Kamar Nomor 13 Menolak Tunduk

Kamar Nomor 13 Menolak Tunduk


Sebuah ilustrasi kamar nomer 13 (sumber: Ist)

Langit sore pondok menjingga kemerahan. Di bawah pohon mangga yang buahnya mulai menguning, beberapa santri dari kamar lain sedang berdebat dari isi kitab yang mereka pelajari. Tapi di Kamar 13, perdebatan sore itu tak kalah seru meskipun topiknya bukan sound horeg yang sedang hangat, tapi soal pengumuman baru dari pengurus.

Pengurus pondok tiba-tiba menggelar taushiyah dadakan. Bukan fiqih. Bukan tafsir. Tapi tentang “kebangsaan dan ketertiban akhlak santri.”

Judulnya panjang, tapi intinya satu: “Jangan terlalu banyak protes. Fokus saja ngaji.”

Rijal duduk di belakang aula, mencatat dengan teliti. Fathan di sampingnya, wajahnya menegang. Naim asyik makan kerupuk dalam plastik, sedangkan Syahdan sesekali mencatat dan sesekali memutar bola matanya.

“Santri adalah pilar agama, bukan pembangkang negara,” kata Ustaz Zainal, salah satu pengurus.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Negara kita punya mekanisme sendiri. Jangan sampai ada suara-suara yang mencampuradukkan semangat ngaji dengan agitasi sosial.”

Setelah selesai, Kamar 13 tidak langsung balik. Mereka duduk di serambi belakang masjid.

“Gimana menurut kalian?” tanya Fathan pelan.

Baca Juga:
Kamar Nomor 13
Ngaji Ekologi di Kamar Nomor 13
Revolusi Kecil dari Kamar Nomor 13

Syahdan menjawab datar, “Itu namanya teori fungsionalisme klasik. Semua harus pada tempatnya. Tapi sering lupa: kalau tempatnya rusak, isinya ikut rusak.”

Naim mengangguk, sambil menyuap kerupuk. “Mirip kayak rak piring di dapur belakang. Kalau miring, semua piring jatuh, tapi pengurus nyalahin santri yang naro mangkok.”

Rijal menambahkan, “Kita harus paham juga, kadang peringatan seperti itu bukan karena benci. Tapi karena takut. Takut pondok dicap radikal. Takut bantuan hilang. Takut tidak nyaman.”

Fathan menatap langit, tampak gelisah. “Tapi kenapa kritik itu dianggap dosa? Padahal dalam kitab-kitab besar pun, kritik terhadap penguasa disebut sebagai bagian dari amar ma’ruf.”

“Karena amar ma’ruf hari ini,” ujar Syahdan, “kadang bisa memecah belah.”

***

Seminggu kemudian, isu makin panas. Desa sebelah resmi disahkan jadi lahan konsesi tambang batubara oleh pemerintah daerah. Warga protes. Tapi tak semua bisa bicara. Kepala desa katanya baru dapat penghargaan “Pemimpin Ramah Investasi” dari provinsi.

Dan di pondok, Pak Lurah mulai jarang muncul. Mungkin malu, mungkin sibuk urus proyek.

Diskusi di Kamar 13 makin malam makin hidup. Kali ini soal istilah baru dari Twitter: “Wahabi lingkungan” julukan untuk orang-orang yang menolak tambang mentah-mentah tanpa kompromi.

“Padahal,” kata Syahdan sambil melipat sarung bekas cucian, “dalam fiqih lingkungan, menjaga mashlahah ‘ammah kemaslahatan umum itu wajib. Tapi siapa yang tentukan mana maslahat, mana mudarat?”

Rijal menimpali, “Kalau air untuk wudhu terganggu, itu bukan lagi urusan duniawi. Itu mengganggu ibadah.”

***

Kabar konsesi tambang di desa sebelah menyebar seperti kabut asap pelan, tapi lama-lama menusuk hidung. Tidak ada pengumuman resmi. Tapi warga desa tahu dari hal-hal kecil: truk besar yang lewat malam-malam, suara mesin bor yang samar dari kejauhan, dan listrik yang tiba-tiba stabil tapi hanya di jalur utama.

Kamar 13 menyadari itu lebih dulu.

Di antara kitab kuning dan sisa kopi sachet, mereka menggambar peta relasi: tambang, kepala desa, pengusaha lokal, dan… Pak Lurah.

“Pak Lurah itu dulunya guru ngaji loh,” kata Rijal sambil mengaduk teh. “Tapi setelah masuk struktur, jadi banyak mikir… kebutuhan.”

“Teori kebutuhan Maslow?” celetuk Naim.

“Lebih ke kebutuhan menyelamatkan citra,” sahut Syahdan.

Fathan mencatat. Tapi malam itu, ia tidak menulis soal hadis atau teori sosiologi. Ia menulis satu pertanyaan besar: “Kalau yang punya kuasa diam, dan yang tak berdaya dibungkam, lalu siapa yang akan bicara?”

***

Esoknya, usai ngaji Subuh, Rijal memulai ide: “Kita harus bicara. Tapi jangan demo. Jangan debat. Kita bukan aktivis jalanan. Kita ini santri.”

“Apa kita ngadu ke pengurus pondok?” tanya Fathan.

Naim langsung menimpali, “Pengurus baru bikin pengumuman: Santri tidak boleh ikut hal-hal berbau politik. Bahkan ‘follow’ akun aktivis di Instagram saja katanya makruh.”

Syahdan tertawa pelan. “Makruh karena bisa membatalkan beasiswa dari pemerintah.”

Setelah diam lama, Rijal berkata, “Kita tidak harus marah. Kita cukup berdoa. Tapi dengan cara yang membuat orang bertanya-tanya.”

Akhirnya disusunlah rencana: Doa Bersama untuk Bumi. Tanpa pamflet. Tanpa pengeras suara. Cukup dengan mengenakan sarung warna hijau setiap Jumat dan menggantung botol bekas berisi air kran yang keruh di depan kamar masing-masing.

Fathan mengusulkan satu tambahan: “Kita tulis kutipan dari kitab yang relevan. Tapi bukan kutipan frontal. Cukup kalimat-kalimat yang membuat orang berpikir.” Misalnya: “Rusaknya bumi karena tangan manusia, bukan karena takdir.” (Tafsir QS. Ar-Rum: 41)

***

Hari Jumat pun tiba.

Dari kamar 13, lima botol tergantung. Tiap botol ada tulisan tangan. Tak ada spanduk. Tak ada orasi. Tapi sejak pagi, beberapa santri diam-diam meniru: menggantung botol sendiri di depan kamar mereka.

Sarung hijau mulai terlihat di mana-mana. Tak seragam, tapi cukup mencolok. Bahkan santri senior yang biasanya malas ganti sarung ikut-ikutan meski katanya, “Sarungku hijau bukan karena protes, tapi karena belum sempat nyuci yang lain.”

Doa pun dilangsungkan usai salat Jumat, tanpa undangan, tanpa aba-aba. Dimulai oleh Syahdan yang berdiri di serambi masjid dan membaca doa dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan dengan nada lirih: “Ya Allah, jernihkan air kami, sejukkan tanah kami, dan lindungi kami dari tangan-tangan yang tega merusaknya…”

Tak ada yang bubar cepat. Banyak yang diam dan bertahan.

Beberapa pengurus lewat, mengernyit.

Tapi suasana terlalu syahdu untuk dibubarkan. Bahkan angin pun seperti menahan napas.

Sore itu, Pak Lurah akhirnya datang ke pondok. Tidak untuk ceramah. Tapi duduk diam di kursi kayu depan aula. Menatap langit sore. Rijal datang mendekat.

“Mau ngobrol, Pak?” tanya Rijal sopan.

Pak Lurah menatapnya pelan. “Kalian ini… kok bisa sampai begini?”

Rijal tersenyum. “Cuma ingin ngaji kami tak berhenti hanya karena air tak mengalir.”

Pak Lurah tertawa kecil. Tapi matanya tak ikut tertawa.

“Kalian bikin banyak orang gelisah.”

“Kami juga gelisah, Pak. Tapi kami tak bisa tinggal diam.”

Pak Lurah berdiri. Matanya menatap ke arah tiang tempat botol-botol bergoyang pelan.

“Lanjutkan. Tapi hati-hati. Kebenaran itu seringkali tidak cukup kuat kalau sendirian.”

Bersambung…….



Penulis: Sya’ban Fadol. H

Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *