Cerita di Teras Rumah | Tebuireng Online

Cerita di Teras Rumah | Tebuireng Online


Sebuah ilustrasi keluarga (sumber: lovepik)

Aku memang berbeda… tapi bukan berarti aku tidak bisa berarti,” bisik Naya pada dirinya sendiri, sambil duduk di kursi kayu di teras rumah. Matanya menatap kosong ke depan, hanya cahaya samar yang masih bisa ia tangkap. Hanya cahaya, tanpa bentuk jelas. Namun bagi Naya, cahaya sekecil itu sudah seperti hadiah dari Tuhan.

Ia sering berbicara dengan dirinya sendiri ketika pagi datang. Di sela angin yang membawa wangi bunga melati dari halaman, Naya merasa lebih damai. Walau keterbatasan membungkusnya, ia ingin terus belajar menerima, bukan sekadar pasrah.

Sejak kecil, Naya berbeda dengan saudara-saudaranya. Ia lahir dengan gangguan penglihatan yang hampir membuatnya buta. Hanya sedikit cahaya yang dapat ia lihat. Sementara adik-adiknya lincah berlari, naik sepeda, atau bermain ke sawah, Naya lebih sering berada di rumah. Kadang ia hanya mendengarkan tawa mereka dari dalam kamar atau teras rumah.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah hilang darinya: semangat. Seperti yang sering dikatakan ibunya, “Nak, kekurangan bukan berarti kelemahan. Ia bisa jadi kekuatan, kalau kamu mau menerimanya dengan sabar.”

Kalimat itu terus terpatri di hati Naya. Ia tumbuh menjadi anak yang ulet, rajin, dan perhatian. Di rumah, ia sering membantu pekerjaan sederhana: menyapu lantai dengan hati-hati, melipat pakaian, atau menyiapkan gelas saat keluarga hendak makan bersama. Semua dilakukan dengan kesungguhan, meski seringkali butuh waktu lebih lama dari saudara-saudaranya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ada masa-masa di mana hati Naya goyah. Pernah ia menangis diam-diam di kamar. “Mengapa aku tidak seperti mereka? Mengapa mataku begini?” pertanyaan itu kerap berputar dalam kepalanya. Ia cemburu pada adik-adiknya yang bisa berlari mengejar layangan di langit, atau ikut ayah ke pasar tanpa takut tersesat.

Tetapi setiap kali kesedihan itu datang, ibunya selalu hadir seperti pelita. Sang ibu mendekapnya erat. “Naya, setiap anak itu punya jalannya sendiri. Kamu memang tidak bisa melihat seperti adik-adikmu, tapi kamu punya hati yang lebih peka, lebih lembut. Kamu bisa mendengar lebih dalam, merasakan lebih tajam. Itu juga anugerah.”

Didikan penuh kasih itu membuat Naya belajar menerima dirinya. Ia berhenti membandingkan diri dengan saudara-saudaranya. Ia mulai percaya, setiap orang punya caranya sendiri untuk memberi arti.

*****

Hari-hari berjalan. Di rumah sederhana itu, Naya tumbuh besar. Dari seorang anak kecil yang sering menangis karena perbedaan, ia menjelma menjadi gadis yang tegar. Ia menjadi sosok pengayom bagi adik-adiknya. Bila adiknya bertengkar, ia yang pertama menengahi dengan suara lembut. Bila ibu sedang lelah, ia yang sigap mengatur pekerjaan rumah agar lebih ringan.

Adik-adiknya pun lambat laun sangat menghargai Naya. Mereka tahu, meski kakaknya berbeda, kasih sayangnya tidak pernah terbatas. Ada rasa hormat yang tumbuh di hati mereka.

Setiap sore, keluarga itu sering duduk bersama di teras rumah. Angin senja membawa kesejukan, suara ayam berkokok di kejauhan, dan di sanalah mereka bercengkerama. Kadang mereka memilih “family gathering” sederhana, bukan di taman kota, bukan di mal, tapi di teras rumah. Segelas teh hangat, gorengan sederhana, dan tawa bersama sudah cukup membuat hati mereka hangat.

Di teras itu pula ibu sering menatap Naya dengan rasa haru. “Lihatlah, betapa indahnya kamu tumbuh, Nak,” ucapnya dalam hati. Bagi sang ibu, melihat Naya tumbuh menjadi pribadi yang sabar dan pengayom adalah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apapun.

Malam itu, ketika bulan purnama menggantung, Naya kembali berbicara pada dirinya sendiri. Ia duduk di teras, ditemani suara jangkrik. “Aku memang tidak bisa melihat dunia dengan jelas. Tapi aku bisa merasakan kasih mereka. Aku bisa mencintai, aku bisa memberi arti. Itu cukup.”

Ibunya yang duduk di sampingnya tersenyum mendengar gumaman itu. “Ibu bangga padamu, Naya,” katanya lembut.

Naya menoleh perlahan, samar-samar melihat cahaya bulan. Senyum tipis merekah di bibirnya. “Aku juga bangga punya ibu yang selalu percaya padaku.”

Di bawah cahaya rembulan yang remang, hati seorang ibu benar-benar dipenuhi kebahagiaan. Melihat anak sulungnya tumbuh baik, dewasa, sabar, dan mampu mengayomi adik-adiknya, ia tahu perjuangannya tidak sia-sia.



Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *