
Ismuhu Jauhari Sedang Mencari Tuhan
-sebuah hikayat si pendosa
Ketika menyergap hati
dingin kerinduan hamba
di atas bayang raung emosi
karena gelap disapa senja
seseorang yang berbenah
halaman demi halaman
di atas juang lembaran Ilahi
hanya ingin berbagi cerita
ya Jauhari namanya,
berusaha mengembalikan apa yang dipinjam dari-Nya
dalam bercak waktu
memperbaiki perahunya
banyak yang tua dan kusam disini
namun ia betah dalam kegelisahan
menunggu datangnya alasan
untuk tetap dalam pelukan-Nya
pada titik tertentu
semilir riuh diantara
menakar ufuk menyingsing
‘aku hanya ingin memohon, tidak berakhir jauh dari-Mu’
dalam sukarnya dunia
(jerit dalam hati)
akulah hamba-Mu
peluh dosa namun inginkan surga,
ketika salah tak ada rasa sesalku
akulah hamba-Mu
riuh sombong namun tak inginkan neraka
ketika benar tak ada iba rendahku
(Tuhan pun menjawab)
aku selalu bersamamu,
tapi sujudmu selalu singkat
pintuku selalu terbuka,
bagi hamba yang tak pernah lelah meminta
-2024
La Takhaf!
Angin menyapa riang
menari di antara daun rindang
dan kembang masih bermekaran
tentang mempertanyakan sebuah renungan
tiadalah perjalanan yang diragukan
sebagai ingatan yang dirindukan
mengeja arah ketenangan
yang bersembunyi pada
batas usia dan waktu
dan kita tidak kehilangan arah
; La Takhaf
-2024
Di Sini Menafsir Sahajamu
:Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari
Ingin kutulis di sampingmu
seuntai kata menggiring
semangat penuntut ilmu
jiwa berkah selalu seiring
– ditangkupan tanganmu, kupeluk lewat doa
menerima tumpuan ilmu hingga renta
……bukankah setiap bertambah ilmu adalah menyenangkan?
Ingin kusampaikan kepadamu
cahaya Sabilal Muhtadin
kebahagiaan lapang hidupku
demi nasihat nyata Ad-din
– dibibirku tasbihkan, jejali rindu berjarak
ingin begitu dekat bertukar cerita
…keindahan menyusuri dermaga karyamu banyak tutur bersentuh rasa
begitu berdaulat ujaranmu
ibarat menuangkan minuman
pada cangkir kosongku
takzim garis senyuman lengkungan
paling tidak bersama tanbihatmu
bahwa minuman jiwa itu ilmu
tidak akan pernah pekak
……seruan namamu
tidak akan pernah berkerak
……lantangkan nasehatmu
meski harus berteriak
dan kadang sedikit serak
……petuahmu tetap menyentak
pantang hilang dari ingatanku kelak
darimu…terukir selaras pikiran dan hati;
serulah ampunan-Nya, pada rukuk kesabaran
mohonlah ijabah-Nya, pada sujud keiklasan
meski kita beranjak dan terus beranjak…
barisan tubuh langit, nanti ialah saksi
-2022
Penulis: Sultan Musa, berasal dari Samarinda – Kalimantan Timur. Karya – karyanya masuk dalam beberapa Antologi bersama penyair Nasional & Internasional. Buku tunggalnya bertajuk “Titik Koma” nomine buku puisi unggulan Penghargaan Sastra 2021 Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. Dan puisinya terpilih juga pada event “Challenge Heart and Art for Change” Collegno Fòl Fest Turin – ITALIA (2024). Puisinya juga berhasil lolos kurasi dan dipamerkan pada event “Kalang Exhibition” digagas oleh Triaksara Pengairan – Malang (2025). Tercatat pula dibuku “Apa & Siapa Penyair Indonesia –Yayasan Hari Puisi Indonesia” Jakarta 2017.
Editor: Rara Zarary

Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
