Sampai di Sini Doaku untukmu

Sampai di Sini Doaku untukmu


Sepasang manusia yang tak berjodoh (ilustrasi: rara)

Cinta memang seperti itu kah, hadir dengan mudah, pergi dengan pasrah. Seperti yang Wahyu rasakan sejak dulu, ia selalu menjadi tipe laki-laki yang jatuh cinta dalam diam. Bukan karena tak punya keberanian, tapi karena hatinya terlalu penuh pertimbangan. Ia takut kecewa, takut ditolak, dan lebih dari itu, takut berharap pada sesuatu yang belum halal dan belum tentu menjadi takdir. Sebab bagi Wahyu, cinta adalah rahasia Sang Kuasa. Rahasia yang paling aman jika hanya disimpan di dalam doa, seperti kisah cinta Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah az-Zahra.

Sejak SMA, Wahyu terbiasa menaruh rasa pada perempuan-perempuan yang ia kagumi. Pernah juga ia menyukai teman sekelas yang selalu datang paling pagi untuk merapikan dan menyapu kelas. Seperti biasa, Wahyu akan menyapanya dengan senyum tipis semanis permen Kiss. Saat pulang sekolah, wajah itu terus menghantui pikirannya. Namun Wahyu hanya bisa menatap dari jauh, lalu malamnya berdoa lirih, “Ya Allah, jagalah dia.” Sesingkat itu, dan hanya itu saja pintanya saat itu. Sampai akhirnya ia mendengar kabar buruk yang selalu ia khawatirkan—perempuan itu sudah dilamar orang lain. Yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan ucapan selamat dengan senyum getir.

Begitu pula ketika Wahyu sudah duduk di bangku perkuliahan. Saat itu ada teman satu jurusan yang rajin ikut kajian, tutur katanya lembut, dan akhlaknya membuat siapa saja betah dan terpikat. Wahyu, lagi dan lagi, kagum dan menaruh rasa. Namun begitulah Wahyu, ia kembali menahan diri untuk tidak menyatakan perasaan pada perempuan yang ia sukai. Mungkin ini waktunya untuk lebih dewasa dan berani. Tapi sebelum ia benar-benar melangkah lebih jauh, perempuan itu datang dengan kabar Bahagia, ia akan menikah. Dan begitulah hidup Wahyu—suka, diam, hilang. Suka lagi, diam lagi, hilang lagi.

Sampai Allah mempertemukannya dengan seorang perempuan bernama Aruni Mazza El Ghaniya.

Aruni adalah sosok yang berbeda dan tak seperti yang lain. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Wahyu kembali jatuh suka. Tutur katanya sederhana, tapi selalu menuntun hati untuk lebih dekat kepada Sang Pencipta. Suatu kali, ketika mereka berbincang setelah acara pengajian, Aruni berkata, “Kalau kita menjaga Allah, pasti Allah juga akan menjaga kita. Dan setiap yang kita minta akan Allah beri, tinggal tunggu waktu dan bagaimana usahanya.” Kalimat itu menancap dalam, membuat Wahyu merenung berhari-hari.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sejak saat itu, Wahyu yakin: inilah perempuan yang ingin ia perjuangkan. Ia tak lagi ingin mencintai dalam diam, tapi berjuang sampai mendapat restu dari orang tua dan Sang Pencipta alam. Wahyu ingin menjadikan Aruni bagian dari takdir hidupnya—bukan sekadar bayangan dan kenangan. Dan untuk pertama kalinya, ia memiliki keberanian.

Malam-malam panjang itu ia isi dengan doa yang tak henti. Seperti sedang memanah hati dengan busur doa yang menembus langit dengan dahsyat. “Ya Allah, jika dia baik untuk dunia dan akhiratku, tolong dekatkanlah. Jika dia bukan takdirku, maka jauhkanlah dengan cara terbaik tanpa menyakiti satu sama lain, serta lapangkan dan kuatkan dadaku.”

Semenjak itu, Wahyu semakin giat bekerja. Ia mulai menabung, mengatur rencana, bahkan menuliskan kata-kata lamaran dalam catatan ponselnya: “Kali ini jangan mundur lagi, Yu. Ikatlah cinta dengan akad, bukan dengan angan sesaat.”

Namun manusia hanyalah manusia, sosok yang hanya bisa berencana, sebab takdir dan hasil sepenuhnya milik Allah, Sang Pemilik alam semesta.

Suatu pagi, setelah selesai salat dhuha, Wahyu mendengar ketukan di pintu utama. Ia pun membuka dan menatap sebuah undangan pernikahan yang baru saja diterima. Rupanya undangan itu dari teman lamanya, Rifad, teman sebangku saat kuliah, orang yang dulu sering menemaninya mendaki dan mengerjakan huru-hara skripsi. Ia tersenyum samar saat membaca nama Rifad di undangan tersebut. Namun senyum itu lenyap seketika ketika matanya turun menyusuri nama mempelai wanita.

ARUNI MAZZA EL GHANIYA.

Tubuhnya yang kekar tiba-tiba kaku. Jantungnya berdegup begitu kencang.
Undangan itu ia baca berulang kali tanpa mengedipkan mata, seolah berharap ada salah cetak. Namun ternyata tidak, itu memang nama yang sama. Nama Aruni, perempuan yang selama ini ia sebut dalam doa, kini akan bersanding dengan sahabat lamanya sendiri. Sahabat dekatnya.

Hari pernikahan pun tiba. Wahyu hadir seorang diri, mengenakan jas sederhana. Dari luar, ia tampak tenang, namun di dalam hatinya badai berputar tanpa henti.
Di pelaminan yang megah, ia menyalami Rifad—sahabat lamanya—yang terlihat begitu sumringah dan bahagia.

“Selamat, nggih, Mas Rifad,” ucap Wahyu. Suaranya bergetar, tapi ia paksakan tersenyum.

Lalu matanya bertemu dengan mata perempuan itu. Perempuan yang selama ini ia doakan di setiap malam. Cantik dalam balutan gaun putih yang megah, wajahnya bersinar lembut. Senyum itu—senyum yang dulu pernah membuat Wahyu begitu yakin bisa hidup bersama dalam indahnya cinta halal yang ia simpan diam-diam.

Dalam hati, Wahyu berbisik lirih, “Barakallahu laka wa baraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fi khair.” Semoga Allah memberikan berkah atas pernikahan kalian.

Air matanya hampir pecah, tapi ia tahan. Ia tahu, cinta yang bukan takdir tidak akan datang membuka tabir. Sebab terkadang, cinta bukan tentang siapa yang memiliki hingga akhir hayat, melainkan tentang siapa yang ikhlas melihat yang dicinta bahagia bersama takdir yang Allah pilihkan.

Sepulang dari pesta, Wahyu duduk sendiri di kamarnya. Lampu padam, hanya cahaya layar ponsel yang menemaninya di sunyi malam itu. Ia membuka buku catatan lamanya—setiap baris penuh rencana dan keberanian yang ternyata tak pernah terwujud sebagaimana mestinya.

Dengan jemari gemetar, ia menulis satu kalimat terakhir sebagai penutup kisah itu:
“Meski ternyata aku kalah lagi, tak mengapa. Bukan karena aku tak mencintainya, tapi karena Allah sudah menuliskan takdir terbaik bagi setiap hamba-Nya. Maka ikhlas adalah jalan satu-satunya, sebab cinta sejati adalah ketika kita mampu merelakan kepergian demi kebahagiaan orang yang selalu kita doakan.”

Hari-hari setelah itu terasa berat dan menyakitkan. Setiap kali mengingat wajah Aruni, dadanya seolah diremas kuat. Namun di sela luka itu, ada cahaya kecil yang tumbuh: mungkin inilah cara Allah mendidik setiap hamba-Nya.

Hingga suatu malam, ia menemukan ayat yang menampar dirinya lembut namun dalam:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Sejak saat itu, Wahyu tak lagi menyesali apa yang hilang. Ia terus menata diri dan memperbaiki imannya. Ia semakin yakin, jika jodohnya belum tiba, itu bukan berarti Allah tidak sayang—justru karena Allah ingin ia lebih siap, lebih matang, dan lebih kuat ke depannya.

Ayat itu menjadi penenang. Wahyu sadar, kehilangan Aruni bukan akhir segalanya, melainkan jalan menuju sesuatu yang lebih baik. Allah tahu isi hatinya, Allah tahu luka dan air matanya, dan Allah pula yang menyiapkan obatnya.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *