Kisah Fudail bin Iyadh, Perampok yang Menangis Mendengar Ayat Al-Quran

Kisah Fudail bin Iyadh, Perampok yang Menangis Mendengar Ayat Al-Quran


ilustrasi

Pada abad ke-2 Hijriah, jalur Abiwarda–Sirjis atau Abiwarda–Sarkhas sangat ditakuti oleh kafilah dagang. Pasalnya di jalur ini ada sekelompok perampok yang terkenal ganas yang sering mengadang kafilah dagang. Pemimpin mereka adalah seorang remaja bernama Fudail bin ‘Iyadh yang lahir di Samarkand dan dibesarkan di Abiwarda, wilayah Khurasan. Ia bernama lengkap Fudail bin ‘Iyadh bin Mas’ud bin Basyar at-Tamimi. Di tengah padang pasir, ia dan teman-temannya yang terdiri dari pencuri dan perampok mendirikan sebuah kemah yang terletak di antara Merv dan Baward.

Siang dan malam, mereka merampok dan membunuh para saudagar kaya dan pedagang antar kota. Hasil rampasan itu mereka serahkan kepada Fudail. Ia hanya mengambil sesuatu yang disukainya, sisanya dibagikan kepada teman-temannya. Meskipun begitu, ia merasa tidak tenang bergelimang hasil rampasan. Ia mulai sadar bahwa perampasan adalah perbuatan yang salah. Suatu hari sebuah kafilah yang besar melewati jalur berbahaya tersebut. Ada seorang lelaki di dalam rombongan itu yang pernah mendengar desas-desus mengenai kawanan perampok sadis di daerah setempat. Ia berpikir untuk segera menyembunyikan sekantung emas yang dimilikinya setelah dari kejauhan melihat para perampok tersebut berkumpul di tengah jalan.

Ia memutuskan untuk menyimpang dari jalan raya. Kemudian ia melihat sebuah kemah yang di dekatnya ada seorang laki-laki yang berpenampilan seperti pertapa. Kantung emas itu pun ia titipkan kepadanya, yang sebenarnya adalah Fudail sendiri. Ia berkata, “Taruhlah kantung emasmu di pojok kemahku.” Lelaki itu segera memenuhi perkataan Fudail. Ia kemudian kembali ke rombongannya, yang ternyata mereka telah dibegal oleh kawanan Fudail. Kaki dan tangan mereka diikat. Dengan sigap, lelaki itu melepaskan ikatan teman-temannya. Mereka bergegas menyingkir dari tempat kejadian dengan membawa harta benda yang masih tersisa. Sementara lelaki tadi kembali ke kemah Fudail untuk mengambil kantung emasnya. Ia terkejut melihat Fudail sedang berkerumun dengan kawanan perampok dan membagi-bagikan hasil rampasan mereka.

“Celaka! Ternyata aku telah menitipkan kantung emasku kepada seorang perampok!” kata lelaki itu mengeluh. Fudail yang melihatnya, memanggilnya dan ia pun dengan takut datang menghampiri. Ia bertanya kepada Fudail, “Tak kusangka kau juga seorang perampok. Apa yang kau inginkan?” Fudail memberi jawaban yang mengejutkan, “Ambillah barangmu dari tempat tadi. Setelah itu tinggalkan tempat ini.” Lelaki itu segera mengambil barangnya, dan kemudian ia pergi. Kejadian ini membuat teman-teman Fudail merasa keheranan. Ada yang berkata, “Kita tidak mendapatkan satu dirham pun dalam bentuk tunai dari seluruh kafilah itu, tetapi mengapa kau malah mengembalikan barang berharganya?”

Dengan tenang Fudail menjawab, “Ia mempercayaiku seperti aku mempercayai Allah akan menerima tobatku nanti. Kuhargai kepercayaannya itu agar Allah juga menghargai kepercayaanku.” Mereka terdiam mendengar jawaban tegas Fudail. Pemimpin perampok yang terkenal ganas ini sebenarnya berjiwa kesatria dan berhati mulia. Apabila di dalam sebuah kafilah terdapat seorang wanita, ia enggan merampas barang-barang wanita itu. Ia juga tidak merampas harta benda orang-orang miskin.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Suatu malam ia pergi sendiri menuju ke sebuah rumah. Di sana ia memanjat sebuah tembok yang tinggi supaya bisa menjumpai seorang wanita yang disukainya di dalam rumah tersebut. Ia sudah sering melakukan hal ini. Harta rampasannya selalu ia hadiahkan kepada kekasihnya itu. Saat sedang memanjat, tiba-tiba ia mendengar seseorang membaca Q.S. Al-Hadid ayat 16:َ

اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ

Artinya: “Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an). Janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik.”

