
Di banyak keluarga, entah disadari atau tidak, perempuan masih saja ditempatkan di urutan kedua. Bukan hanya dalam urusan besar seperti warisan atau pendidikan, tapi juga dalam hal-hal kecil yang justru paling sering ditemui sehari-hari: urusan makan, pengeluaran bulanan, dan bahkan hal sepele seperti siapa yang harus bangun lebih dulu saat pagi datang.
Perempuan dituntut banyak, tapi diberi sedikit. Disuruh sabar, tapi tak diberi ruang bicara. Dianggap kuat, padahal jarang ada yang menanyakan lelahnya. Dalam keluarga yang katanya jadi tempat paling aman dan penuh cinta, tak jarang perempuan justru harus menerima kenyataan bahwa kebutuhannya kalah penting dibanding milik laki-laki bahkan jika itu hanya sekadar sebungkus rokok.
Coba lihat dapur keluarga di pagi hari. Siapa yang pertama kali bangun? Siapa yang harus memastikan sarapan tersedia? Siapa yang memastikan anak-anak berseragam rapi, suami tidak lupa bekal, dan cucian sudah dijemur? Dan siapa yang baru makan setelah semuanya selesai? Jawabannya sering kali sama: ibu.
Baca Juga: Menampik Ungkapan Perempuan sebagai Tiang Agama
Dan ketika makanan terbatas, siapa yang rela hanya makan lauk seadanya? Siapa yang berkata “nggak apa-apa, yang penting anak-anak kenyang”? Itu lagi-lagi perempuan.

Di ruang tamu, saat ada tamu datang, siapa yang diminta menyiapkan teh, menata gelas, memastikan rumah terlihat pantas? Lalu saat si tamu memuji, kepada siapa pujian itu diarahkan? “Wah, istri sampean pinter banget masak,” atau, “Rumahnya bersih ya, pasti rajin.” Tapi apakah pujian itu dibarengi penghargaan? Tidak selalu.
Urusan keuangan juga tidak kalah menyedihkan. Di banyak rumah tangga, kebutuhan perempuan sering kali dikesampingkan. Kebutuhan dasar seperti pembalut dianggap remeh. Sering kali mereka harus berhemat agar cukup, atau malah menunda membeli karena merasa itu bukan prioritas. Sementara di saat yang sama, rokok untuk suami bisa dibeli setiap hari tanpa tawar-menawar. Bahkan tak jarang, perempuan sendiri yang membelinya.
Lucunya, ketika ditanya, mereka akan berkata “nggak apa-apa, yang penting suami senang.” Sebuah kalimat yang terlihat mulia, padahal diam-diam menyimpan luka. Perempuan belajar terlalu dini untuk mengalah. Mereka diajarkan bahwa cinta berarti berkorban, bahkan kalau itu berarti menyingkirkan dirinya sendiri dari barisan yang harus dipenuhi kebutuhannya.
Perempuan terbiasa meminta maaf meski tak bersalah. Saat makanan keasinan, mereka minta maaf. Saat anak jatuh, mereka disalahkan. Saat rumah berantakan karena ulah banyak orang, mereka juga yang dianggap kurang bersih. Seolah-olah semua yang salah selalu bersumber dari mereka.
Dan ketika mereka bicara, suaranya sering kali dipotong. Ketika mereka ingin marah, dianggap berlebihan. Ketika mereka menangis, dikira drama. Saat mereka meminta pengertian, mereka justru dianggap cerewet.
Baca Juga: Ngaji Keadilan Gender Islam Bersama Bu Nyai Hj. Nur Rofi’ah
Perempuan sering tak didengarkan, bahkan oleh orang-orang yang katanya mencintainya. Mereka diberi tempat duduk di belakang meja makan, bukan karena tidak penting, tapi karena “sudah biasa begitu.” Mereka tidak boleh protes, karena dianggap mencederai kesepakatan tak tertulis yang berlaku di rumah: bahwa laki-laki adalah kepala, dan perempuan cukup jadi leher tak boleh lebih tinggi dari itu.
Lalu saat perempuan memilih diam dan menerima, orang berkata, “itulah istri yang baik.” Tapi saat mereka mulai bertanya, mulai tidak setuju, mulai menuntut haknya, mereka disebut pembangkang. Disamakan dengan perempuan yang tidak tahu diri. Padahal mereka hanya ingin setara, hanya ingin diakui bahwa kebutuhan mereka juga penting.
Ketimpangan itu bukan hanya perkara uang atau makanan. Lebih dari itu, ini adalah perkara rasa hormat. Bahwa perempuan juga manusia. Bahwa mereka punya batas lelah, punya hak atas kenyamanan, atas ruang untuk didengar dan diprioritaskan. Mereka tidak diciptakan untuk terus menerus mengalah dan mengabdi tanpa henti.
Ironisnya, sebagian perempuan sudah terbiasa dengan keadaan ini. Bukan karena mereka tidak sadar, tapi karena terlalu lama hidup dalam pola yang sama. Bahkan ketika ada yang mulai bicara soal keadilan, mereka justru ikut mencibir. “Dulu saya juga begitu, dan tidak apa-apa.” Kalimat yang sebenarnya bukan jawaban, tapi justifikasi terhadap luka yang tak pernah sembuh. Mereka tidak benar-benar baik-baik saja, hanya terlalu lelah untuk mengingat betapa tidak adilnya mereka pernah diperlakukan.
Dan warisan ini terus berjalan. Anak perempuan diajari untuk sabar, untuk melayani, untuk tidak egois. Sementara anak laki-laki diajari untuk diprioritaskan, dimudahkan, dan dimaklumi. Maka tak heran jika ketimpangan itu bertahan puluhan bahkan ratusan tahun.
Lalu, siapa yang akan mengubahnya? Tentu saja kita sendiri. Mulai dari keluarga yang kecil. Mulai dari cara seorang ayah mengajarkan anak laki-lakinya untuk menghormati ibunya. Dari cara seorang suami menaruh piringnya sendiri ke dapur. Dari cara seorang anak laki-laki membantu adik perempuannya menyiapkan meja. Dari cara seorang ibu mengatakan, “Ibu juga lelah,” tanpa merasa bersalah.
Baca Juga: Kesenjangan Gender di Dunia Kerja dan Media
Perubahan itu tidak datang dari pidato panjang atau seminar mahal. Ia tumbuh dari tindakan sederhana: memberi perempuan tempat yang setara. Memperlakukan mereka bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai mitra. Menganggap kebutuhan mereka bukan sebagai tambahan, tapi sebagai hak.
Perempuan bukan makhluk lemah. Justru karena mereka kuatlah, dunia bisa terus berjalan. Tapi jangan karena mereka mampu bertahan, kita lantas merasa bebas untuk terus menaruh mereka di belakang. Mereka bukan tempat sampah dari semua beban yang tak ingin kita tanggung. Mereka bukan bayangan yang selalu mengikuti, tapi tak pernah terlihat.
Sudah saatnya perempuan berhenti menjadi yang nomor dua. Di meja makan, di urusan pengeluaran, di ruang diskusi keluarga, dan di setiap tempat yang seharusnya memberikan keadilan. Karena cinta yang sejati tidak membuat seseorang terus-menerus mengalah, tapi justru membuat mereka berdiri sejajar. Dan perempuan, layak mendapat tempat itu. Tempat yang setara, dan dihormati. Bukan karena mereka perempuan, tapi karena mereka manusia.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

