Hidup Bermasyarakat: Sekadar Berdampingan atau Saling Menjaga?

Hidup Bermasyarakat: Sekadar Berdampingan atau Saling Menjaga?


Ilustrasi bertetangga (sumber: kibrispdr)

Ketika kita berbicara tentang rumah yang dikelilingi maling, sebenarnya kita sedang membicarakan masalah yang jauh lebih luas daripada sekadar pencurian. Ini bukan hanya soal harta yang bisa hilang sewaktu-waktu, tetapi juga tentang rasa aman, rasa percaya, dan cara hidup bermasyarakat yang kini semakin rapuh.

Banyak orang menasihati, jika menghadapi situasi semacam itu, cukup pasrah saja kepada Allah. Tetapi pertanyaannya: apakah benar pasrah berarti kita tidak melakukan apa-apa? Atau justru pasrah itu hadir setelah segala upaya dilakukan?

Dalam ajaran agama, pasrah bukan berarti menyerah. Pasrah adalah puncak dari usaha. Seseorang tidak bisa disebut tawakal kalau ia bahkan tidak mengunci pintu rumahnya, tidak menjaga barang-barangnya, atau tidak berusaha membangun lingkungan yang aman. Maka, dalam konteks “rumah dikelilingi maling,” hal utama yang perlu dipahami adalah bagaimana menyeimbangkan ikhtiar dengan tawakal.

Baca Juga: Bertetangga dengan Baik, Tanda Kesempurnaan Iman

Ikhtiar berarti menjaga diri, keluarga, bahkan mengupayakan agar tetangga juga merasa aman. Setelah semua itu dilakukan, barulah hasilnya diserahkan kepada Allah. Jika hanya berdiam diri sambil berkata “biarlah Allah yang menjaga,” padahal kita sendiri lalai berusaha, itu bukan pasrah, melainkan kelalaian.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Masalah menjadi lebih rumit ketika usaha yang dilakukan terasa sia-sia. Kita lapor kepada pihak berwenang, tetapi tidak ada tindak lanjut. Kita berharap tetangga peduli, namun mereka memilih menutup mata. Alasannya sederhana: takut terlibat masalah, malas repot, atau sudah terbiasa dengan suasana acuh tak acuh. Akhirnya, orang yang rumahnya terancam seakan-akan berjuang sendirian. Banyak yang akhirnya menyerah, bukan karena tak mau melawan, tetapi karena merasa ditinggalkan oleh lingkungannya.

Padahal, hakikat hidup bermasyarakat berakar pada rasa tanggung jawab bersama. Masyarakat bukan sekadar kumpulan individu yang tinggal di wilayah yang sama, melainkan sebuah jaringan sosial di mana setiap orang saling terhubung. Jika satu rumah kemalingan, seharusnya itu menjadi peringatan bagi semua rumah. Jika satu keluarga kehilangan rasa aman, semua keluarga seharusnya ikut terganggu. Prinsipnya sederhana: keamanan bukan urusan satu orang, melainkan kepedulian bersama.

Sayangnya, realitas yang kita hadapi jauh dari ideal. Budaya gotong royong yang dulu begitu kuat perlahan bergeser menjadi budaya individualistik. Orang lebih peduli pada pagar rumahnya sendiri ketimbang nasib orang lain. Ketika ada kasus kemalingan, alih-alih membantu, sebagian justru berkomentar, “Untung bukan rumah saya.” Akibatnya, rasa kebersamaan yang seharusnya menjadi fondasi masyarakat pun hilang. Kita hidup berdampingan, tapi seolah tidak saling mengenal.

Baca Juga: Pentingnya Memahami Hak-hak Tetangga dalam Islam

Di titik inilah kita perlu bertanya ulang: sebenarnya hidup bermasyarakat itu apa? Apakah sekadar soal alamat yang berdekatan, atau ada nilai yang lebih dalam? Jawaban yang jujur tentu: hidup bermasyarakat berarti saling menjaga. Tidak cukup hanya tinggal berdampingan, tetapi harus ada keterlibatan. Masyarakat yang sehat tidak diukur dari seberapa tinggi pagar rumah warganya, melainkan dari seberapa peduli mereka ketika ada satu orang yang tertimpa masalah.

Maka, jika rumah dikelilingi maling, respon terbaik bukan hanya pasrah, melainkan mencari jalan keluar bersama. Jika pihak berwenang tak tanggap, kita bisa membangun sistem keamanan kolektif. Ronda malam, misalnya, yang dulu begitu akrab di kampung-kampung, kini banyak ditinggalkan. Padahal ronda bukan hanya soal keamanan, melainkan juga soal kebersamaan. Saat orang-orang berkeliling kampung di malam hari, mereka bukan hanya mencegah maling, tetapi juga mempererat ikatan sosial—saling menyapa, mengobrol, dan menumbuhkan rasa saling percaya.

Jika tetangga acuh, jangan lantas kita ikut acuh. Justru kita yang perlu memulai percakapan, membangun kesadaran, dan mengingatkan bahwa ancaman tidak pernah memilih korban. Hari ini mungkin rumah orang lain, besok bisa saja rumah kita sendiri. Jika kejahatan dibiarkan tanpa perlawanan sosial, lama-lama semua orang akan kehilangan rasa aman. Karena itu, solidaritas adalah benteng terakhir yang bisa menjaga kekuatan masyarakat.

Namun, membangun solidaritas tentu tidak mudah. Banyak orang sudah sering kecewa sehingga enggan percaya lagi. Ada pula yang merasa lelah karena berjuang sendirian. Tetapi inilah tantangan zaman: bagaimana menghidupkan kembali nilai kepedulian di tengah masyarakat yang semakin sibuk dengan urusannya masing-masing. Kita bisa memulainya dari hal kecil, saling menyapa, saling mengingatkan, atau saling menjaga barang saat ada kegiatan bersama. Hal-hal sederhana semacam ini, jika terus dirawat, perlahan akan menumbuhkan kembali rasa kebersamaan.

Baca Juga: Bisik-Bisik Tetangga, Hati-hati Bisa Jadi Dosa!

Pada akhirnya, pasrah kepada Allah tetaplah jalan hidup yang benar. Tetapi pasrah harus dimaknai sebagai puncak dari usaha. Kita tidak bisa sekadar menunggu pertolongan tanpa pernah berusaha menegakkan keadilan dan keamanan. Hidup bermasyarakat berarti hidup dalam ikatan tanggung jawab. Jika satu rumah terancam, semua rumah seharusnya merasa terancam. Jika satu keluarga kehilangan rasa aman, semua keluarga seharusnya ikut prihatin.

Sebuah masyarakat baru bisa disebut sehat ketika setiap orang merasa bahwa masalah tetangga adalah masalahnya juga, bahwa keamanan bersama adalah tanggung jawab bersama, dan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa benar-benar hidup sendirian. Tanpa kepedulian, kita memang masih bisa disebut “masyarakat,” tapi hanya dalam arti geografis, bukan dalam arti sosial. Dan itu jelas bukan yang kita butuhkan.

Maka, pertanyaannya kembali kepada kita semua, maukah kita tetap hidup dalam masyarakat yang hanya sekadar berdampingan, atau kita ingin membangun masyarakat yang benar-benar saling menjaga?



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *