
Narasi “Cinta Indonesia dari Tebuireng” adalah benang merah yang mengikat perjuangan tiga generasi utama keluarga besar KH. Hasyim Asy’ari. Perjuangan ini tidak hanya dimanifestasikan dalam medan perang dan panggung politik semata, tetapi berawal dari sebuah institusi pendidikan sederhana yang kemudian bertransformasi menjadi laboratorium peradaban bagi bangsa.
Pesantren Tebuireng, yang didirikan pada 1899 oleh KH. Hasyim Asy’ari, pada hakikatnya merupakan respons strategis terhadap tantangan sosial-moral pada masanya. Kala itu, Dusun Tebuireng, Jombang, menghadapi degradasi moral yang signifikan akibat industrialisasi pabrik gula kolonial Belanda. Upah yang diterima penduduk seringkali dihabiskan untuk membeli minuman keras, yang pada akhirnya memunculkan budaya mabuk-mabukan. KH. Hasyim Asy’ari melihat kondisi ini sebagai ancaman serius. Alih-alih merespons dengan pendekatan yang reaktif atau isolatif, beliau memilih langkah proaktif dengan mendirikan sebuah pondok pesantren sebagai benteng moral dan sosial.
Baca Juga: Estafet Perjuangan Gus Irfan Yusuf, dari Tebuireng untuk Indonesia
Pendirian Pesantren Tebuireng yang dimulai dari sebuah rumah bambu berukuran 6 x 8 meter, dengan hanya delapan santri pada awalnya menegaskan bahwa perjuangan melawan penjajah tidak hanya dilakukan melalui perlawanan bersenjata, tetapi juga melalui pembangunan karakter dan moral di tingkat akar rumput. Ini adalah visi strategis yang melampaui urusan keagamaan sempit, menjadikannya seorang aktivis sosial-pendidikan sekaligus pejuang kemerdekaan.
Artikel ini akan menganalisis secara komprehensif bagaimana visi awal KH Hasyim Asy’ari ini dilanjutkan, diadaptasi, dan dikembangkan oleh putranya, KH. Wahid Hasyim, KH Yusuf Hasyim serta cucu-cucunya, yakni KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Salahuddin Wahid (Gus Solah) dan KH. Mochamad Irfan Yusuf Hasyim (Gus Irfan). Secara kolektif, mereka menunjukkan bahwa kontribusi keluarga Hasyim Asy’ari adalah manifestasi berkelanjutan dari “Cinta Indonesia” (Hubbul Wathan) yang dimulai dari fondasi spiritual dan fisik di Pesantren Tebuireng, dilanjutkan dalam perjuangan politik dan diplomasi, dan diperkaya dengan pemikiran pluralisme dan modernisme.

KH. Hasyim Asy’ari: Fondasi Perjuangan dan Kebangsaan
Muhammad Hasyim Asy’ari, lahir pada 14 Februari 1871 di Jombang, Jawa Timur, adalah sosok yang lahir dari garis keturunan ulama dan bangsawan. Beliau merupakan keturunan kesepuluh dari Prabu Brawijaya VI atau Lembu Peteng, raja Majapahit. Ayahnya, Kiai Asy’ari, adalah pendiri Pondok Pesantren Keras, sementara kakeknya dari pihak ibu adalah Kiai Utsman, pendiri Pesantren Gedang, dan Kiai Sihah, pendiri Pesantren Tambakberas. Lingkungan keluarga yang kental dengan nilai-nilai religius dan ilmu pengetahuan ini menjadi dasar kuat bagi pendidikan beliau sejak dini.
Baca Juga: 5 Terobosan Tokoh Pesantren Tebuireng
Pada usia 20 tahun, beliau menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama di Mekkah. Di Tanah Suci, beliau berguru kepada ulama-ulama terkemuka, termasuk Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syaikh Mahfudz al-Tarmisi, seorang ahli hadits yang sangat masyhur. Dari Syaikh Mahfudz, KH Hasyim Asy’ari bahkan mendapatkan ijazah untuk mengajar kitab Shahih Bukhari, yang menegaskan otoritas keilmuan beliau di bidang hadits. Penguasaan ilmu hadits dan sanad keilmuan yang kuat ini memberikan beliau otoritas spiritual yang tidak terbantahkan di kalangan umat Islam, yang kemudian menjadi modal sosial yang sangat penting dalam perjuangan politiknya. Otoritas religius ini menjadi fondasi yang memfasilitasi peran beliau sebagai pemimpin perlawanan fisik.
Karya intelektual KH. Hasyim Asy’ari tidak terlepas dari penguasaan ilmu haditsnya. Salah satu karya terkenalnya adalah kitab Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, yang ditulis antara tahun 1920-an dan 1930-an. Kitab ini menjadi rujukan utama dan berperan sebagai filtrasi terhadap fenomena keberagamaan yang berkembang, menghadapi tantangan modernitas.
Tebuireng dan Nahdlatul Ulama: Dua Pilar Kebangsaan
Sekembalinya dari Mekkah, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng pada 3 Agustus 1899. Pendirian pesantren ini tidak berjalan mulus. Selama dua setengah tahun pertama, keberadaan pesantren ini tidak sepenuhnya diterima oleh masyarakat. Ancaman dan gangguan datang bertubi-tubi, seperti pelemparan batu, kayu, dan penusukan senjata tajam ke dinding rumah bambu beliau. Perjuangan ini menunjukkan keteguhan beliau dalam membangun institusi pendidikan sebagai benteng perlawanan. Pesantren Tebuireng kemudian berkembang pesat, dari 28 santri pada 1899 menjadi 2.000 santri pada tahun 1919.
Disamping Tebuireng, KH. Hasyim Asy’ari juga mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926, bersama ulama lainnya seperti Kiai Abdul Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri. Pendirian NU merupakan respons terhadap tantangan modernisasi dan gerakan Islam transnasional yang dianggap mengancam tradisi keislaman Nusantara. KH. Hasyim Asy’ari menjabat sebagai Rais Akbar pertama, memimpin organisasi yang aktif melestarikan ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah dan berperan sebagai pilar utama dalam penyebaran Islam melalui pendidikan dan kegiatan sosial.
Baca Juga: Mengurai Sejarah Tebuireng
Kiprah KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan dan keagamaan. Beliau juga berperan aktif dalam perjuangan kemerdekaan, yang mengantarkannya pada gelar Pahlawan Nasional. Salah satu kontribusi paling monumentalnya adalah fatwa jihad yang kemudian menjadi “Resolusi Jihad” yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini mewajibkan umat Islam untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan, yang menjadi pemicu Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.
Fatwa ini begitu efektif karena bukan hanya sekadar perintah politik, melainkan sebuah legitimasi spiritual bagi perlawanan fisik. Dengan mengubah perlawanan rakyat menjadi sebuah kewajiban keagamaan, beliau memberikan motivasi yang tak tergoyahkan dan mengkonsolidasikan kekuatan umat Islam. Perang kemerdekaan pun berubah dari sekadar perjuangan politik menjadi jihad fi sabilillah (perjuangan di jalan Allah). Tindakan ini menunjukkan pemahaman mendalam beliau terhadap psikologi dan sosiologi umat, di mana otoritas keagamaan menjadi kunci mobilisasi massa.
Penulis: Muhammad Arief Albani, Penasehat PW IKAPETE Papua
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

