
“Aku capek, tapi semua orang bilang kalau aku harus kuat. Aku marah dengan ketidakadilan, tapi semua orang aku harus sabar. Aku sedih tapi mereka berkata ‘semangat terus ya!’ lalu kapan aku boleh memvalidasi tentang semua rasa sakit ini?”
Setelah dipelajari lebih dalam, ternyata kutipan tersebut bukan hanya keluhan sesaat. Ia telah mewakili suara-suara yang hilang bahkan hampir tenggelam dalam gemuruh riuh berisiknya dunia yang selalu menuntut untuk bahagia. Kita hidup di zaman ketika banyak orang yang menampilkan pencapaian atau kebahagiaan hidupnya secara berlebihan di media sosial, sehingga kita merasa terasingkan dan tersingkirkan oleh luka dan penderitaan yang sangat menumpuk di pundak. Inilah paradoks modern; saat semua orang sibuk ingin terlihat bahagia, namun ternyata banyak yang diam-diam memendam luka dan kesedihan bahkan kehancuran yang mendalam.
Budaya Toxic Positivity, banyak yang belum mengerti tentang fenomena ini tapi cukup banyak orang yang -mungkin secara tidak sadar- menerapkan hal ini. Alih-alih kita ingin memberikan dukungan dan semangat namun kita seringkali menyakitkan dan mengabaikan emosi yang seharusnya di validasi. Contohnya kata-kata seperti ‘jangan sedih’, ‘masih banyak yang lebih menderita’ atau kata-kata positif namun bisa berubah makna sebagai bentuk pengabaian terhadap realitas perasaan seseorang. Budaya ini tidak hanya memberikan kita pelajaran tentang bagaimana cara kita memperlakukan orang lain, tapi juga bagaimana cara kita memperlakukan diri sendiri.
Baca Juga: Toxic Positivity, Apakah Selalu Berpikir Positif Itu Sehat?
Menurut Dr. Konstantin Lukin, seorang psikolog dari Lukin Center for Psychotherapy, toxic positivity adalah paksaan untuk selalu berpikir positif dan menolak emosi yang dianggap negatif, seperti marah, sedih, kecewa ataupun takut.

Mereka seolah-olah menganggap bahwa emosi negatif itu tidak layak untuk dirasakan bahkan mereka hanya ingin memandang sisi cerah dari kehidupan kita sehingga muncul kata-kata yang menurut mereka itu bisa membangkitkan semangat kita kembali tapi menindas bahkan mengabaikan eskpresi dari emosi negatif. Padahal ketika kita menolak dan tidak memvalidasi perasaan marah, sedih, kesal ataupun kecewa maka kita tidak bisa mengenal siapa diri kita yang sesungguhnya.
Hal ini sangat berbeda dengan optimisme sehat yang menerima realitas emosional dan mau menerima kenyataan pahit, lalu bangkit secara perlahan untuk menyembuhkan luka. Sebaliknya, toxic positivity melompati proses pahit, membungkus luka dengan senyuman palsu tanpa mengobati luka terlebih dahulu. Akhirnya timbulah seni berpura-pura yang banyak menyimpan stok topeng dalam kehidupan.
Penelitian menunjukkan dalam Journal of Personality and Social Psychology (Gross dan Levenson, 1997) bahwa menekan emosi negatif secara terus-menerus justru akan meningkatkan respons fisiologi seperti tingginya tekanan darah, detak jantung yang meningkat dan gangguan kesehatan mental.
Artinya berpura-pura bahagia bukan hanya menyiksa batin tapi juga bisa berdampak buruk secara fisik. Ini sangatlah penting karena sebagian orang merasa bahwa menahan emosi adalah bentuk kekuatan. Padahal dari kacamatam psikologi, mengekspresikan emosi secara sehat itu justru lebih baik bagi tubuh dan mental. Menolak atau memilih untuk menyembunyikan emosi bukanlah solusi, melainkan timbulnya masalah baru yang harus kita obati. Tubuh dan jiwa kita membutuhkan ruang untuk bisa memeluk dan merasakan eskpresi dengan cara yang tepat. Menangis, marah, kecewa bukanlah tanda bahwa kita itu lemah, tetapi itu adalah bagian alami dari menjadi manusia yang sehat.
Baca Juga: Terjebak dalam Pertemanan Toxic
Ketika kita mencoba bercerita tentang luka yang kita alami, respons yang seringkali mereka berikan berupa penyangkalan emosional atau malah adu Nasib “kamu harus bersyukur jangan seperti aku” atau “hidup kamu enak, masih banyak lho yang lebih susah dari kamu.” Padahal sebenarnya cukup dengan mereka mendegarkan itu sudah membuat perasaan kita tervalidasi. Apalagi dengan mereka mengubah kata seperti ‘kamu boleh lelah, rasakanlah kelelahan itu. Setelah itu, perlahan-lahan cobalah untuk bangkit lagi.’ Maka secara tidak langsung mereka telah membuka ruang sosial untuk menampung air mata, ruang yang memvalidasi perasaan yang sering kali terabaikan.
Kita berperan menjadi manusia bukan tentang menutupi luka dan kesedihan dengan senyuman palsu, tetapi harus berani mengakui luka itu dan berupaya mencari jalan untuk sembuh dengan tanpa dihakimi, tanpa ditertawakan dan tanpa harus berpura-pura kuat.
Untuk kita, peluk semua luka dan rasakanlah. Menangislah dan berteriaklah karena semua emosi itu butuh pengakuan dan pelukan dari diri kita sendiri.
Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

