerasan antar santri yang menimbulkan korban jiwa. Artikel tersebut menegaskan bahwa kasus perundungan memang nyata terjadi, tetapi tidak bisa dijadikan alasan untuk menyamaratakan semua pesantren.

Dilansir dari tebuirengonline pada artikel lain berjudul “Kekerasan di Pesantren, Gunung Esnya Sudah Mulai Mencair”, menyebut bahwa kasus-kasus kekerasan di pesantren yang dulunya dianggap tabu kini mulai terbuka ke publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut memang ada, dan tidak lagi bisa ditutupi seperti masa lalu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Bahkan dalam forum Bahtsul Masail Nasional di Tebuireng, isu perundungan dan kekerasan di lembaga pendidikan baik sekolah umum maupun pesantren diangkat sebagai salah satu agenda utama. Forum tersebut membahas bagaimana bentuk kekerasan verbal, fisik, maupun sosial bisa terjadi antar santri, terutama karena kultur senioritas yang tidak terkontrol. (Khazanah Republika, 2024).

Baca Juga: Pesantren Tebuireng sebagai Episentrum Nasionalisme Religius

Kasus kematian seorang santri akibat penganiayaan juga pernah menjadi sorotan besar. Pengasuh Pesantren Tebuireng bahkan menyerukan agar seluruh pesantren memperbaiki sistem manajemen dan pengawasan internal sebagai respon atas tragedi tersebut. Ia menekankan pentingnya tata kelola yang lebih profesional agar kasus serupa tidak terulang. (Ikhbar.com, 2024).

Selain kekerasan fisik, muncul pula sejumlah kasus pencabulan oleh oknum ustadz di beberapa pesantren di berbagai daerah Indonesia. Kasus-kasus seperti ini menjadi “bahan bakar” utama bagi masyarakat untuk menilai pesantren secara negatif. Dalam konteks komunikasi publik, berita buruk memang lebih cepat menyebar daripada berita baik, sehingga satu kasus saja bisa mencoreng citra ratusan lembaga lain yang sebenarnya berjalan baik.

Mengapa kasus-kasus ini bisa terjadi? Fenomena kekerasan atau penyimpangan di pesantren tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang kerap disebut para pengamat:

  1. Budaya senioritas yang tidak terkendali, membuat kakak kelas memiliki posisi kuasa yang rawan disalahgunakan terhadap adik kelas.
  2. Kurangnya mekanisme pelaporan internal. Banyak santri enggan melapor karena takut dianggap “melawan” atau khawatir mendapat balasan.
  3. Sistem asrama yang tertutup, sehingga pengawasan masyarakat umum terbatas dan potensi kekerasan bisa tersembunyi lama.
  4. Paradigma kedisiplinan lama, di mana hukuman fisik dianggap wajar sebagai bagian dari pendidikan, sehingga garis antara pendidikan dan kekerasan menjadi kabur.

Baca Juga:Peran Pesantren dan Psikolog Mencegah Potensi Bunuh Diri

Faktor-faktor ini bukan untuk membenarkan, tapi untuk memahami akar masalahnya. Sebab hanya dengan memahami akar, pesantren bisa melakukan perubahan yang benar-benar menyentuh sistem, bukan sekadar permukaan.

Tebuireng dan Upaya Perubahan dari Dalam

Pesantren Tebuireng adalah contoh bagaimana lembaga tradisional bisa melakukan pembenahan tanpa kehilangan jati diri. Selain memperkuat pengawasan dan tata kelola internal, Tebuireng juga menunjukkan langkah progresif dalam bidang pendidikan.

Salah satu gagasan besar datang dari almarhum KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Beliau mendirikan pondok khusus perempuan dengan pemikiran bahwa perempuan harus memiliki peran penting di dunia. Bagi Gus Sholah, pesantren bukan hanya tempat mencetak hafidzah atau ibu rumah tangga salehah, tetapi juga pemimpin perempuan yang cerdas, kritis, dan berwawasan luas.

Pondok putri Tebuireng Kesamben kini menjadi ruang pemberdayaan santri perempuan. Mereka tidak hanya belajar agama, tetapi juga diberi bekal ilmu umum, bahasa, teknologi, dan wawasan kebangsaan. Langkah ini membuktikan bahwa pesantren bisa menjadi ruang progresif, bukan tempat yang membatasi peran perempuan.

Baca Juga: Peran Pesantren dalam Pembangunan Kesehatan

Masyarakat perlu belajar melihat dengan kacamata lebih jernih: mengkritik ketika ada yang salah, tetapi juga mendukung dan mengapresiasi ketika pesantren melakukan perubahan positif. Pesantren sendiri juga harus terus membuka diri, memperkuat manajemen, membangun sistem perlindungan santri yang transparan, dan meninggalkan pola kekerasan lama.

Sebab pada akhirnya, pesantren bukan hanya institusi pendidikan. Ia adalah pilar moral bangsa. Jika pilar ini rusak, dampaknya luas. Namun jika pilar ini kokoh dan bersih, maka dari sinilah lahir generasi masa depan yang cerdas secara intelektual dan matang secara spiritual.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary

 



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *