
Di balik tembok pesantren yang tinggi dan membatasi pandangan, seorang santriwati, Nisa menyimpan rasa yang tak pernah ia ucapkan. Ia adalah santriwati kelas akhir, yang sangat cerdas, berprestasi, dan dikenal oleh banyak orang. Namun di balik segala pencapaiannya, diam-diam ia menaruh perasaan pada sosok santri putra yang menjadi inspirasinya selama ini.
Fahmi, namanya. Bukan semata karena parasnya yang menawan, tetapi karena akhlaknya, adabnya, dan segudang prestasi yang ia miliki. Fahmi dikenal sebagai pribadi yang lembut, cerdas, dan penuh keteladanan. Maka, hati mana yang tak luluh dibuatnya?
Nisa memang tak pernah secara gamblang menyatakan perasaannya. Ia tahu betul batasan yang harus dijaga. Namun, ia tetap mengirimkan isyarat-isyarat kecil yang ia harap bisa ditangkap Fahmi. Sesekali, Nisa menitipkan kue kering ke dapur umum dengan secarik catatan: “Untuk Fahmi, semangat belajarnya, ya. Dari teman yang diam-diam mengagumi.”
Ia juga pernah menulis puisi di majalah pesantren: “Tak semua cinta harus bicara. Terkadang diam dan doa Adalah cara terbaik untuk bersuara.”
Beberapa santriwati mulai bisa menebak siapa sosok yang dimaksud dalam tulisan Nisa. Namun Fahmi? Ia tetap tenang, tak bergeming, dan sama sekali tak menunjukkan tanda bahwa ia memahami semua isyarat itu.

Nisa mengira, diamnya Fahmi adalah bentuk penjagaan diri. Ia paham betul bahwa cinta di lingkungan pesantren bukanlah hal yang bisa diumbar. Tapi ia percaya, jika perasaan itu tulus dan dibungkus dengan doa, Allah pasti akan menunjukkan jalan terbaik.
Namun, hari-hari belakangan Fahmi tak tampak di masjid. Nisa mulai cemas. Ini tak seperti biasanya. Ia tak bisa bertanya langsung, hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Hingga akhirnya, kabar itu datang lewat bisik-bisik di antara para santri.
“Fahmi dijodohkan, loh. Minggu lalu keluarganya datang ke pondok. Tunangannya santriwati sini juga.” Dunia Nisa seakan berhenti berputar.
Ia berjalan lunglai, menatap lantai ubin asrama, menahan hujan air mata yang sudah menggumpal di pelupuk mata. Ia mencoba menguatkan diri. Tapi begitu tahu siapa tunangan Fahmi, hatinya kian runtuh, runtuh sehancur-hancurnya.
Tunangan Fahmi adalah Syakila, teman dekatnya sendiri.
Syakila memang bukan tipe orang yang banyak bercerita. Rupanya, sejak lama keluarga Syakila dan Fahmi sudah saling mengenal. Pertunangan itu terjadi diam-diam, tanpa banyak yang tahu. Syakila bukan tipe yang suka mengekspos kehidupan pribadi di media sosial atau di hadapan orang lain.
Yang paling menyakitkan bagi Nisa bukan sekadar karena Fahmi bukan jodohnya. Tapi karena semua itu terjadi begitu dekat, di depan mata dan di antara lingkaran orang-orang terdekatnya.
Hari-hari berikutnya, Nisa banyak berdiam diri. Ia tetap hadir dalam halaqah, tetap menghafal, tetap menulis cerpen dan puisi. Hanya saja, puisinya kini lebih hening, “Jika aku tak bisa menjadi takdir untuknya, Semoga aku tetap bisa menjadi doa yang baik baginya.”
Fahmi? Ia tetap seperti biasanya. Sopan, ramah, dan menjaga adab. Tapi kali ini, saat mereka tak sengaja berpapasan di lorong pesantren, Fahmi menatap sejenak, lalu berkata lirih,
“Terima kasih atas doa-doa baik dan perhatianmu selama ini, Nisa. Maafkan aku, karena aku tak bisa membalas seperti yang mungkin kamu harapkan.”
Nisa terdiam. Kini ia tahu, Fahmi ternyata mengerti dan menyadari keberadaannya sejak lama.
Malam itu, Nisa sujud lebih lama dalam sujud terakhir shalatnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Bukan karena gagal memiliki, tapi karena hatinya terlalu berharap pada seseorang yang bukan ditakdirkan untuknya. Ia merasa malu pada doa-doa yang pernah ia langitkan.
Bagaimanapun sakitnya kisah itu, waktu tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ujian akhir pesantren pun tiba. Fahmi dan Syakila resmi bertunangan setelah kelulusan.
Dan Nisa? Ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Ia memilih mengabdi dan membantu mengajar di madrasah kecil di desanya.
Suatu sore, ia menulis sebuah catatan di bukunya:
“Ternyata cinta juga perlu tahu arah.
Tak semua rasa harus diperjuangkan.
Ada yang cukup disimpan, disucikan, dan dilepaskan,
Agar tak mengotori niat.
Dan ternyata cinta tak selalu harus memiliki.
Terkadang, cinta adalah ujian yang Allah selipkan
Untuk mengukur seberapa mampu kita menjaga hati.
Jika cinta tak berbalas, jangan membencinya.
Mungkin Allah sedang menyelamatkan kita
Dari sesuatu yang tampak baik,
Tapi sejatinya bukan untuk kita.
Teruntuk siapa pun yang sedang menjaga hati,
Semoga Allah menjaga hatimu dan takdirmu nanti.”
Nisa menutup bukunya, lalu melangkah masuk ke rumah. Hatinya masih basah, tapi kali ini, perlahan-lahan mulai belajar ikhlas.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

