
Diagnosa
Kemarin dunia masih baik-baik saja
Kurasa tak ada janggal yang mengeja
Berjuang tenang untuk mengaji
Sekarang, di mana-mana seakan hanya menyulam puji
Jika dibantah, agama yang dibawa
Lihainya bicara yang bertepuk dada
Tapi tak pernah sedikit pun bertanya
Sedikit pembuktian ditutup sandera!
“Kami titip anak di pesantren ini diiringi sebuah kepercayaan yang kuat, merelakan di jauh sana agar tak jadi anak kualat, pulang dengan senyum lebar dan keberuntungan yang pekat. Tapi mengapa kau kembalikan dalam keadaan tersayat? Jika anak kami nakal dan kau tak sanggup, mengapa tidak dikembalikan sebelum semuanya menjadi gugup? Jika melihat anak kami menjadi korban, mengapa kau tidak gerak pada keadilan? Kami hanya menitip, bukan memaksa.”
Kita tidak sedang bicara tentang jasad kematian
Tapi sebuah label yang meracuni kehidupan
Ketika raga seseorang dibunuh hingga telanjangnya pakaian
Tuntutan keadilan tentu berjalan
Tapi, ketika anak itu mati dari peran
Anak itu mati dari merekahnya kesehatan
Pernahkah ini dijadikan bahan pertimbangan?
Sudah berapa kali mengecek bullying meremas korban?
Kami sempat bingung
Jika kesan pesantren membuat cemas menggunung
Lantas di mana lagi mempersiapkan generasi yang mampu menafsirkan sopan?
Jangan salahkan, cukup pahami … itu suara-suara yang bertabrakan antara kesadaran pentingnya mendalami ilmu agama dengan ricuhnya keadaan
Sejatinya, pesantren tidak pernah mengajar hal yang merusak moral
Seluruh kericuhan bersumber dari tokoh yang kurang ajar
Pada akhirnya, kami tahu satu hal yang menjadi puncak permasalahan
Stadion kerja yang disuntik keserakahan
Prosa
Tuan, berpisah tanpa sebuah kesalahan itu lebih sakit ya
Aku menulis huruf di buku pertama karena sedang jatuh cinta
Tapi sayang, harus kuakhiri huruf terakhir karena prioritas yang berbeda
Aku tetap cinta walau kita tak lagi bersapa
Sesuatu yang sengaja diakhiri tidak pernah benar-benar berakhir
Sesuatu yang sengaja dilupakan tidak pernah benar-benar terlupakan
Aku mencintaimu tanpa dilantik pesona
Kau istimewa tanpa hiasan apa-apa
Orang-orang bilang kita seperti induk burung yang keluar masuk sangkar membawa makanan
Mau keluar sejauh alur dunia
Kamu dan aku tetap kembali pada rumahnya
Mungkin suatu saat rumah itu akan sama
Aku tidak akan pernah memaksa diriku untuk melepaskan atau pura-pura rela
Ketika Tuhan masih menaruh rasa ini untukmu, aku berjanji untuk tetap merawat, memberi makan, mengajaknya bercanda, mungkin juga berdansa
Dalam sujud kumandikan ruang rindu yang menjadi persinggahan utama
Belajarlah yang tenang di sana dan aku pastikan perawatan ini memberikan laba
Perasa
Untuk semua perempuan yang digulung rasa
Perempuan memang perasa
Jangan lantang-lantang mengakui dusta
Biarkan tulang rusuk jujur berkata
Jika kamu biarkan dia retak
Bagaimana bayimu bisa tenang dalam berdetak
Di perut, di punggung, semuanya adalah lintasan
Jaga baik-baik, Puan!
Bayi itu belum datang sekarang
Tapi siapa yang tidak terbayang
Dari lahir, tulang rusukmu sudah dipesan
Jangan khianati perjanjian yang telah menjadi kesepakatan!
Apakah hanya renta yang selalu menjadi bukti peristirahatan?
Jika iya, kamu sudah masuk perangkap pembodohan
Keluarkan mantra manis itu
Pelan-pelan, tapi selalu
Daksa
Pesantrenku itu bisa bicara
Pesantrenku itu bisa membaca
Pesantrenku itu bisa membela
Pesantrenku itu bisa menghancurkan siksa
Dia bukan sekedar bengunan, tapi tubuh
Menggiling kelopak dendam sampai meluruh
Mengemban sebuah jalan hingga menyapu kawasan keruh
Melayani dengan bijak tanpa perbudakan buruh
Kadang, dia memang sakit
Lalu pada saat itu, ia sedikit lemah dalam merakit
Sayang sekali, mencari dokternya tak semudah itu
Imbasnya menjadi tercemar di seluruh penjuru, padahal sedang sakit, bukan membelenggu
Sedih pastinya
Sakit pastinya
Barangkali kamu tahu dokternya
Tolong, bawa dia untuk pesantren tercinta
Biar sembuh dan kembali cetar membahana
Biar di pelosok akan kudatangi tempatnya
Biar kecil akan kutimang-timang anaknya
Biar jahat akan kujahit senyapan aibnya
Aku… memberi ruang orang-orang jahat untuk pulih!
Aku… memberi ruang orang-orang tertindas untuk bangkit!
Sebuah pengakuan, bukan penghakiman
Sebuah rangkulan, bukan tekanan
Penulis: Azizah Bounty
Editor: Rara Zarary

Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

