
Bulan Rabiul Awal adalah bulan yang istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan inilah, sosok panutan agung, Nabi Muhammad SAW, dilahirkan. Beliaulah Nabi yang menuntun umat manusia dari zaman kegelapan jahiliah menuju cahaya ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Setiap ucapan dan langkahnya menjadi teladan abadi yang menginspirasi kebaikan.
Untuk mengenang kelahiran Nabi yang mulia ini, umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, merayakannya dengan penuh suka cita dalam sebuah perayaan yang kita kenal sebagai Maulid Nabi. Setiap daerah memiliki cara yang khas untuk mengekspresikan kegembiraannya, mulai dari pengajian akbar, lantunan selawat, tausiah yang menyejukkan hati, hingga berbagai perlombaan Islami.
Baca Juga: Hukum Maulid Nabi Menurut KH. Hasyim Asy’ari dan Syaikh Ihsan Jampes, Bolehkah?
Uniknya, beberapa daerah di Indonesia menambahkan tradisi berbagi makanan atau barang dalam perayaannya, dengan metode yang juga berbeda-beda. Ada yang saling menukarkan makanan di musala, membagikannya dari rumah ke rumah, atau menyerahkannya langsung ke panti asuhan.
Namun, di antara berbagai metode tersebut, ada satu tradisi yang perlu mendapat sorotan kritis: pembagian dengan cara menggantungkan makanan atau barang di satu tempat untuk kemudian diperebutkan oleh para hadirin. Tradisi yang sering disebut “rebutan” atau “grebek Maulud” ini perlu kita evaluasi kembali. Meskipun niat di baliknya mungkin positif, untuk menarik minat warga agar hadir dan bersuka cita, metode yang digunakan justru melahirkan berbagai dampak negatif yang perlu dikaji lebih dalam.
1. Berpotensi Membahayakan Keselamatan Warga
Ini adalah dampak negatif yang paling kasatmata. Kerumunan massa yang tidak teratur dan saling dorong untuk mendapatkan sesuatu menciptakan situasi yang sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak, perempuan, dan lansia. Walaupun mungkin belum ada data resmi mengenai korban jiwa khusus dari tradisi rebutan Maulid, kita dapat belajar dari peristiwa serupa yang berakhir tragis.
Sebagai contoh reflektif, bayangkan sebuah insiden, seperti yang pernah terjadi pada sebuah acara pembagian sedekah di Garut pada Juli 2025, di mana tiga orang meninggal dunia akibat berdesak-desakan. Korban jiwa termasuk aparat keamanan, seorang anak kecil, dan seorang nenek. Puluhan lainnya harus dilarikan ke rumah sakit. Tragedi semacam ini seharusnya menjadi pelajaran pahit yang cukup untuk menyadarkan kita bahwa metode pembagian yang memicu perebutan massa sangat rentan menimbulkan petaka. Acara yang seharusnya membawa berkah justru bisa berakhir dengan duka.
2. Bertentangan dengan Akhlak Luhur Nabi Muhammad SAW
Peringatan Maulid Nabi pada hakikatnya adalah momentum untuk meneladani sifat dan perilaku mulia Rasulullah. Nabi Muhammad SAW adalah personifikasi kedermawanan dan kasih sayang. Beliau mengajarkan umatnya untuk berbagi dengan cara yang memuliakan penerimanya, bukan merendahkan mereka. Sejarah mencatat bagaimana Nabi bersedekah untuk mengenang wafatnya istri tercinta, Sayyidah Khadijah, dengan membagikan makanan kepada para sahabat. Namun, apakah pembagian itu dilakukan dengan cara rebutan? Tentu tidak. Beliau membagikannya dengan teratur, memastikan semua orang mendapatkan bagiannya dengan cara yang terhormat.
Baca Juga: Telaah Pemikiran KH. Hasyim Asy‘ari tentang Maulid Nabi
Tradisi rebutan, di mana yang kuat menindas yang lemah dan suasana menjadi kacau, jelas bertentangan dengan semangat welas asih dan keteraturan yang diajarkan Nabi. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga martabat sesama manusia. Membiarkan orang saling sikut dan dorong hanya untuk sepotong makanan atau barang justru mencederai nilai luhur tersebut.
3. Memicu Makanan Menjadi Mubazir
Akibat perebutan yang kacau dan tanpa aturan, sering kali kita jumpai pemandangan yang menyedihkan setelah acara selesai: makanan berceceran di tanah, terinjak-injak, dan akhirnya berakhir di tempat sampah. Padahal, tujuan awal dari sedekah makanan adalah untuk dikonsumsi dan dinikmati oleh warga sebagai bentuk syukur. Ketika makanan itu tumpah dan menjadi sampah, kita telah jatuh pada perbuatan mubazir (membuang-buang nikmat). Allah SWT sangat membenci perbuatan ini. Ironisnya, acara yang diniatkan untuk ibadah justru menghasilkan dosa karena ketidaktahuan dalam metode pelaksanaannya.
4. Menimbulkan Potensi Konflik Sosial
Logika sederhana dari sistem rebutan adalah: siapa yang paling kuat, dialah yang menang. Hal ini secara tidak langsung menciptakan kompetisi yang tidak sehat di antara warga. Alih-alih mempererat tali persaudaraan (ukhuwah), tradisi ini bisa memicu gesekan, sakit hati, dan bahkan pertengkaran kecil di antara mereka yang berpartisipasi. Orang yang tidak mendapatkan apa-apa mungkin merasa kecewa, sementara yang lemah merasa terpinggirkan. Semangat kebersamaan dan berbagi yang seharusnya menjadi inti dari perayaan Maulid pun hilang, digantikan oleh egoisme dan hukum rimba sesaat.
5. Menuju Perayaan yang Lebih Bermakna
Baca Juga: Esensi Perayaan Maulid Nabi: Mewujudkan Refleksi dan Kesadaran
Mengkritik sebuah tradisi bukan berarti menolak esensi perayaan Maulid itu sendiri. Justru, ini adalah bentuk cinta kita untuk memastikan bahwa cara kita merayakan kelahiran Nabi benar-benar mencerminkan ajaran beliau. Ada banyak cara yang lebih baik, terhormat, dan aman untuk berbagi kebahagiaan, seperti:
-
Sistem Kupon: Panitia dapat membagikan kupon kepada warga sebelumnya, yang kemudian dapat ditukarkan dengan makanan atau barang secara tertib.
Majalah Tebuireng
-
Distribusi dari Pintu ke Pintu: Melibatkan remaja masjid atau panitia untuk mengantarkan bingkisan langsung ke rumah-rumah warga, terutama bagi mereka yang membutuhkan.
-
Mendirikan Pos Pembagian: Membuat beberapa titik pembagian yang teratur sehingga warga bisa mengantre dengan rapi.
Sudah saatnya kita mengevaluasi kembali tradisi-tradisi yang ada dan memperbaikinya agar sejalan dengan nilai-nilai luhur Islam. Merayakan Maulid Nabi adalah tentang meneladani akhlaknya, bukan sekadar euforia sesaat yang berisiko dan kontraproduktif. Mari kita rayakan kelahiran sang panutan dengan cara yang penuh hikmah, kasih sayang, dan memuliakan sesama.
Penulis: M. Syukron Ni’am
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