Ayat ini sontak menggetarkan jiwa Fudail, seolah-olah anak panah yang menembus jantungnya. Ia pun kembali turun–tidak jadi memanjat karena merasa kebingungan dan malu. Dengan pikiran dan perasaan berkecamuk, ia berlari ke sebuah reruntuhan bangunan. Ternyata di sana sebuah kafilah sedang berkemah. Fudail mendengar mereka berkata, “Mari kita melanjutkan perjalanan.” Ada yang mencegah, “Tidak mungkin. Ini terlalu berisiko. Fudail sedang menanti dan akan mengadang kita.” Kemudian Fudail berseru, “Berita gembira! Fudail telah bertobat!” Ia pun pergi setelah berseru demikian. Sepanjang hari ia berjalan sambil menangis.

Berita tobatnya sang pemimpin perampok itu tersiar dan menggembirakan orang-orang yang membenci dirinya. Ia meminta kepada teman-temannya agar janji setia di antara mereka dihapuskan. Hanya satu orang yang menolak permintaan itu. Ia adalah seorang Yahudi di Baward. Kepada Fudail, ia berkata, “Ratakanlah bukit di sana, jika kau menginginkanku menghapuskan janji setia yang telah kita ikrarkan.” Ia menunjuk sebuah bukit pasir. Fudail mulai mencangkul bukit tersebut sedikit demi sedikit, tetapi ia ragu pekerjaan ini bisa ia selesaikan kecuali dalam waktu yang sangat lama.

Pada suatu pagi tiba-tiba angin kencang meniup bukit tersebut hingga rata. Si orang Yahudi yang melihatnya dengan rasa takjub berkata kepada Fudail, “Aku telah bersumpah bahwa aku tidak akan menghapuskan janji setia kita sebelum kau memberikan uang kepadaku. Oleh karena itu masuklah ke rumahku, ambil segenggam uang emas yang tergeletak di bawah permadani. Demikian sumpahku akan terpenuhi dan janji setia di antara kita bisa dihapuskan.”

Fudail kemudian masuk ke rumahnya. Sesungguhnya si orang Yahudi telah menaruh bergumpal-gumpal tanah di bawah permadani itu. Namun ketika Fudail meraba ke bawah permadani itu dan menarik tangannya keluar, ternyata yang diperolehnya adalah segenggam dinar emas. Ia menyerahkan dinar emas tersebut kepada si orang Yahudi. Tiba-tiba ia berkata, “Islamkanlah aku!” Kemudian Fudail mengislamkannya. Setelah menjadi seorang muslim, ia kembali berkata, “Tahukah kau mengapa aku menjadi seorang muslim? Hingga sesaat yang lalu aku masih ragu, yang manakah agama yang benar. Aku pernah membaca di dalam Taurat: ‘Jika seseorang benar-benar bertobat, kemudian menaruh tangannya ke atas tanah, maka tanah itu akan berubah menjadi emas.’ Sesungguhnya di bawah permadani tadi telah kutaruh tanah untuk membuktikan tobatmu. Dan ketika tanah itu berubah menjadi emas karena sentuhan tanganmu, tahulah aku bahwa kau benar-benar bertobat dan agamamu adalah agama yang benar.”

Demikian kisah Fudail bin ‘Iyadh, seorang perampok bengis yang kemudian bertobat dan menjadi salah satu tokoh sufi besar dalam sejarah Islam. Pandangannya banyak dikutip dalam kitab-kitab tasawuf klasik seperti Siyar A’lam an-Nubala’ karya Imam adz-Dzahabi. Ia wafat di Mekkah pada tahun 187 Hijriah (sekitar 803 Masehi).

Baca Juga: Kisah Pemuda yang Diusir Nabi, Tapi Diterima Allah


Penulis: Muhammad Anwar

Editor: Muh. Sutan



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *