Jalan Sunyi Rani | Tebuireng Online

Jalan Sunyi Rani | Tebuireng Online


Kesunyian perempuan (ilustrasi: kompasianacom)

Malam itu, lampu-lampu jalan di sebuah kampung kecil yang jauh dari kota masih sama temaramnya. Angin berembus lembut, menyapu dedaunan jati yang mulai rapuh dimakan usia.

Di beranda rumah kayu peninggalan almarhum ayahnya, seorang gadis bernama Rani, berusia dua puluh tahun, duduk termenung. Di tangannya tergenggam sebuah buku catatan lusuh, tempat ia menuliskan mimpi-mimpi dan harapan sederhana yang masih ingin ia kejar.

Sejak ayahnya tiada, hidup Rani berubah. Ia harus membantu ibunya mencari nafkah dengan berjualan gorengan sejak dini hari. Saat teman-teman sebayanya sibuk menikmati masa kuliah dan dunia muda, Rani terbiasa bangun pukul tiga pagi untuk menguleni adonan dan menyiapkan dagangan.

Namun ada satu hal yang membuatnya bertahan: doa ibunya. Setiap kali lelah menghampiri, ibunya selalu berkata:

“Nduk, hidup ini memang berat. Tapi jangan marah dan jangan menyerah. Allah tak akan menyia-nyiakan tangan yang menengadah dan air mata orang yang berusaha.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kalimat itulah yang menjadi semangat hidup Rani.

Suatu pagi, setelah membantu ibunya berjualan di pasar, Rani duduk di bangku kayu menatap jalanan. Ia melihat teman-temannya melintas dengan motor matic baru, tas bermerek, dan tawa yang riang. Sementara dirinya masih bergelimang bau minyak goreng yang menempel di baju. Sesekali muncul rasa iri, namun ia sadar: setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda.

Hingga suatu sore, seorang pemuda bernama Fahri datang membeli gorengan. Berbeda dengan pembeli lain, Fahri selalu menyapa dengan sopan.

“Gorenganmu enak sekali, Mbak. Apalagi tahu pedasnya, bikin nagih,” katanya sambil tersenyum.

Rani hanya tersipu malu. Perhatian seperti itu jarang ia temui. Lama-kelamaan, Fahri sering datang, bahkan turut membantu membereskan dagangan. Rani baru tahu, Fahri adalah mahasiswa semester akhir yang sedang meneliti usaha kecil di kampung.

“Jujur, aku kagum sama kamu, Ran,” ujar Fahri suatu hari.
Rani tersenyum getir. “Kagum apanya? Aku hanya jualan gorengan. Tidak sehebat kalian yang kuliah tinggi dengan gaya hidup modern.”

“Justru itu,” balas Fahri. “Kamu kuat. Kamu berjuang tanpa banyak mengeluh. Banyak orang menyerah sebelum mencoba. Kamu beda, Ran. Kamu berani menyingkirkan gengsi demi ibumu.”

Kata-kata Fahri seperti cahaya yang menyusup ke hati Rani. Ia sadar, perjuangan sederhana pun punya arti besar, bahkan bagi orang lain.

Hari demi hari, usaha gorengan milik Rani dan ibunya makin ramai. Pembeli menyukai lapak mereka yang bersih, rasa gorengan yang gurih, serta keramahan penjualnya. Bagi Rani dan ibunya, rezeki tak perlu curang. Tak ada minyak jelantah, tak ada bumbu dikurangi. Hasilnya memang tak melimpah, tapi cukup.

Namun hidup tak selalu mulus. Suatu ketika, ibunya jatuh sakit parah. Biaya rumah sakit menguras habis tabungan mereka. Rani hampir putus asa, tetapi teringat pesan ibunya: “Jangan menyerah pada hidup yang penuh ujian.”

Ia kembali bangkit. Rani mulai mengiklankan gorengannya di media sosial, memotret dagangan sederhana dengan caption penuh semangat. Ajaibnya, banyak orang penasaran dan datang membeli. Bahkan tetangga ikut membantu menjajakan dagangan.

Di tengah perjuangan itu, Fahri datang dengan kabar: ia diterima kerja di luar kota.
“Mungkin aku tidak bisa sering mampir lagi, Ran,” ucapnya pelan.
Rani tersenyum meski hatinya perih. “Pergilah, Rif. Hidupmu masih panjang. Aku di sini akan tetap bersama ibu dan kesederhanaanku.”

Malam itu, air mata Rani tumpah. Bukan hanya karena kepergian Fahri, tetapi juga karena ia semakin paham: hidup adalah jalan sunyi. Tidak semua orang akan menemani selamanya. Yang setia hanyalah doa ibu dan keteguhan diri.

Hari-hari kembali berlalu. Rani tetap berjualan di tempat yang sama. Ia belajar menikmati lelah, menikmati sepi, dan percaya bahwa setiap tetes keringatnya adalah bagian dari perjalanan menuju kebahagiaan.

Ia mungkin takkan pernah memiliki motor matic baru atau tas bermerek, tetapi ia punya sesuatu yang lebih berharga: hati yang kuat dan keberanian untuk bertahan.

Hidup memang sering tak sesuai dengan harapan. Ada yang lahir kaya, ada yang harus bekerja keras sejak kecil. Namun yang terpenting bukanlah kemewahan, melainkan seberapa kuat kita menjalaninya dengan ikhlas.

Seperti Rani, ia menemukan kebahagiaan bukan pada harta yang bergelimang, melainkan pada kekuatan hati, doa ibu, dan keberanian untuk terus melangkah di jalan sunyi.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *