Perpisahan Kamar Nomor 13 | Tebuireng Online

Perpisahan Kamar Nomor 13 | Tebuireng Online


Sebuah ilustrasi kesedihan seorang santri saat perpisahan (ilustrasi: ai/rara)

Hari-hari terakhir di pondok punya rasa yang aneh. Antara lega karena beban hafalan kitab selesai, dan sedih karena sebentar lagi mereka akan berpisah. Kamar nomor 13 terasa lebih ramai dari biasanya. Bukan karena lebih banyak orang, tapi karena setiap obrolan terdengar lebih dalam, lebih panjang, dan lebih berat dari sekadar gosip tentang ustaz yang salah baca kitab.

Rijal masih sering terlihat dengan kitab di pangkuan, meski pikirannya sudah melayang-layang ke desa asalnya. Syahdan semakin rajin menulis catatan kecil, entah itu ringkasan dari buku sosiologi atau sekadar puisi pendek yang sulit dipahami. Naim tetap cerewet, tapi justru semakin cerewet, seakan-akan ia sedang menimbun kenangan dengan tawa sebelum waktunya benar-benar habis. Sedangkan Fathan—yang dulu datang dengan planner warna pastel—kini sudah belajar bahwa dunia pondok tidak bisa sekadar disusun dengan tabel dan jadwal rapi.

Baca Juga: Kamar Nomor 13

Malam itu, suasana pondok mendadak berubah. Setelah Isya, Ustaz Zainal memberi kabar penghuni kamar nomor 13 bahwa Pak Lurah akan datang menemui mereka. Bukan di balai desa, bukan di rumahnya, tapi langsung ke pondok. Itu hal langka.

Ketika Pak Lurah masuk ke ruang pengurus, wajahnya tampak lebih tua dari terakhir kali mereka lihat. Mata sayunya menyapu ruangan. Santri-santri yang biasanya ribut mendadak hening.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Aku tahu,” katanya pelan, “akhir-akhir ini kalian banyak gelisah soal tambang di desa. Aku pun sama.”

Tak ada yang berani bicara. Bahkan Naim yang biasanya suka nyeletuk, kali ini menunduk.

Pak Lurah menarik napas panjang. “Aku ini mungkin tidak seperti yang kalian kira. Aku tidak pernah benar-benar setuju dengan proyek tambang itu. Tapi ada kontrak, ada tanda tangan sebelum aku menjabat.”

Kata-katanya menggantung di udara. Mereka berempat saling pandang. Rijal berbisik ke Syahdan, “Jadi benar, dia bukan dalangnya.” Syahdan mengangguk, matanya menajam, seolah potongan puzzle di kepalanya baru saja menyatu.

Baca Juga: Kamar Nomor 13 Menolak Tunduk

“Demo yang viral kemarin,” lanjut Pak Lurah, “membuat mereka menunda proyek. Bukan membatalkannya, hanya menunda. Karena di atas sana,” ia menunjuk ke langit, “ada kekuatan yang lebih besar dari sekadar lurah. Ada bisnis yang tak bisa kalian bayangkan besarnya.”

Ustaz Zainal yang duduk di sampingnya hanya menunduk, membiarkan kata-kata itu jatuh ke telinga seperti hujan pertama setelah kemarau.

Pak Lurah menutup dengan suara yang hampir bergetar, “Aku bukan orang berani. Tapi kalian harus tahu: Lawan yang sebenarnya ada di luar sana.”

Setelah itu ia pamit, meninggalkan ruang pengurus dengan langkah berat.

Kamar nomor 13 malam itu jadi ruang diskusi paling panas di pondok.

“Jadi jelas, lurah itu cuma boneka,” kata Syahdan sambil mengetuk-ngetuk meja. “Sutradara lebih kuat daripada aktor. Bahkan lurah pun cuma pion di papan catur.”

Rijal menimpali, “Kalau begitu, selama kita masih di pondok, kita cuma bisa bersuara. Tapi setelah keluar, mungkin ada cara lain. Aku ingin kembali ke desa, aku nggak mau sungai tetap keruh.”

