
Mencintai adalah anugerah, tetapi jangan sampai menaruh rasa pada hubungan yang salah hingga membuat Allah murka.
Hari itu, Elga sedang terjebak dalam lamunan panjang di balkon Pondok Pesantren Al-Mubarakah, Jombang, Jawa Timur. Semilir angin menerpa pipinya, mengibaskan kerudung hitam kesayangannya, membuatnya larut dalam damai sekaligus galau yang tak kunjung reda.
Elga, seorang santri putri, diam-diam menyimpan perasaan untuk seorang pemuda bernama Rasyid. Mereka pernah beberapa kali bertemu dalam acara keluarga, karena orang tua mereka memang saling mengenal. Sejak pertemuan itu, sesuatu tumbuh di hati Elga. Bukan sekadar karena wajah tampan Rasyid, melainkan kepintarannya menguasai kitab, keluasan ilmunya, serta sopan santunnya yang membuat siapapun kagum.
Namun Elga sadar, rasa itu hanya bisa ia simpan sendiri. Sebagai santri, ia harus menjaga rapat-rapat hatinya. Tak ada obrolan panjang, tak ada pesan singkat, apalagi canda tawa. Yang ada hanyalah doa, doa dalam diam, di setiap sepertiga malam. Elga bangun dengan wajah basah oleh air wudhu, lalu dalam sujud panjangnya ia menyebut nama itu dengan penuh harap.
“Ya Allah, jika dia memang jodoh terbaikku, maka dekatkanlah. Jika tidak, mohon jauhkan dari hatiku dan rasa ini dengan cara-Mu, cara paling indah.”

*****
Hari itu, Allah memberinya rezeki yang luar biasa. Elga dan keluarganya berangkat menunaikan umrah bersama. Hatinya bergetar ketika kembali menginjak tanah suci. Di setiap langkah, ia memperbanyak doa, hingga akhirnya tiba di Jabal Rahmah. Tempat yang diyakini banyak orang sebagai titik ijabah doa tentang jodoh.
Elga berdiri di hadapan batu putih itu. Tangannya menengadah, bibirnya bergetar menahan tangis yang akhirnya pecah. Air matanya jatuh deras, membasahi pipinya.
“Ya Allah… aku hanyalah hamba-Mu yang lemah. Aku tidak tahu siapa jodohku kelak. Tapi jika boleh meminta, aku ingin salah satu hamba-Mu bernama Rasyid Al-Ridho. Aku menginginkannya bukan hanya untuk dunia, tapi untuk kebersamaan dalam keberkahan, hingga surga-Mu. Satukanlah kami dalam ridho-Mu, ya Allah.”
Tangisnya semakin menjadi. Tubuhnya gemetar seolah semua rasa dikuras habis dalam doa itu. Ia tak tahu, ternyata di belakangnya ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikannya penuh haru.
Saat Elga mengusap wajahnya dan berbalik, ia tertegun. Di sana berdiri Rasyid. Senyum indah menghiasi wajahnya, senyum yang membuat jantung Elga seolah berhenti berdetak. Di sampingnya, kedua orang tua mereka memandang Elga dengan tatapan hangat.
“Elga…” suara Rasyid lirih, sarat makna. “Sejak lama aku pun berdoa pada hal yang sama. Aku tidak pernah berani mengungkapkannya, maka kusimpan rasa itu dalam doa setiap malam. Dan hari ini, Allah mempertemukan kita di tempat paling suci.”
Elga kembali menangis, kali ini karena haru. Ia hanya mampu menunduk, sementara ibunya mendekat, menggenggam tangannya lembut.
“Le, nak… kami sudah lama memikirkan ini. Kami sepakat, setelah umrah selesai, kami akan menikahkan kalian. Di sini, di tanah penuh berkah ini.”
Tangis Elga pecah lagi. Semua doa yang ia titipkan dalam sujud panjangnya terjawab begitu indah. Rasyid mendekat, suaranya bergetar.
“Elga, semoga doa-doa kita menjadi jalan keberkahan. Aku ingin menuntunmu dalam kebaikan, dan aku ingin kamu melengkapi perjalananku. Semoga Allah merestui dan menghadiahkan bahagia pada kita, yang menjaga rasa hingga halal pada waktunya.”
Dan inilah buah dari doa-doa yang tak pernah henti, dari linangan air mata yang jatuh di sajadah tanpa jeda. Allah menumbuhkan bunga jawaban yang mekar di tanah suci. Sepertiga malam memang rahasia yang tak pernah berkhianat. Rahasia doa yang akhirnya berlabuh indah, menjelma takdir terbaik.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

