
Sore yang cerah di Masjidil Haram. Kala itu, fase para sahabat Nabi hampirlah usai. Duduklah empat pemuda luar biasa. Mereka tengah berbincang selayaknya para pemuda pada umumnya. Hingga tibalah perbincangan mereka pada hal mengubah hidup mereka. Mungkin mereka tidak tahu bahwa duduk dan bicaranya mereka kala itu adalah awal dari semua kisah perjalanan besar mereka, atau bahkan kisah untuk banyak orang.
Empat pemuda luar biasa itu, sebagaimana yang disebutkan oleh Ra’fat Pasha, mereka adalah Abdullah, Mush’ab, dan ‘Urwah, tiga putra Az-Zubair bin Al-‘Awwam dan seorang teman mereka, Abdul Malik bin Marwan. Mereka adalah para pemuda luar biasa dari nasab yang luar biasa, dengan angan-angan yang juga luar biasa. Hari itu, mereka tidak tahu bahwa jalan mereka tidaklah sama, bahkan akan bertentangan. Akan tetapi, biarlah kita tahu bahwa mereka pernah membicarakan hal indah tentang mimpi mereka sebelum akhirnya kita paham bahwa mimpi itulah yang membuat mereka bersebrangan. Ya. Sore itu mereka membicarakan mimpi, angan, hal yang paling ingin mereka dapat di waktu mendatang. Hal yang saat itu membuat mata-mata mereka berbinar tiap menceritakannya. Hal yang membuat mereka terbang ke beberapa waktu mendatang dan seolah-olah mereka telah melihat angan dan mimpi itu di depan mata.
Berkatalah ‘Abdullah bin Az-Zubair, “Aku ingin menjadi khalifah dan menguasai Hijaz.”
Saudaranya, Mush’ab melanjutkan, “Kalau aku, aku ingin menguasai 2 kota Iraq tanpa ada penentangan dan pemberontakan.”
Abdul Malik bin Marwan pun tak mau kalah, “Kalau kalian puas hanya dengan menguasai daerah-daerah kecil tadi, maka aku ingin menguasai seluruh bumi ini. Hanya aku satu-satunya raja di muka bumi ini. Aku ingin jadi khalifah setelah Mu’awiyah.”

Semuanya sudah mengemukakan mimpi-mimpi besar dan indah mereka. Tersisalah seorang yang masih diam membisu, ‘Urwah bin Az-Zubair.
“Apa yang kau inginkan wahai ‘Urwah saudaraku?” tanya kedua saudaranya.
‘Urwah pun menjawab sesaat kemudian, “Barakallah pada angan-angan duniawi kalian. Kalau aku, aku ingin menjadi seorang alim sekaligus ‘amil (orang yang mengamalkan syariat dengan baik). Aku ingin menjadi yang mengajari orang-orang banyak tentang Al-Qur`an, hadits-hadits Nabi juga hukum-hukum Islam. Aku hanya ingin memeroleh keberuntungan dan kebahagiaan di akhirat kelak.”
Waktu berputar. Allah mewujudkan semua angan mereka tanpa terkecuali. Angan yang diucapkan dengan penuh harap dan do’a dari pemuda-pemuda mulia nan hebat. Angan yang diucap di tempat paling mulia dan penuh berkah di muka bumi, Makkah Al-Mukarramah, dekat Ka’bah yang mulia. Tempat itu menjadi saksi sampai kapanpun bahwa mereka pernah bersama dalam ikatan ukhuwah islamiyah sebelum semuanya berubah.
‘Abdullah bin Az-Zubair menjadi khalifah yang menguasai Hijaz ba’da wafatnya Yazid bin Mu’awiyah. Ia dibaiat oleh banyak kaum muslimin. Mulai dari Hijaz, Mesir, Yaman, Iraq, dan Khurasan. Masa kepemimpinannya relatif sangat singkat. Pada akhirnya ia syahid di Makkah, tak jauh dari tempat ia mengucap angannya dulu.
Mush’ab bin Az-Zubair, ia menjadi penguasa Iraq pasca syahidnya saudaranya, ‘Abdullah.
Abdul Malik bin Marwan? Ia menjadi khalifah menggantikan ayahnya Marwan. Ia menjadi khalifah yang dibaiat oleh mayoritas kaum muslimin ketika itu. Jadilah ia raja atau sosok penguasa paling agung di muka bumi pada zaman itu.
Lalu bagaimana dengan ‘Urwah bin Az-Zubair? Ya. Sebagaimana Allah mewujudkan angan tiga sosok agung sebelumnya tadi, Allah pun juga mewujudkan angannya yang sangat indah dan mulia. Sejarah mencatat bahwa ia termasuk dari Fuqaha Sab’ah [1] yang amat dimuliakan oleh para amir ketika itu. Jadilah ‘Urwah seorang ‘alim sekaligus ‘amil. Sosok yang berwawasan luas. Mahir. Ia menjadi seseorang yang diikuti oleh orang banyak. Ia menjadi imam shalat. Pengisi banyak majlis taklim yang amat tersohor pada zaman itu. Tak ada yang tidak mengenalnya. Ia banyak mengambil ilmu Al-Qur`an maupun As-Sunnah dari bibinya. Aisyah binti Ash-Shiddiq, sang mata air ilmu.
Semua angan-angan mereka amatlah besar dan luar biasa. Tanpa terkecuali. Sekalipun itu hanya angan-angan duniawi. Tetapi tidak ada alasan bagi Allah untuk tidak membantu mereka mewujudkannya selagi mereka masih mau berusaha dan berikhtiar. Dengan demikian dengan kita, angan, impian, dan harapan kita akan menjadi nyata dan dapat dirasakan jika kita mau berusaha untuk membuat hal itu nyata. Tapi kalau kita hanya diam tanpa ada aksi apapun, maka semua akan tetap menjadi angan yang indah dirasa namun tidak dapat dilihat mata. Pun semuanya tidak akan jadi apa-apa jika tidak disertai do’a serta pengaharapan bahwa hal-hal tersebut akan terwujud.
Hal-hal besar yang terjadi mungkin tidak sekedar terjadi. Semua berawal dari angan, mimpi, dan keinginan kuat. Semua hal tadi tidak akan jadi apa-apa kecuali jika ada usaha dan keinginan kuat untuk merealisasikannya. Ya. Semua hal besar dimulai dari mimpi yang besar juga. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti bermimpi. Apapun bentuknya. Seberapa pun besarnya. Sebab kita bukanlah apa-apa dan siapa-siapa jika tanpa mimpi.
Baca Juga: Alasan Mengapa Hadis Tidak Dibukukan pada Masa Sahabat
[1] Fuqaha Sab’ah adalah sebutan untuk tujuh orang ahli fiqh terkemuka dari generasi tabi’in di Madinah. Mereka adalah Sa’id bin Al-Musayyab, Al-Qasim bin Muhammad, Sulaiman bin Yasar, ‘Urwah bin Az-Zubair, Kharijah bin Zaid bin Tsabit, Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah, dan Salim bin Abdullah bin ‘Umar
Penulis: Shofiyah Nur Azizah
Editor: Muh. Sutan
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

