
Aku sudah menjejaki beberapa tempat. Tidak banyak memang, tetapi begitu banyak pengalaman yang kudapat. Dari semua tempat yang pernah kukunjungi, aku memilih masjid sebagai tempat terbaik di muka bumi ini.
Sejak menjadi anggota remaja masjid, setiap kali bepergian ke kota lain entah mengapa tujuan utamaku selalu sama: mencari masjid. Bagiku, masjid bukan hanya tempat terbaik untuk beribadah, tetapi juga menjadi tempat healing bagi hati. Selain keindahan ukiran dan arsitekturnya yang memukau, suasana dan hawa masjid selalu menyejukkan jiwa. Seperti orang yang kehausan mencari air, aku merasa kehilangan arah jika bepergian tanpa singgah ke masjid. Setiap perjalanan rasanya belum lengkap tanpa ke sana.
Di beberapa kota, masjid bahkan menjadi ikon kebanggaan. Begitu pula dengan kota kelahiranku, Tanjung Enim tercinta, yang kini tengah berbenah menjadi Tanjung Enim Kota Wisata. Saat akhir pekan, aku dan teman-teman sering berkunjung ke tempat wisata seperti Museum Batu Bara atau Zoo and Jogging Track. Namun, di sekitar area wisata itu ada satu tempat yang kerap terlewat oleh para pengunjung, sebuah masjid yang menyimpan banyak cerita. Ketika hati gundah dan gelisah, aku sering menumpahkan air mata di sana.
Ya, Masjid Jami’ Bukit Asam namanya. Sebuah masjid yang dibangun oleh sebuah perusahaan, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat wisata bagi hati. Di area masjid itu juga terdapat panti asuhan binaan PT Bukit Asam.
Lebih dari itu, masjid ini menjadi wadah bagi kreativitas para remaja. Kami menyebut diri kami KARIMA, Keluarga Remaja Islam Masjid Jami’ Bukit Asam yang telah berdiri sejak tahun 1993. Banyak kegiatan besar telah terlaksana, dan banyak pula tokoh hebat yang pernah hadir di sana. Setiap hari Ahad, kami rutin mengadakan pengajian atau pembelajaran motivasi untuk meningkatkan produktivitas para anggota. Tidak perlu pembahasan yang berat dan membosankan; cukup dengan materi yang ringan, menarik, dan menyenangkan agar mudah dipahami.

Masjid ini menjadi saksi perjalananku dalam berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Melalui KARIMA, aku belajar arti solidaritas dalam organisasi bukan hanya tentang kebersamaan, tetapi juga tentang keluarga yang saling merangkul dan membersamai dalam setiap langkah serta kegiatan.
Di dalam masjid ini pula aku berkesempatan bertemu dengan banyak orang hebat. Beberapa ustaz ternama pernah diundang untuk mengisi kajian, dan aku diberi amanah menjadi moderatornya. Bagiku, itu adalah pengalaman paling berharga, momen yang tidak akan pernah aku lupakan. Bukan hanya kotaku yang sedang berbenah menjadi lebih baik, tetapi aku pun sedang berbenah diri.
Salah satu momen paling menyenangkan adalah saat Hari Raya Idulfitri. Kami, para anggota KARIMA, selalu berkunjung ke rumah teman-teman serta para ustaz dan pengurus masjid untuk bersilaturahmi. Kami bertukar cerita, mengobrol ringan seputar Masjid Jami’ dan kepengurusannya. Suasana kekeluargaan itu selalu membuat hati hangat.
****
Kini, aku sudah berstatus sebagai seorang istri sekaligus ibu dari seorang putri kecil yang imut dan lucu, Khodijah Izzatunnisa. Aku sering mengajaknya ke Masjid Jami’ ini, bahkan ketika Khodijah masih dalam kandungan, aku tetap aktif mengisi kajian, menjadi pemateri, dan mendampingi adik-adik KARIMA, terutama ketika ada kegiatan besar.
Menjadi seorang ibu bukanlah penghalang bagiku untuk tetap aktif di organisasi KARIMA. Bagiku, di sanalah letak keluarga sebenarnya, tempat aku belajar memahami makna kehidupan, melatih keberanian untuk tampil di depan, serta memetik banyak pelajaran berharga.
Menjadi alumni KARIMA adalah anugerah tersendiri. Kini aku bisa mendampingi adik-adik KARIMA, mengajarkan kajian-kajian Islami, menjadi pendengar ketika mereka merasa jenuh, dan berbagi pengalaman agar mereka terus semangat. Aku ingin keberadaanku bermanfaat bagi banyak orang.
Selagi masih mampu, aku akan terus bersedia, entah menjadi pengisi kajian, moderator, atau guru ngaji. Semua itu adalah bagian dari upayaku untuk fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena aku percaya, sebaik-baik motivator adalah diri kita sendiri.
Penulis: Nabila Rahau
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

