Pondok Putri Tebuireng Latih Guru Metode Muwahhadah, KH. Mahmudin: Nada Seragam adalah Kunci

Pondok Putri Tebuireng Latih Guru Metode Muwahhadah, KH. Mahmudin: Nada Seragam adalah Kunci


KH. Mahmudin saat menyampaikan metode muwahadah di hadapan para guru al-Quran Pondok Putri Pesantren Tebuireng, Selasa (23/9/2025). Foto: Albi
KH. Mahmudin saat menyampaikan metode muwahadah di hadapan para guru al-Quran Pondok Putri Pesantren Tebuireng, Selasa (23/9/2025). Foto: Albi

Tebuireng.online- Selama 2 hari, Selasa-Rabu (23-24/09/2025), Pondok Putri Pesantren Tebuireng mengadakan pelatihan metode Muwahhadah bagi para guru, di Aula lantai 3 gedung Yusuf Hasyim. Pada hari pertama, KH. Mahmudin, salah satu juri MTQ Kabupaten Jombang yang menjadi pemateri, menjelaskan bahwa metode Muwahhadah berfokus pada keseragaman lagu saat membaca Al-Qur’an. Menurutnya, hal terpenting adalah nada yang seragam, sedangkan Muwahhadah hanyalah sebuah nama. “Terutama ditekankan pada lagu yang seragam. Tajwid otomatis, metode apa saja tajwid dan makharijul huruf harus ditekankan,” jelasnya.

Mahmudin juga mengatakan variasi nada dan mad sangatlah penting. Untuk menciptakan keseragaman, ia menekankan bahwa mad harus memiliki satu pantulan.  “Jadi, variasinya, nadanya, terus mad-madnya, jadi seperti tadi, seperti mad-nya harus satu pantulan, supaya bisa seragam. Panjang, tapi ada khasnya, satu pantulan,” tambahnya.

KH. Mahmudin juga mengatakan salah satu syarat penting setelah nada vokal tepat adalah pengucapan makharijul huruf (tempat keluarnya huruf). Kemudian saat mengajar tartil dasar, tempo tidak perlu terburu-buru. Ia biasa mempraktikkan pengajaran tartil dasar dengan memulai dari juz 30, kemudian dilanjutkan ke juz 1. “Kalau saya praktik juz amma. Selesai juz amma juz 1,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa guru perlu terus belajar sebagai bentuk tanggung jawab dalam mendidik santri. Menurutnya sesekali guru boleh menghukum murid yang kurang fokus, misalnya dengan menyuruh berdiri, agar santri benar-benar fokus saat guru menjelaskan. Selain keseragaman lagu, Mahmudin juga menekankan bahwa membaca Al-Qur’an membutuhkan banyak praktik. Saat diwawancarai ia mengatakan pencetus metode ini adalah dari Madrasatul Quran, yang bertujuan agar bacaan Al Qur’an menjadi seragam.

Pada hari kedua diisi dengan praktik langsung metode Muwahhadah agar para guru bisa langsung menerapkannya. Ia juga mengingatkan agar para guru sering-sering mengingatkan murid, misalnya, cara membaca huruf dengan harakat fathah adalah dengan membuka mulut.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Menurutnya, Al-Qur’an akan menjadi penilaian pertama masyarakat ketika seorang santri kembali ke kampung halamannya. Hal ini membuat penguasaan Al-Qur’an yang baik menjadi hal yang sangat penting. “Lebih-lebih anak putra umumnya pulang diminta jadi imam,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia berharap dari apa yang telah disampaikannya dan praktik yang telah dilakukan dapat diterapkan dalam proses pembelajaran Al-Qur’an. “Harapan kita ya tentu saja bisa ke depan, untuk yang ikut, tadi ikut belajar bersama-sama, bisa menerapkan kepada santri masing-masing,” pungkasnya.

Baca Juga: Tingkatkan Kompetensi Pengajar, Pondok Putri Tebuireng Gelar Pelatihan Metode Muwahadah


Pewarta: Ilvi Mariana

Editor: Sutan



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *