Peringatan Maulid Nabi di Pesantren Sains Tebuireng, KH. Junaidi Hidayat Tekankan Ini

Peringatan Maulid Nabi di Pesantren Sains Tebuireng, KH. Junaidi Hidayat Tekankan Ini


KH. Junaidi Hidayat saat menyampaikan pesan di hadapan para santri Pesantren Sains Tebuireng di acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad, Kamis (18/09/2025). Foto: Pewarta

Tebuireng.online- Kamis (18/09/2025), Pesantren Sains Tebuireng Jombok menggelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tema “Meneladani Akhlah Rasulullah sebagai Fondasi Pembangun Peradaban Islam yang Berkualitas”. Acara berlangsung cukup meriah dengan dihadiri oleh seluruh santri, ustadz, ustadzah dan pimpinan pesantren. Kegiatan berlangsung sejak pukul 19.30 – 22.30 WIB di Masjid Salahuddin al-Ayubi.

Pada kesempatan sambutan, Kepala Pondok, Ustadz H. Arif Khuzaini menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh panitia, tim banjari dan seluruh yang turut menyukseskan acara, sekaligus permohonan maaf atas kekurangan yang ada.

“Maulid ini merupakan salah satu agenda yang rutin kita lakukan, kebiasaan ketika maulid membacakan maulid nabi. Tapi lebih dari itu kita meneladani akhlak Rasulullah. Di sini, kelas 7-12 berkumpul jadi satu, kata Rasulullah: bukan termasuk umatku orang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak menghormati yang muda,” ucapnya.

Semantara itu, mauidhoh hasanah disampaikan oleh KH. Junaidi Hidayat, alumni Pesantren Tebuireng sekaligus Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren al-Aqobah.

“Beruntunglah kalian karena berada di pesantren pencetak orang besar dan ulama besar. Menjaga agama itu dengan ilmu, karena Allah menciptakan segala sesuatu itu dengan ilmu, perintah pertama nabi itu ilmu. Iqro bismirobbika ladzi kholak. Nabi Adam sebagai nabi pertama juga dilandasi ilmu. Kesuksesan hidup diawali dengan ilmu. Merubah kehidupan ke depan harus dengan ilmu. Siapa pun orangnya, ilmu yang benar, agama yang benar akhlak yang benar, maka Allah menjamin derajatanya, suksesnya, power-nya,” katanya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lanjutnya, sehingga berada di pesantren adalah langkah awal menjemput ilmu. Di pesantren bukan hanya ilmu tapi juga akhlak. Memeintarkan itu gampang tapi mengajari kehidupan itu susah dan adanya hanya pesantren. Karena ada kyai, pengasuh, ustadz pembina, ada doa wirid tirakat kiai.

Beliau menceritakan, KH. Hasyim Asy’ari tirakat 3 tahun, satu tahun untuk pondok dan santri, tahun kedua untuk keluarga dan tahun ketiga untuk masyarakat. Tebuireng bisa berdiri sampai sekarang karena jaminan KH. Hasyim. Santri Tebuireng jika tidak berhasil pasti ada kecacatan keilmuan, entah karena ga manut pengasuh, aturan pondok dan lain sebagainya. Sehingga wajib santri Tebuireng punya ketaatan yang mutlak kepada institusi pesantren Tebuireng. Agar tidak menghilangkan keberkahan.

“Nabi memberi ilmu tidak banyak tapi banyak memberi uswah, contoh yang baik. Uswatun hasanah. Nabi mengajari jadi pengusaha, anak yatim, penggembala, pedagang, panglima, seorang anak, seorang bapak, kakek. Sosok nabi menjadi master manusia. Bukan hanya keilmuan, bagaimana dituntun sholat. Nabi mengajari dengan praktik, lihat aku ketika sholat. Begitu pun hajji. Lebih banyak melatih, mengalami hidup sebagai madrasah keilmuan,” ucapnya.

Menurut beliau, karakter tidak bisa dengan ilmu saja, tapi dengan proses melatih berulang-ulang sampai yang berbicara bukan akalnya tapi hatinya. Bagaimana nabi mencontohkan menyuapi seorang buta, semangat sholat, selalu jamaah dan masih banyak lagi. Problem masalah kita adalah kurikulum terlalu berat tidak cukup membangun karakter.

“Karakter bukan karena agama tapi karena kedisiplinan. Makanya adab sebelum ilmu. Kalau ilmu duluan maka akan bantah, ngeyel. Masih kecil diajarkan adab dulu. Bahkan dikatakan KH. Hasyim. Mencari adab itu bagaikan seorang perempuan (ibu) yang kehilangan anak tunggalnya. Karakter harus jadi prioritas. Mulai hari ini harus membentuk diri. Suatu kebaikan bukan karena aturan tapi dari hati. Norma, fikih, hukuman adalah batas minimal membentuk karakter, maka disebut makarimal akhlak. Kalau berbuat baik karena disuruh itu bukan karakter. Ghosob itu awal dari permasalahan yang lain. Oleh karena itu di malam maulid nabi jangan sampai santri trensains memiliki karkater buruk,” pesannya.

“Ketaatan, adab itu jalur yang mudah mencari ilmu. Masuk surga bukan karena nilai tapi karena kebaikan. Kebaikan bisa dilakukan siapa saja. Ada jalur  ilmu ladunni, tapi syaratnya akhlak yang baik, taat yang baik, rajin jama’ah. Ikuti semua aturan yang ada di pesantren maka ilmu akan cepat masuk. Shalat itu yang paling utama, kalau mau mendidik, mulai dari shalat. Shalat jamaah, shalat rowatib dan shalat sunnah yang lainnya,” pungkasnya.


Pewarta: Aulia

Editor: Sutan



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *