
Tebuireng.online– Pesantren Tebuireng menggelar lomba daur ulang sampah dan pembuatan poster bertema kebersihan, Kamis (16/10/2025), di lingkungan Pesantren Tebuireng Sains. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB, diikuti oleh perwakilan santri dari berbagai pondok se-Tebuireng Raya.
Setiap pondok mengirimkan tiga perwakilan dari tiap wisma, dengan total peserta mencapai sekitar 200 santri yang berasal dari berbagai unit pendidikan dan jenjang kelas. Para peserta diberikan waktu tiga jam untuk menyelesaikan dua kategori lomba: daur ulang sampah dan pembuatan poster.
Untuk lomba poster, panitia menetapkan tema secara langsung di lokasi lomba agar peserta tidak menyiapkan karya dari pondok. Salah satu tim dari kelas 7 MTs Sains mendapatkan tema “Kamar Mandi Nyaman dan Bersih.”
“Hanya dengan tindakan kecil kita bisa mendapatkan kamar mandi yang bersih dan nyaman. Caranya, dengan membuang sampah pada tempatnya dan menyiram setelah buang hajat,” ujar salah satu peserta.
Baca Juga: Siswa SMP AWH diberi Pelatihan Daur Ulang Sampah

Ia menambahkan, kamar mandi di pondok sebenarnya sudah bersih dan nyaman, meski terkadang ada kendala kecil seperti saluran air yang mampet. Namun, menurutnya, pihak pondok selalu cepat menindaklanjuti perbaikan tersebut.
Delegasi dari Wisma Masruroh juga mengangkat tema yang sama. Mereka menggambarkan bahwa kamar mandi yang bersih dan wangi sudah cukup untuk memberikan kenyamanan bagi santri, terlepas dari jenis toilet yang digunakan.
Sementara itu, Wisma Nyai Azzah Bawah mendapat tema “Gazebo Nyaman dan Bersih.”
Dalam posternya, mereka menggambar gazebo di tengah taman yang dikelilingi pohon, rumput, dan bunga dengan komposisi warna unik, rumput berwarna ungu dan langit berwarna pink—yang memberi kesan penuh seni dan imajinasi.
Berbeda dengan itu, Wisma Nyai Azzah Atas menampilkan gaya poster bernuansa anime dengan warna lembut dan tidak mencolok. Sedangkan perwakilan dari kelas 10 SMA Tebuireng Sains menampilkan poster pop-up bertema “Menjaga Kebersihan Lingkungan untuk Menjaga Bumi.”
Poster tersebut dihiasi ornamen botol plastik sebagai simbol kepedulian terhadap daur ulang.
Adapun perwakilan MA Sains menggambar gazebo bersih dengan ilustrasi santri yang sedang menyapu halaman. Mereka menyampaikan pesan bahwa lingkungan bersih akan menciptakan kenyamanan, dan kerja sama dalam menjaga kebersihan membuat pekerjaan terasa lebih ringan.
Baca Juga: Kreatif! Tong Sampah Pop Up dari Gelas Bekas Sabet Juara 1

Kreativitas Santri dalam Daur Ulang Sampah
Pada kategori lomba daur ulang, perwakilan kelas 11 SMA Tebuireng Sains mengangkat tema “Perkembangan Pohon Terhambat oleh Sampah.”
Melalui karya mereka, para santri ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya kesadaran memilah sampah sejak dini.
“Pondok masih perlu lebih bijak dalam memilah sampah. Kami berharap bisa memisahkan sampah organik dan anorganik setiap hari agar tidak tercampur dan menimbulkan masalah baru,” ungkap salah satu peserta.
Menurut mereka, fasilitas tempat sampah terpilah masih terbatas di beberapa area sekolah. Dengan kegiatan ini, para santri berharap kesadaran lingkungan di kalangan warga pesantren semakin meningkat.
Kegiatan lomba ini tidak hanya melatih kreativitas dan kepedulian lingkungan para santri, tetapi juga menanamkan nilai kebersihan sebagai bagian dari iman. Melalui karya seni dan praktik daur ulang, santri Pesantren Tebuireng diharapkan dapat menjadi teladan dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan pondok.
Salah satu peserta dari SMA Tebuireng (SMAT) menyoroti pentingnya kesadaran memilah sampah di lingkungan pondok.
Baca Juga: Ini Peraih Juara 3 Lomba Daur Ulang Sampah di HSN 2025
“Kami ingin semua santri diwajibkan memilah sampah sebagai bentuk kepedulian terhadap bumi. Kami khawatir kerusakan lingkungan akan semakin parah jika kesadaran ini tidak dimulai dari sekarang,” ujar salah satu perwakilan SMAT.
Namun, menurut mereka, tidak semua santri memiliki kesadaran yang sama terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Kreasi Unik dari Kardus dan Koran Bekas
Berbeda dari kelompok lain, perwakilan Wisma Nyai Nafiqoh membuat karya daur ulang berupa tong sampah dari kardus bekas. Di dalamnya terdapat wadah kecil tambahan (top up) yang digunakan untuk memisahkan jenis sampah tertentu.
Karya tersebut menjadi simbol pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya.
Sementara itu, perwakilan kelas 12 SMAT menarik perhatian juri dengan karya gaun dari koran bekas.
Menurut mereka, di pondok sering kali ada kegiatan yang memerlukan busana pesta, dan sebagian santri harus menyewa dengan biaya mahal. Gaun daur ulang ini menjadi solusi kreatif dan hemat biaya.
“Untuk membuat gaun ini kami hanya menghabiskan sekitar tiga puluh ribu rupiah. Bahannya sederhana, cukup membeli koran bekas dan lem. Selain murah, juga melatih kreativitas santri,” ujar salah satu anggota tim.
Dari Sampah Kertas hingga Krisis Iklim
Para peserta juga menyoroti persoalan sampah kertas yang banyak terbuang sia-sia tanpa proses pemilahan. Padahal, menurut mereka, sampah kertas termasuk organik yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca penyebab pemanasan global.
Baca Juga: Juara Poster Digital FLS3N: Danastri Anindya, Siswi Trensains Siap Maju ke Provinsi
“Gas metana merupakan gas rumah kaca terpenting kedua setelah karbon dioksida dan memiliki potensi pemanasan lebih kuat. Karena itu, pengelolaan sampah kertas perlu mendapat perhatian,” jelas salah satu peserta.
Selain itu, mereka menambahkan, limbah kertas yang mengandung tinta bisa menimbulkan air lindi jika bercampur dengan sampah lain. Air lindi dapat meresap ke tanah dan mengurangi kesuburan lahan.
“Kalau tanah rusak, pohon sulit tumbuh, dan bahan baku kertas pun semakin langka. Jadi, daur ulang itu penting bukan hanya untuk kebersihan, tapi juga kelestarian lingkungan,” ungkapnya.
Dari kategori MTs Sains, para santri menghadirkan mesin cuci mini yang dibuat dari galon bekas air mineral. Mesin tersebut dilengkapi sikat dan mekanisme pemutar sederhana, sehingga bisa digunakan untuk mencuci pakaian kecil seperti kaus kaki dan pakaian dalam.
“Mesin ini sudah kami coba di pondok, dan hasilnya cukup efektif untuk mencuci pakaian kecil,” ujar salah satu peserta MTs Sains.
Pewarta: Aulia Rahmah
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

