Ruang Tak Bernama | Tebuireng Online

Ruang Tak Bernama | Tebuireng Online


Ilustrasi perempuan pembelajar

Kampus sore itu seperti biasa, ramai oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa, percakapan singkat antara dosen dan mahasiswa, serta denting tuts piano yang samar terdengar dari ruang seni. Namun, di antara hiruk pikuk itu, pandanganku hanya terpaku pada satu punggung yang tak pernah bosan kuperhatikan, dirinya.

Namanya Farah Rabbaniyah. Kami sekelas di kampus, seorganisasi, dan hampir selalu seirama dalam berbagai kegiatan. Seakan dunia sengaja menaruh kami dalam lingkaran sempit agar terus bersua. Tapi entah kenapa, ada garis tak kasatmata yang selalu menghalangi langkahku untuk lebih dekat mengenalnya.

“Udah siap untuk rapat nanti malam?” tanyanya suatu sore sambil merapikan buku-buku di meja organisasi. Suaranya ringan, seolah pertanyaan itu biasa saja. Namun, bagiku, itu seperti loncatan yang membuat jantungku berdebar hebat.

Aku hanya tersenyum kecil. “Sudah dong, tinggal bikin notulen aja,” jawabku singkat.
Padahal yang ingin kuucapkan jauh lebih panjang: tentang bagaimana aku selalu menunggu setiap obrolan singkat dengannya, betapa aku iri pada waktu yang selalu bisa menemaninya lebih lama dariku, dan tentang rasa yang tak pernah kutemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskannya.

Kami duduk bersebelahan, membicarakan agenda acara kampus. Tangannya menari di atas laptop pink berstiker capybara bertuliskan “Zera”, sementara aku pura-pura sibuk menulis, padahal mataku sering mencuri-curi pandang. Dalam diam, aku tahu, aku semakin larut dalam perasaan yang kupendam sendiri.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kadang, aku Zeedny Ilman, merasa bodoh. Teman-temanku sering berseloroh, “Farah sama kamu cocok banget, udah kayak paket hemat, pas lah pokoknya.” Aku hanya bisa menanggapi dengan tawa hambar. Sebab bagiku, kata “cocok” justru terdengar kejam. Cocok tidak selalu berarti saling memiliki.

Pernah kudengar kabar samar bahwa Farah dekat dengan seorang senior. Entah benar atau hanya gosip. Tapi sejak itu, aku semakin menutup rapat hatiku. Karena apa gunanya melangkah jika akhirnya berujung luka?

Namun, ada momen-momen kecil yang membuatku kembali goyah: tatapan matanya saat aku presentasi, senyumannya yang terasa lebih lama dibanding untuk orang lain, atau sekadar pesan singkat, “Udah makan belum?” di tengah malam saat kami lembur.
Tapi semua itu hanya potongan puzzle yang tak pernah bisa lengkap.

Suatu malam, organisasi kami mengadakan rapat panjang. Ruangan dipenuhi suara debat, ketikan laptop, dan letih yang menggantung di udara. Saat rapat bubar, hanya aku dan Farah yang masih tertinggal. Ia sibuk membereskan kertas, sementara aku sibuk memberanikan diri.

Hening merayap, hanya bunyi kipas angin tua yang berderit.

“Farah…” panggilku pelan.

“Iyah?” Ia menoleh. Matanya sayu karena lelah.

Sejujurnya, ada ribuan kalimat yang menekan di dadaku. Aku ingin bilang: “Aku suka kamu. Sejak pertama kali kita bertemu. Sejak kita duduk sekelas. Sejak kita sama-sama tertawa karena salah masuk ruangan rapat. Sejak semua percakapan kecil yang kusebut sebagai harta. Sejak pertama kali aku mendengar suaramu mengaji Surah Al-Waqiah saat sholat dhuha di mushola kampus itu.”

Tapi yang keluar hanya:

“Enggak… enggak jadi.”

Farah tersenyum samar, seolah mengerti sesuatu yang tak kuucapkan. “Oke,” jawabnya pelan.

Lalu kami kembali diam.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Aku tetap duduk di sebelahnya saat kuliah, tetap bercanda sekadarnya saat rapat, tetap berpura-pura sibuk dengan catatan. Sementara hatiku sibuk menahan sesuatu yang tak pernah sempat kukatakan.

Di antara kami, selalu ada jeda yang tak pernah terisi.

Di antara tawa, selalu ada rahasia yang tak pernah terucap.

Di antara tatapan, selalu ada kata yang terperangkap di tenggorokan.

Aku tahu, sebenarnya Farah pun merasakannya. Aku menangkapnya dari tatapan matanya yang lama berhenti padaku, dari caranya memilih kata saat berbicara, dari senyum ramah yang terlalu sering membentuk smile yang hangat.

Tapi mungkin begitulah cara cinta bekerja pada kami: bukan tentang siapa yang lebih dulu mengaku, melainkan siapa yang paling lama bertahan dalam diam.

Sore itu, kami berjalan keluar kelas bersamaan. Matahari perlahan merayap turun, meninggalkan bayangan panjang di koridor kampus.

Sejujurnya, aku ingin sekali meraih tangannya.

Aku ingin sekali mengatakan bahwa dunia terasa terlalu sempit bila tanpa dirinya.

Aku ingin berhenti menjadi pengecut yang menyakiti diri sendiri.

Tapi langkah kami hanya beriringan sampai pintu gerbang. Setelah itu, ia menoleh dengan senyum singkat.

“Hati-hati di jalan,” ucapnya pelan.

Aku membalas, “Kamu juga.”

Dan begitulah.

Kami pulang membawa rahasia masing-masing.

Membawa perasaan yang sama, tapi tak pernah bertemu dalam indahnya kata.

Cinta ini tetap diam di ruang yang tak bernama.

Cinta ini tetap hidup, menggantung, karena kami sama-sama tahu,

Tapi kami sama-sama memilih untuk diam.

“Salam buat Zera di rumah,” kataku mencoba bercanda.

Ia menoleh, memberi senyum indah seperti biasanya.

Kisah ini memang sesulit itu. Tapi aku, Zeedny Ilman, akan tetap memperjuangkan yang kelak ingin kujadikan tujuan, meski perlu waktu lama dan berisiko untuk ditinggalkan.

Aku memang menaruh rasa, tapi sejujurnya aku tak ingin mengganggu dunianya, terlebih pada hafalan Qur’annya yang sangat sakral untuk dijaga seutuhnya.

Teruntuk Farah Rabbaniyah, semoga kita sama-sama terjaga, dan semesta sama-sama memberikan takdir bahwa kelak kita akan bersama.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *