
Sulit sekali rasanya menerima kenyataan bahwa aku terlahir sebagai anak pertama. Ibuku bercerita bahwa dulu sebenarnya aku mempunyai seorang kakak, namun belum genap empat bulan dalam kandungan, ibuku mengalami keguguran. Katanya, dulu mbahku sangat menginginkan kelahiranku karena beliau ingin sekali menimang cucu perempuan. Sebelumnya, dua cucunya laki-laki, maka mbahku menyuruh ibuku untuk memeriksakan kandungan dan mengetahui jenis kelaminku. Hasilnya perempuan, dan mbahku sangat senang sekali. Semua perlengkapan bayi perempuan dibelikannya. Mulai dari kelambu berwarna pink, baju serba pink, gaun-gaun kecil, selimut pink, semua serba pink.
Keluargaku sangat antusias menyambut kelahiranku, terutama mbahku. Namun, ketika aku lahir, ekspektasi mereka tidak sesuai dengan kenyataan. Aku terlahir dengan berat badan di bawah normal. Aku hampir saja masuk inkubator. Tetapi karena ASI ibuku sangat deras dan aku selalu dipenuhi dengan ASI, akhirnya aku tidak jadi dimasukkan inkubator. Oh ya, aku juga dijuluki sebagai bayi kekurangan gizi. Mengapa? Karena tubuhku sangat kurus dan aku tidak mau digendong oleh siapa pun, kecuali ibuku. Dengan bapakku saja aku enggan.
Beranjak menjadi gadis kecil yang lucu, sebenarnya aku tidak mau menginap di rumah mbahku karena aku sangat takut padanya. Mbahku adalah imam di langgar sekaligus guru mengaji, sehingga lumayan ditakuti oleh anak-anak kampung. Perawakannya tegas, matanya berwarna hijau kecoklatan dengan tatapan tajam. Jangankan orang lain yang merasa takut, cucu-cucunya sendiri pun sering merasa demikian.
***
Setelah itu, ketika aku kelas dua SD, aku mempunyai adik perempuan bernama Dwi. Sebelumnya, aku memang terus-menerus meminta kepada ibuku agar dibuatkan adik, karena melihat teman-temanku sudah memiliki adik. Aku berharap adikku bisa diajak bermain masak-masakan, bermain guru-guruan, atau permainan lainnya.

Tak lama, satu tahun kemudian, aku kembali memiliki adik, kali ini laki-laki. Namanya Triadi. Dialah anak yang paling diharapkan oleh orang tuaku. Betapa senangnya keluarga kami menyambut kelahiran adik laki-lakiku itu. Namun, ada desas-desus warga bahwa salah satu dari Dwi atau Triadi pasti akan ‘mengalah’, karena mereka lahir terlalu dekat, hanya selisih setahun. Tetanggaku mengira bahwa Dwi yang akan ‘mengalah’ karena sejak kehadiran Triadi, ia menjadi kurang diperhatikan. Dwi sering dititipkan ke tetangga atau keluarga, sementara aku sibuk sekolah dan ibuku fokus mengurus Triadi, anak kesayangannya.
Namun ternyata dugaan tetanggaku keliru. Lima bulan setelah kelahiran, Triadi sering mengalami sakit. Awalnya hanya penyakit ringan, tetapi setelah dibawa ke rumah sakit kota, dokter mendiagnosisnya mengidap penyakit paru-paru. Ternyata selama ini ASI tidak masuk ke lambung, melainkan masuk ke paru-paru sehingga menghambat pernapasan. Hal itulah yang membuat Triadi ‘mengalah’ dan pergi meninggalkan kami selamanya.
Saat itu, aku masih duduk di kelas tiga SD, sedangkan Dwi baru berusia satu tahun. Kami sama sekali tidak memahami kondisi Triadi di rumah sakit. Tetanggaku sibuk menyiapkan kursi-kursi dan membersihkan rumah kami. Aku heran mengapa mereka begitu baik, ternyata semua itu untuk menyambut jenazah Triadi.
Bapak dan ibuku sangat terpukul dengan kepergian anak kesayangan mereka. Aku hanya bisa menangis di depan jenazah Triadi. Tubuhnya kurus, hidungnya mancung, bibirnya pucat pasi. Aku teringat saat bermain cilukba bersama Triadi dan Dwi. Namun, seringkali Dwi tega menutup wajah Triadi dengan bantal hingga ia kesulitan bernapas. Tak jarang pula Dwi memukul Triadi dengan tangannya sendiri, seolah-olah tidak senang dengan kehadirannya.
Dwi sangat kurang mendapatkan perhatian dari ibu dan bapak, hingga ia kerap dititipkan ke tetangga atau kepada salah satu keluarga. Sepulang sekolah, aku selalu menjemputnya untuk pulang. Terkadang aku merasa sangat kasihan melihatnya, tubuhnya kurus, kurang mendapat kasih sayang dari bapak dan ibu. Aku sering mengajaknya bermain masak-masakan di depan rumah. Kadang aku juga mengajaknya fashion show dengan baju yang kukreasikan sendiri. Sering pula aku berkata dalam hati, “Dek, maafkan kakak yang belum bisa menjagamu dengan baik. Maafkan bapak ibu juga yang kurang perhatian padamu. Tumbuhlah menjadi adik yang baik, ya.”
Beranjak dewasa, Dwi tumbuh menjadi anak yang membanggakan, meskipun kadang membuatku kesal. Ia berprestasi sama sepertiku. Walau tidak selalu juara kelas, tapi ia bersinar dalam bidang non-akademik. Sejak kelas 4 SD hingga sekarang, ia menjadi danton cantik yang membanggakan aku juga bapak dan ibu. Kini ia pun mondok dan telah menghafalkan kitab Jurumiyyah lengkap beserta artinya.
Dwi, adik perempuanku. Anak kedua setelah aku. Jadilah adik yang menyenangkan, jangan sering mengesalkan, ya. Tumbuhlah lebih baik dariku, berkembanglah dan ukirlah prestasi. Anggaplah aku sebagai tempat bersandar dan berbagi cerita ketika dunia tidak lagi menemanimu. Jadilah anak yang membanggakan, dan semoga bahagia selalu, ya 😊
Penulis: Nabila Rahau
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
