
Tebuireng.online- Pesantren Tebuireng Jombang menggelar Halaqah Kebangsaan dengan tema “Memaknai Ulang Resolusi Jihad: Dari Pesantren untuk Kemaslahatan Bangsa” pada Senin, 22 September 2025. Acara yang berlangsung di serambi Masjid Utama Pesantren Tebuireng ini dihadiri oleh tokoh pemerintah, akademisi, dan dzuriyah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, serta diikuti oleh sekitar 150 santri, ustadz, dan kiai.
Ketua Panitia, Dr. Mohammad Hamsa Fauriz, S.Pd.I, M.H., dalam sambutan menegaskan bahwa, “Kegiatan halaqoh kebangsaan ini adalah sebagai bentuk refleksi, sekaligus menanamkan nilai-nilai cinta terhadap tanah air kepada para santri, serta meningkatkan wawasan kebangsaan, juga salah satu perwujudan khidmad kepada pondok pesantren Tebuireng,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz, menekankan pentingnya mengingat kembali makna resolusi jihad yang dideklarasikan oleh para ulama terdahulu. Menurut beliau, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan juga pusat perjuangan kebangsaan. “Resolusi jihad adalah simbol komitmen ulama dan santri dalam membela tanah air,” tegas Ketua PWNU Jawa Timur ini.
Dalam diskusi yang dipandu oleh Ustadz M. Rizki Syahrul Ramadhan, tiga narasumber turut mengupas tuntas relevansi resolusi jihad di era kekinian.
Dr. KH. Ahmad Roziqi menyampaikan bahwa resolusi jihad tidak boleh dipandang sebatas peristiwa sejarah, melainkan harus menjadi spirit perjuangan yang relevan. Menurutnya, santri masa kini perlu memahami jihad dalam konteks sosial, pendidikan, dan moral, yaitu berjuang menegakkan kebenaran, keadilan, dan menjaga kerukunan umat.

Senada, akademisi Prof. Masdar Hilmy, Ph.D., memberikan pandangan bahwa jihad perlu diinterpretasi ulang tidak hanya sebagai perjuangan fisik, tetapi juga jihad intelektual, ekonomi, dan budaya. Ia menekankan peran pesantren dalam mencetak generasi yang berdaya saing tinggi dan berakhlak mulia.
Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Pendidikan Diniyah dan Ma’had Aly, Dr. Mahrus El-mawa, menyoroti pentingnya penguatan moderasi beragama di lingkungan pesantren, khususnya Ma’had Aly, sebagai pencetak kader ulama. Menurutnya, pesantren adalah benteng moral bangsa yang harus terus melahirkan generasi cerdas, religius, dan cinta tanah air.
Saat diwawancarai, Ketua Panitia Dr. M. Hamsa Fauriz berharap halaqah ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pesantren memiliki peran historis dan strategis dalam menjaga keutuhan bangsa. “Santri kini dituntut bukan hanya alim dalam agama, tetapi juga mampu menghadirkan solusi atas tantangan kebangsaan dan globalisasi,” ujarnya.
Pewarta: Fatih
Editor: Sutan
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