Naim, dengan gaya khasnya, menyahut, “Aku sih mau buka warung kopi dulu. Dari situ kita bisa bikin diskusi mingguan. Obrolan warung kopi kadang lebih jujur daripada rapat penting, kan?”

Baca Juga: One Piece di Kamar Nomor 13

Semua tertawa, tapi mereka tahu ucapan Naim ada benarnya.

Fathan diam cukup lama. Lalu ia berkata pelan, “Aku kira dulu pondok hanya soal hafalan dan disiplin. Tapi ternyata, pondok ini justru mengajari kita membaca realitas. Aku jadi paham kenapa kamar nomor 13 disebut aneh. Karena kita belajar bukan cuma dari kitab, tapi juga dari keruhnya air, dari resahnya warga, dari diamnya seorang lurah.”

Hening sebentar. Lalu Naim kembali pecah dengan tawa, “Dan dari cireng gosong!”

Mereka semua tertawa. Tawa yang kali ini terasa lain. Ada getir, ada semangat, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar gurauan anak pondok.

***

Hari-hari kelulusan pun tiba. Pondok penuh dengan tangis bahagia, salaman berderet-deret, doa panjang di setiap sudut. Ustaz-ustaz memberi wejangan terakhir, mengingatkan bahwa santri bukan hanya lulusan pondok, tapi duta akhlak di masyarakat.

Rijal membawa pulang kitab-kitabnya, bersiap kembali ke desa. Syahdan sudah merencanakan untuk melanjutkan kuliah di jurusan yang katanya bisa menjembatani agama dan sosial. Naim dengan bangga menenteng wajan gosong—oleh-oleh paling absurd tapi penuh kenangan. Fathan? Ia menutup planner pastel yang kini penuh coretan acak, tanda bahwa hidup tak bisa selalu serapi rencana.

Sebelum berpisah, mereka duduk sekali lagi di kamar nomor 13.

“Ini akhir kita di pondok,” kata Rijal.

“Bukan akhir,” sahut Syahdan, “hanya bab pertama.”

Naim menepuk bahu mereka, “Bab berikutnya lebih seru. Kita akan menghadapi dunia luar. Katanya ada mafia tambang dan minyak, kan? Ya, mungkin kita nggak bisa langsung melawannya. Tapi kita bisa mulai dari hal kecil.”

Fathan mengangguk, menatap poster di dinding yang sudah pudar tulisannya: Lawan Kapitalisme. “Entah kita nanti jadi apa—pengusaha, jaksa, TNI, atau apapun—aku rasa kamar ini sudah cukup memberi kita kompas. Bukan kompas yang menunjukkan arah mata angin, tapi kompas yang menunjukkan arah mata hati.”

Mereka terdiam, lalu saling tersenyum.

Baca Juga: Revolusi Kecil dari Kamar Nomor 13

Di luar, suara ayam jantan pondok mulai terdengar meski matahari belum muncul. Waktu berjalan, dan pondok tak pernah berhenti melahirkan cerita.

Kamar nomor 13 kini kosong, hanya menyisakan bau minyak gosong dan lemari yang tak pernah mau tertutup rapat. Tapi bagi mereka berempat, kamar itu akan selalu hidup. Tempat di mana mereka belajar bahwa kitab dan realitas tak bisa dipisahkan. Tempat di mana mereka sadar, bahwa perjuangan melawan keruhnya sungai hanyalah awal dari pertarungan yang jauh lebih besar.

Dan begitu mereka melangkah keluar dari gerbang pondok, mereka tahu: dunia sedang menunggu, dengan semua keruwetan dan guritanya.

Itulah akhir pondok bagi mereka. Sebuah perpisahan yang bukan perpisahan. Sebuah bab yang selesai, hanya agar bab berikutnya bisa dimulai.

Bersambung……



Penulis: Sya’ban Fadol. H
Editor: Rara Zarary

 

 



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *