Bedah Buku Nyantri: Santri Harus Terbuka dan Berkarya bagi Bangsa

Bedah Buku Nyantri: Santri Harus Terbuka dan Berkarya bagi Bangsa


Penulis buku ‘Nyantri’ M. Rudi Cahyono saat membeberkan isi buku pada peserta bedah buku (foto: har)

Tebuireng.online– Santri tidak hanya dikenal sebagai pribadi yang teguh dalam iman, Islam, dan ihsan, tetapi juga dituntut memiliki pola pikir terbuka dalam menghadapi tantangan zaman modern. Dengan cara itu, santri diharapkan mampu berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Gagasan tersebut mengemuka dalam bedah buku “Nyantri: Dimanapun Kapanpun Tetap Santri” karya M. Rudi Cahyono, yang digelar di SMK Plus Khoiriyah Hasyim Tebuireng, Ahad (19/10). Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama Diwek dan dihadiri lebih dari 100 peserta dari kalangan santri pondok, siswa SMA, MA, dan SMK.

Dalam pemaparannya, penulis buku, M. Rudi Cahyono, mengungkapkan bahwa karyanya lahir dari pengalaman pribadi sejak sebelum mondok.

Baca Juga: Ketika Santri Menulis, Pesantren Berbicara

“Buku ini berisi kumpulan pengalaman nyata yang saya alami. Proses penulisannya tidak menggunakan kecerdasan buatan (AI), karena AI secanggih apa pun tidak bisa merasakan pengalaman hidup saya,” ujarnya yang juga dosen Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo, Kediri.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sementara itu, Mochammad Fauzan menilai buku Nyantri menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya kalangan santri, untuk terus berkarya dan sukses di berbagai bidang.

“Sekarang tidak ada yang tidak mungkin bagi santri untuk berkiprah. Saya berharap makin banyak santri tampil di berbagai sektor agar kebijakan pemerintah bisa lebih pro-rakyat,” tegasnya.

Para penulis dan pembanding buku “Nyantri: di mana pun kapan pun tetap santri” (foto: har)

Hal senada disampaikan Mukani. Menurutnya, santri masa kini telah menjelma menjadi sosok yang multitalenta.

“Peran santri tidak hanya dalam bidang keagamaan. Mereka kini berkiprah di banyak bidang, termasuk literasi dan kebudayaan,” ujarnya.

Baca Juga: Tradisi Menulis untuk Membangun Peradaban Islam

Mukani juga mendorong agar semakin banyak santri menulis dan menerbitkan buku sebagaimana tradisi para ulama Nusantara dahulu.

“Tulislah hal-hal sederhana dari kehidupan sehari-hari. Itu bisa menjadi inspirasi bagi anak bangsa lainnya dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tutur dosen STAI Darussalam Nganjuk tersebut.

Turut hadir dalam acara ini sebagai narasumber Mukani, pengurus LTN PWNU Jawa Timur, dan Mochammad Fauzan, anggota DPRD Kabupaten Jombang. Acara dipandu oleh Chalimatus Sa’diyah, mahasiswa Universitas PGRI Jombang (UPJB).



Pewarta: Har
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *