Dilema Pembina Pesantren | Tebuireng Online

Dilema Pembina Pesantren | Tebuireng Online


ilustrasi santri Tebuireng sedang mengikuti pengajian kitab kuning (dok. tebuirengonline)

Pesantren sejak lama dikenal sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mendidik santri dalam bidang ilmu agama, tetapi juga membentuk akhlak, kedisiplinan, dan kemandirian. Di balik proses pendidikan itu, ada sosok penting yang sering kali tidak terlalu terlihat, yaitu para pembina. Mereka hadir bukan sekadar mengawasi kegiatan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang santri dalam menuntut ilmu. Selain itu, terdapat berbagai peran penting yang saling terkait: kiai, ustadz, hingga walisantri. Semua memiliki fungsi yang berbeda, namun satu tujuan, yaitu melahirkan generasi berilmu dan berakhlak mulia.

Di pesantren, khususnya, pembina menempati posisi strategis sebagai jembatan antara santri dan walisantri. Ia berperan langsung dalam mendidik dan membimbing santri sehari-hari, sekaligus menjadi pihak yang menyalurkan aspirasi dan harapan walisantri terhadap anak-anaknya.[1]Dengan kata lain, pembina bukan hanya dituntut untuk tegas dalam mendidik, tetapi juga dituntut mampu memahami ekspektasi atau harapan orang tua yang terkadang tidak sejalan dengan kemauan anak.

Baca Juga: Pembina dan Pengasuh Pondok Evaluasi Pelatihan Pesantren Ramah Santri

Sebagai pendidik dan pengganti orang tua di pondok pesantren, pembina wajar menuntut santri untuk disiplin dalam segala kegiatan. Baik kegiatan formal seperti: Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah/madrasah sesuai jenjang, ngaji kitab kuning bersama kiai atau ustadz dengan metode bandongan atau sorogan, tahfidz Al-Qur’an melalui setoran hafalan dan muraja’ah, pengajian rutin (tafsir, hadis, fiqih, akhlak), shalat wajib berjamaah, kegiatan ibadah sunnah (tahajjud, dhuha, tadarus, dzikir, shalawat), hingga ujian/pekan evaluasi baik di sekolah maupun pesantren. Juga kegiatan resmi pondok seperti peringatan hari besar Islam, khataman, dan wisuda.

Begitu pula dengan kegiatan nonformal seperti: muhadharah (latihan pidato/ceramah dalam bahasa Arab, Inggris, maupun Indonesia), diskusi dan musyawarah seperti bahtsul masail, organisasi santri yang melatih kepemimpinan dan tanggung jawab, kegiatan seni (hadrah, marawis, qosidah, kaligrafi), olahraga (futsal, voli, badminton, senam), prakarya dan keterampilan (menjahit, pertanian, kewirausahaan, komputer sesuai fasilitas pesantren), kerja bakti, rebana atau shalawatan di malam Jumat, serta kebersamaan sehari-hari seperti makan berjamaah,dan bercengkrama.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain itu, yang paling penting dan harus diistiqamahkan oleh santri adalah menjaga ibadah serta bersungguh-sungguh dalam belajar. Tuntutan ini sesungguhnya bukan beban, melainkan bentuk kasih sayang yang mendidik. Namun pada saat yang sama, walisantri juga menaruh harapan tinggi kepada pembina. Mereka ingin anaknya tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan moral. Inilah yang kemudian menjadi tuntutan balik bagi pembina.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, sering kali pembina berada pada posisi dilematis. Di satu sisi, ia dituntut untuk tegas kepada santri: mendisiplinkan, mendorong berprestasi, dan menjaga akhlak agar sesuai dengan nilai-nilai pesantren. Namun di sisi lain, pembina juga kerap dituntut oleh walisantri. Harapan walisantri begitu tinggi, hingga tanpa sadar mereka menuntut pembina lebih jauh untuk memperhatikan anaknya. Padahal, pembina tidak hanya fokus pada satu anak, melainkan bertanggung jawab terhadap banyak santri dengan karakter yang berbeda-beda.

Baca Juga: Memotret Pendidikan Pesantren yang Dipenuhi Canda Tawa Santri bersama Kiai

Sebagai contoh, ada santri yang sering lalai, tidak mampu mengikuti aturan pesantren, bahkan sampai berurusan dengan keamanan karena melakukan pelanggaran. Dalam kondisi seperti ini, sebagian walisantri justru menyalahkan pembina. Tidak jarang pula mereka menuntut pembina untuk memperhatikan anak secara detail, mulai dari kesehatan, kebutuhan belajar, hingga mengawasi waktu tidur dan bangunnya. Bahkan ada juga yang menuntut pembina selalu memberikan kabar atau update terkait perkembangan anak.

Karena itu, tidak jarang tuntutan walisantri membuat pembina merasa terbebani. Seolah-olah pembina diposisikan sebagai pihak yang harus menjamin keberhasilan santri sepenuhnya. Padahal, keberhasilan santri bukan hanya ditentukan oleh bimbingan pembina, melainkan juga oleh kesungguhan santri dalam belajar serta dukungan doa dan motivasi dari orang tua.[2] Pembina hanyalah pengarah, sedangkan santri tetap menjadi pelaku utama dalam perjalanan pendidikannya.

Dilema inilah yang membuat posisi pembina unik sekaligus berat. Jika ia terlalu keras menuntut santri, bisa muncul anggapan kurang bijak. Tetapi jika ia hanya memenuhi tuntutan walisantri, belum tentu santri mampu berkembang sesuai kemampuan dan prosesnya. Maka, pembina harus pandai menyeimbangkan dua arus tuntutan tersebut agar tugas mendidik tetap berjalan tanpa mengabaikan harapan orang tua.

Terlepas dari itu, pembina tidak hanya menjadi orang tua asuh di pondok pesantren. Ada tanggung jawab lain yang harus dijalankan, yaitu memastikan keberlangsungan kegiatan pesantren secara umum. Hal ini sering kali tidak dipahami oleh sebagian walisantri.

Oleh karena itu, tekanan dari walisantri yang menginginkan hasil instan sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Walisantri merasa pembina kurang maksimal, sementara pembina menilai harapan orang tua terlalu tinggi dan tidak seimbang dengan usaha santri sendiri. Situasi ini dapat menimbulkan jarak komunikasi. Padahal, jika pembina dan walisantri mampu saling memahami, proses pendidikan akan berjalan lebih harmonis: pembina tetap mendidik sesuai aturan pesantren, dan walisantri mendukung dengan doa serta kepercayaan penuh.

Baca Juga: Menumbuhkan Peduli Lingkungan Melalui Pendidikan Karakter Santri

Idealnya, tuntutan dua arah pembina kepada santri dan walisantri kepada pembina tidak dipandang sebagai beban yang saling memberatkan, melainkan saling melengkapi. Pendidikan di pesantren bukan pekerjaan satu pihak, melainkan kerja sama yang membutuhkan sinergi dari semua elemen.

Pembina memerlukan dukungan walisantri berupa doa, komunikasi yang sehat, dan kepercayaan penuh terhadap proses pendidikan di pesantren. Dukungan semacam ini akan membuat pembina lebih tenang dalam mendidik dan membersamai santri.[3]

Di sisi lain, santri juga harus menyadari bahwa tuntutan pembina bukanlah hukuman, melainkan jalan untuk membentuk karakter, menanamkan disiplin, serta mematangkan akhlak. Dengan kesadaran itu, santri akan lebih siap menghadapi proses pendidikan yang keras namun mendewasakan.[4]

Pada akhirnya, posisi pembina di pesantren memang berada di persimpangan antara menuntut santri dan dituntut walisantri. Menurut saya, keduanya wajar dan tidak bisa dipisahkan. Pembina berhak menuntut santri agar disiplin, berprestasi, dan berakhlak mulia. Namun, walisantri pun berhak menaruh harapan serta tuntutan kepada pembina sebagai bentuk tanggung jawab atas amanah yang diberikan. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan.

Baca Juga: Cara Pembina Pondok Kuasai Konsep Pesantren Well Being

Pendidikan pesantren bukan hanya kerja pembina semata, tetapi sinergi antara pembina, santri, dan walisantri. Jika ketiganya saling mendukung, maka tuntutan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan menjadi motivasi bersama untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.[5]


Penulis: Qurratul Adawiyah, Mahasantri Tebuireng
Editor: Rara Zarary


[1] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3ES, 2011).

[2] Abuddin Nata, Pendidikan dalam Perspektif Islam (Jakarta: Prenada Media, 2010), hlm. 145.

[3] Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi (Yogyakarta: LKiS, 2004), hlm. 87.

[4] Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil Islam (Beirut: Darus Salam, 2002), hlm. 212.

[5] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3ES, 2011), hlm. 203.

 

 



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *