Ujian Antara Birrul Walidain dan Semangat Menuntut Ilmu

Ujian Antara Birrul Walidain dan Semangat Menuntut Ilmu


Penuntut ilmu sering kali mendapatkan ujian. Simpul antara cinta ilmu dan mengabdi kepada orang tua merupakan titik sensitif yang mengikat bagi perjalanan seorang penuntut ilmu. Dua di antaranya sama-sama amal saleh. Yang pertama membantu orang memahami petunjuk ilahi, dan yang satunya membuka pintu ridha ilahi.

Namun, seringkali terjadi keduanya tampak bertabrakan ketika seseorang dengan semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu agama (misalnya), namun ia malah menghadapi penolakan dari orang tuanya, disebabkan misalnya tidak cukup membiayai. Di sinilah perjalanan ruhani seorang penuntut ilmu sedang diuji.

Di satu sisi, menuntut ilmu adalah perintah agung dalam Islam. Bahkan sebagian ulama menyebutnya sebagai jalan para nabi. Di sisi yang lain, berbakti kepada orang tua adalah perintah langsung dari langit yang letaknya beriringan dengan tauhid dalam Al-Quran:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا  

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Q.S al-Isra’[17]: 23)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Restu kedua orang tua, sejatinya adalah jembatan yang melapangkan jalan. Para imam dan ulama-ulama besar terdahulu tidak hanya mendapatkan ilmu yang sangat luas dengan kecerdasannya, melainkan juga mendapat keberkahan yang lahir akibat bakti kepada orang tua (birrul walidain). Ada ulama yang berkata:

أعلم عملًا صالحًا بعد الإيمان وفقني الله فيه حتى بلغت هذا العلم مثل بري بوالدي، فقد توفي أبي وهو في النزع يدعو لي بالعلم والعمل 

Artinya: “Aku tidak mengetahui ada amal saleh setelah iman yang Allah berikan taufik kepadaku sampai aku mencapai derajat ilmu seperti ini, selain karena baktiku kepada kedua orang tuaku. Ayahku wafat dalam keadaan sekarat, dan saat itu ia mendoakan aku agar diberi ilmu dan amal oleh Allah.”  Setelah beliau mengatakan seperti itu, kemudian beliau berwasiat kepada orang yang ingin menuntut ilmu, beliau berkata:

أوصي طالب العلم فأقول: إذا أردت أن توفق في طلب العلم، وتوفق لكل عمل صالح بعد الإيمان، فأول ما تفكر فيه إرضاء والديك، من إدخال السرور عليهما، والحرص على الإحسان إليهما، وإسداء الخير إليهما، فتلك من أعظم المفاتيح التي ينال الإنسان بها العلم والعمل 

Artinya:“Jika engkau ingin diberi taufik dalam menuntut ilmu, dan dalam amal saleh setelah iman, maka hal pertama yang harus engkau lakukan dan pikirkan adalah bagaimana mencari keridhaan kedua orang tuamu. Berusahalah membuat mereka bahagia, berlomba dalam berbuat baik kepada mereka, dan terus-menerus memberikan kebaikan kepada mereka. Karena di situlah kunci terbesar yang dengannya seseorang dapat meraih ilmu dan amal.”  (Syarh Zad al-Mustaqni’, Muhammad bin Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi)

Orang tua bukanlah penghalang sebuah impian, melainkan pintu langit yang terbuka ketika anaknya mendapat ridha mereka. Hadits Nabi Saw menyebutkan bahwa barang siapa yang ingin berjihad lalu ditanya: “apakah ibumu masih hidup?” dan ketika dijawab “iya”, maka Nabi bersabda: “tetaplah bersamanya, karena surga ada di bawah kakinya.”  Namun, ini tidak berarti bahwa semangat penuntut ilmu harus padam. Justru sebaliknya, inilah momen ketika seorang pencari ilmu benar-benar diuji. Jika mereka mengizinkan, maka itu adalah pintu berkah. Jika mereka belum ridha, maka berbakti adalah ilmu pertama yang harus dituntaskan.

Tapi sebaiknya bagi orang tua (kalau tidak ada hambatan, seperti finansial dan semacamnya), agar terus mendukung anaknya. Karena manfaatnya tidak hanya sekedar bisa dirasakan hanya di dunia saja, tapi kelak juga nanti di akhirat. Karena  “sesungguhnya Allah tidaklah menanamkan kecintaan terhadap ilmu dalam hati seseorang kecuali Dia menginginkan kebaikan baginya. Ilmu yang dibangun di atas ketaatan dan ridha orang tua akan lebih kokoh dan membawa keberkahan. Maka, keduanya perlu saling memahami, saling mendukung, dan saling mendoakan. Tidak perlu memilih salah satu—yang dibutuhkan adalah bagaimana menghadapinya dengan cara yang baik, dewasa, dan mungkin tidak kalah pentingnya harus ada komunkasi yang jujur.

Baca Juga: Harmoni Kebatinan dan Keilmuan Seorang Santri


Penulis: Abil Qasim

Editor: Muh. Sutan



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *