Kisah Pemuda yang Diusir Nabi, Tapi Diterima Allah

Kisah Pemuda yang Diusir Nabi, Tapi Diterima Allah


Sebuah ilustrasi sahabat yang sedang bertaubat kepada Allah (sumber: detikcom)

Diceritakan dalam kitab Misykatul Anwar dalam kitab Durratun Nasihin, dikatakan pada suatu hari Sahabat Umar bin Khattab menemui Nabi Muhammad sambil menangis tersedu-sedu, melihat itu Nabi bertanya alasan Sahabat Umar menangis. “Ya Rasulallah, sesungguhnya di pintu ada seorang pemuda yang tangisannya benar-benar menyusahkan hatiku.” Jawab Sahabat Umar. Lalu Nabi Muhammad memerintahkan agar membawa pemuda itu menemui Beliau. Pemuda itu masih tetap menangis ketika Umar mengajaknya masuk, Nabi pun bertanya alasan pemuda tersebut menangis, Pemuda itu menjawab, “ya Rasulullah, aku menangis karena memikirkan dosa-dosaku yang sangat banyak, sedangkan aku takut akan murka Tuhan Yang Maha Kuasa.”

Baca Juga: Taubatnya Seorang Pezina, Pencuri, dan Orang Kaya karena Mendapat Sedekah

Nabi Muhammad mulai bertanya, “apakah kamu menyekutukan Allah dengan selainNya?” Pemuda itu menjawab, “tidak,” lalu Nabi bertanya lagi, “Apakah kamu membunuh seseorang tanpa hak?” Pemuda tersebut menjawab tidak kembali. Maka Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosamu, sekalipun seluas dan sepenuh 7 lapis langit dan 7 lapis bumi.” Akan tetapi pemuda itu berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya dosa-dosaku lebih besar daripada 7 lapis langit maupun gunung-gunung yang menjulang.” Nabi Muhammad lantas bertanya, “besar manakah antara dosamu dengan Al-Arsy Allah?” Pemuda itu mantap menjawab, “dosakulah yang lebih besar.” Nabi bertanya lagi, “Besar manakah antara dosamu dan rahmat Allah?” Maka pemuda itu terdiam dan akhirnya menjawab, “Tentu Allahlah Yang Maha Besar dan Maha Agung.”

Nabi Muhammad meminta supaya pemuda itu memberitahukan kepadanya apa dosa yang telah ia perbuat hingga membuatnya menangis sedemikian parah, namun pemuda tersebut justru berucap, “aku malu kepadamu Ya Rasulullah.” Nabi Muhammad memintanya mengatakan dosanya, tapi pemuda tersebut selalu menolak.

“Jangan malu kepadaku, beritahukanlah kepadaku apa dosamu itu,” bujuk Nabi. Akhirnya pemuda tersebut luluh dan menjelaskan dosanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang penggali kubur sejak tujuh tahun lamanya. Sampai pada suatu saat, ada seorang putri dari golongan Anshar meninggal dunia, maka kubongkar kuburnya dan kukeluarkan ia dari kain kafannya. Dipenuhi nafsu setan, aku kembali padanya dan tanpa rasa malu, aku setubuhi tubuhnya yang telah suci. Lalu tiba-tiba jenazah anak perempuan itu berkata, “Tidakkah kau akan malu terhadap catatan Allah, pada hari manakala Dia kelak memancangkan Kursi-Nya untuk mengadili. Kau benar-benar telah membiarkan aku telanjang bulat di tengah-tengah tangisan orang-orang mati, dan kau jadikan aku dalam keadaan junub di hadapan Allah.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Tiga Tingkatan Taubat

Mendengar penjelasan pemuda itu, Nabi Muhammad marah dan seketika bangkit dari duduknya sambil berseru, “Hai orang yang durhaka! Enyahlah engkau dari hadapanku, tiada balasan yang lebih pantas bagimu selain neraka.” Mendengar murka Rasulullah, pemuda itu pun keluar menuju padang pasir sambil menangis dan mengaduh. Di padang pasir yang tandus itu, ia tidak makan dan minum serta tidak pula tidur selama tujuh hari tujuh malam. Sehingga habislah kekuatannya, lalu Ia jatuh dan wajahnya Ia sungkurkan ke atas tanah, bersujudlah pemuda itu dengan seraya merintih, “Tuhanku, akulah hamba-Mu yang penuh dosa dan kesalahan. Aku telah datang ke pintu Rasul-Mu berharap beliau sudi memberi syafaat kepadaku di sisi Engkau. Maka tatkala didengarnya betapa besar kesalahanku, beliau usir aku dari pintunya, dan beliau enyahkan aku dari sisinya. Hari ini, aku datang ke pintu-Mu, agar Engkau menjadi Pemberi syafaat kepadaku di sisi kekasih-Mu, karena Engkaulah Tuhan Yang Maha Rahman kepada hamba-hamba-Mu sedang harapanku hanya tinggal kepada Engkau, Ya Allah. Jika tidak maka kirimkanlah api dari sisi Engkau, dan bakarlah aku dengannya selagi di dunia-Mu, sebelum Engkau bakar aku di akhirat-Mu.”

Setelah pemuda berdoa semacam itu, datanglah Malaikat Jibril membawa salam dari Allah kepada Nabi Muhammad, lalu berkata, “Allah Ta’ala bertanya kepadamu, ‘Apakah engkau telah menciptakan hamba-hamba-Ku?’”

“Bahkan Dia-lah yang telah menciptakanku dan juga mereka,” jawab Nabi Saw.  Jibril berkata lagi: “Allah Ta’ala bertanya: Apakah engkau memberi rizki kepada mereka?”

“Bahkan Dialah Yang telah memberi rizki kepada mereka dan juga kepadaku,” jawab Nabi Saw. Jibril as. berkata: “Allah bertanya lagi: Apakah kamu yang menerima taubat mereka?”

“Bahkan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan,” jawab Nabi. Lantas Jibril berkata: “Allah Ta’ala berfirman kepadamu: ‘Telah Aku kirim kepadamu seorang di antara hamba-hamba-Ku, dan dia telah menyatakan salah satu di antara dosa-dosanya, tapi kamu justru berpaling daripadanya dengan begitu kasar, lantaran satu dosa.

Maka bagaimana jadinya keadaan orang-orang yang berdosa kelak, manakala mereka datang membawa dosa-dosa seperti gunung-gunung yang besar. Engkau adalah Rasul-Ku, aku utus engkau sebagai rahmat bagi sekalian alam, maka jadilah engkau seorang yang penyayang terhadap orang-orang yang beriman, dan pemberi syafaat kepada mereka yang berdosa, dan maafkanlah keterlanjuran hamba-Ku seungguhnya Aku benar-benar telah mengampuni dosanya.”

Baca Juga: Sekelompok Pemuda Taubat Karena Semangka

Mendengar hal itu, kemudian Rasulullah Saw mengirimkan beberapa orang sahabatnya. Pemuda itu mereka temukan, lalu mereka beri kabar gembira tentang ampunan itu dan mereka bawa pemuda itu kepada Rasulullah. Tetapi mereka dapati beliau sedang  shalat Maghrib, lalu mereka makmum kepada beliau dan meninggalkan pemuda tersebut.

Maka tatkala Rasulullah usai membaca surat Al-Fatihah, yang kemudian dilanjutkan dengan surat at-Takaatsur, pada ayat yang memiliki arti, “bermegah-megahan telah melalaikan kamu”, sampai dengan kata-kata: sampai kamu masuk kubur, maka pemuda itu menjerit keras, lalu jatuh. Dan ketika shalat telah usai, mereka mendapati pemuda itu telah tak bernyawa lagi dan telah meninggalkan dunia ini dalam keadaan telah diampuni Allah dan Rasul-Nya.



Penulis: Fadrika Hening Mangesti

Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *