
Oktober dan Gerimis yang Berdoa
Oktober datang dengan langkah basah,
gerimis menitik di jendela waktu,
membasuh debu yang lama melekat di dada.
Aku menatap langit abu-abu,
menyulam doa pada setiap tetes yang jatuh,
semoga rinduku tak lagi tersesat,
semoga harapanku menemukan rumahnya.
Oktober, kau adalah kitab yang terbuka,
halaman-halamanmu dipenuhi guratan mimpi,
aku ingin menuliskan takdir baru di sana:
tak ada air mata yang sia-sia,
tak ada luka yang tak jadi bunga.
Di Balik Langkah Oktober
Angin Oktober berhembus lirih,
membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan,
seperti pesan rahasia dari langit
bahwa setiap luka akan tumbuh daun muda.
Aku melangkah, meski tertatih,
membawa sisa-sisa asa yang nyaris patah,
tapi Oktober menepuk bahuku:
“Berjalanlah, tak ada malam yang tak berakhir.”
Harapan pun tumbuh di sela-sela retakan,
bagai bunga liar yang keras kepala,
tak peduli musim, tak peduli hujan,
ia tetap mekar—
seperti mimpiku yang tak mau mati.
Jendela Masa Depan
Oktober adalah jendela terbuka,
matahari pagi menyusup di sela tirai,
mengusir kabut yang lama singgah di mataku.
Di ujung cahaya, aku melihat kemungkinan,
jalan panjang berliku yang berkilau
oleh percikan harapan yang tak pernah padam.
Oktober mengajarkanku satu hal:
bahwa waktu adalah ladang,
dan setiap doa yang kutanam di tanah sabar
akan tumbuh menjadi pohon kebahagiaan.
Maka aku biarkan hatiku berakar,
aku biarkan mimpiku bertunas,
karena aku percaya—
Oktober bukan akhir,
ia hanyalah awal dari segalanya.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary

Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

