Kitab yang Tak Pernah Ditulis

Kitab yang Tak Pernah Ditulis


Ilustrasi sebuah buku kosong (sumber: pixabay)

Tak ada yang tahu nama lengkapnya. Di pesantren, ia dipanggil “Pak Arif”. Hanya itu. Bukan ustaz, bukan kiai, apalagi alumni. Hanya seorang lelaki tua yang tinggal di balik gudang kitab dan rak-rak lapuk, memungut sampah, menyapu dedaunan, dan kadang-kadang mengepel lantai perpustakaan tua.

Orang bilang ia dulunya mahasiswa filsafat. Orang lain bilang ia bekas aktivis yang pernah hilang semasa Orde Baru. Tapi tak ada yang benar-benar peduli, dan Pak Arif tidak pernah merasa perlu menjelaskan.

Pagi-paginya dihabiskan menyeka debu dari mushaf tua dan memperbaiki jilid kitab yang robek. Ia bicara dengan kitab-kitab itu. Tidak keras, hanya bisikan. Seolah lembaran-lembaran yang usang itu masih punya kuping. Kadang ia tertawa kecil, kadang mendesah pelan, seperti sedang mengulang kembali percakapan yang tak selesai.

“Kitab-kitab ini,” katanya suatu malam kepada santri yang tak sengaja menginap di perpustakaan, “bukan sekadar tulisan. Mereka adalah ingatan yang tak bisa mati, meskipun tubuhnya sudah compang-camping.”

Santri itu tertidur sebelum sempat bertanya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Konon, ada satu kitab yang tidak pernah bisa ditemukan di rak mana pun. Para santri menyebutnya “Risalah Nurul Fath”. Sebagian percaya itu hanyalah legenda. Sebagian lagi bilang kitab itu memang ada, tapi hanya bisa ditemukan oleh orang yang tidak mencarinya. Konon, kitab itu adalah tulisan terakhir dari Hadratussyaikh, ditulis dalam malam-malam sunyi menjelang kemerdekaan. Ia menulis, tapi tak pernah menyelesaikannya.

Pak Arif tak pernah mengaku tahu soal kitab itu. Tapi jika ditanya, ia hanya akan mengusap janggutnya dan berkata, “Ada kitab yang ditulis bukan untuk dibaca.”

Suatu hari, seorang peneliti muda dari Jakarta datang. Membawa surat izin, daftar pertanyaan, dan kamera kecil. Ia memperkenalkan diri sebagai Hafidz, dan mengatakan ingin meneliti “relasi antara naskah-naskah tua dan kesadaran umat modern.” Kalimat yang panjang dan nyaris tidak berarti.

Pak Arif menerimanya tanpa banyak bicara. Ia hanya menyodorkan kunci perpustakaan, menunjukkan rak-rak, lalu kembali ke tempatnya yang gelap dan sempit di pojok belakang.

Hari kedua, Hafidz mulai mengeluh.

“Buku-bukunya tidak terdata. Banyak yang tak ada tahun terbit. Ini membingungkan,” gumamnya.

Pak Arif mengangguk. “Yang bingung bukan kitabnya. Anda saja yang terbiasa dengan peta.”

“Peta?”

“Ya. Orang zaman sekarang suka peta. Ingin semuanya punya koordinat. Padahal, beberapa kebenaran memang sengaja tidak diberi alamat.”

Hafidz tertawa. Ia pikir Pak Arif hanya tukang bersih-bersih yang sok filsuf. Tapi malam itu, saat ia sedang mencatat kutipan dari kitab kuning yang tidak dikenalnya, lampu tiba-tiba padam.

Dalam gelap, ia mencium bau minyak kayu putih. Ada langkah pelan. Lalu suara Pak Arif, seperti dari balik rak.

“Pernah dengar tentang kitab yang tak pernah ditulis?”

“Kitab Hasyim Asy’ari?”

“Hanya sebagian orang yang tahu itu bukan dongeng. Ia memang ditulis. Tapi bukan dengan tangan.”

“Lalu dengan apa?”

“Dengan kehilangan.”

Hafidz terdiam.

Pak Arif melanjutkan, “Setiap kali umat ini kehilangan arah, sebagian hurufnya muncul. Tapi tak ada yang bisa membaca semuanya. Karena ia hanya akan selesai saat umat ini selesai.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang umat sedang sibuk menjelaskan. Bukan mendengarkan.”

Esok paginya, Hafidz tak menemukan Pak Arif di mana-mana. Kamar kecilnya kosong. Tapi di meja tempat ia biasa mengopi, tergeletak secarik kertas:

Ada kitab yang ditulis bukan untuk dibaca, tapi untuk dihidupi. Karena jika ditulis, ia akan dirampas. Jika dibaca, ia akan dikutip. Tapi jika dihidupi, ia akan tetap utuh.

Di bawahnya tertulis dengan huruf arab pegon: “Nurul Fath.”

Hafidz bertanya ke pengurus pesantren. Tak ada yang tahu ke mana Pak Arif pergi. Tidak ada yang tahu juga dari mana ia datang.

“Dulu ia datang waktu Gus Dur masih muda,” kata salah satu pengurus. “Kami pikir ia hanya mau mampir. Tapi ia tinggal sampai semua orang lupa.”

Hafidz tak pernah kembali ke Jakarta. Ia memutuskan tinggal di pesantren itu. Mengajar sedikit. Menyalin kitab. Dan tiap malam, ia duduk di pojok rak yang dulu dihuni Pak Arif, menuliskan satu kalimat yang datang entah dari mana:

Ada kebenaran yang tidak dimuat dalam kurikulum. Karena Tuhan terlalu besar untuk dibatasi mata pelajaran.Ada ilmu yang tak ditulis karena terlalu sederhana untuk diajarkan. Ada kitab yang tak selesai karena umat ini belum siap menyelesaikan dirinya sendiri.

Dan saat seseorang bertanya siapa yang menulis semua itu, Hafidz hanya mengangkat bahu dan tersenyum, “Kitab itu menulis dirinya sendiri. Aku hanya memegangkan penanya.”



Penulis: Muhammad Aswar
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *